MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 45 - MULAI BERUBAH


__ADS_3

Andra dan Lala kink sedang berada di meja makan. Tak ada nenek di sana. Sepertinya sengaja membiarkan keduanya.


Lala melirik sekilas Andra. Ia jadi bingung, mau mengambilkan makanan atau tidak.


Karena tidak mau Andra menolaknya lagi. Lala mengambil piring dan mengisi dengan lauk dan sayur. Lalu duduk akan melahap. Ia mengambil untuk dirinya sendiri.


"Hmm." Andra berdehem membuat Lala menoleh.


Lala tidak jadi menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Ia melihat Andra yang juga melihatnya.


"Apa aku harus ambil sendiri?" tanya Andra dengan nada dingin.


"Memangnya mau kalau Lala yang ambilkan?" tanya Lala hati-hati.


Deg


Andra merasa nada bicara Lala begitu takut dengannya.


"Ini kan rumahmu." Jawab Andra yang tidak mau banyak berpikir.


Lala pun bangkit dan mengambilkan makanan untuk Andra.


Andra menerima dan melahap makanan itu.


Lala pun melahap makanannya sambil melirik Andra. Ia jadi tersenyum samar.


Setelah selesai makan dengan saling diam. Lala membereskan meja makan. Meletakkan piring kotor di wastafel.


"Lala mau kembali ke kamar." Ucap Lala memberitahu. Ia tidak tahu mau berbuat apa.


"Bereskan barangmu!" ucap Andra dengan nada memerintah.


Lala terlihat bingung. Ia tidak mengerti maksudnya.


"Kembalilah ke rumah." Ucap Andra kembali.


"Ta-tapi, ke-kenapa?" tanya Lala dengan gugup, tapi ingin tahu alasannya.


"Karena suamimu tinggal di sana." Ucap Andra kembali sambil membuang wajahnya. Ia merasa aneh mengatakan itu.


Deg


'Suamimu...' Lala mengulum senyum mendengar perkataan Andra. Apa itu suatu pengakuan?


"Bagaimana pernikahan ini?" tanya Lala berusaha menormalkan wajahnya. Ia harus tahu maksud dan tujuan Andra memintanya ikut.


"Kita... kita jalani saja dulu." Ucap Andra yang juga tidak tahu bagaimana kedepannya.

__ADS_1


Lala agak kecewa dengan perkataan Andra. Kita jalani saja dulu, ucapan yang tidak ada komitmen sama sekali.


"Ayo!" ucap Andra kembali. Ia pun mencari nenek.


"Nek, aku bawa istriku. Maaf selama ini, aku dan Lala sudah merepotkan kalian." Andra meminta maaf pada wanita tua itu.


Nyes...


Hati Lala meleleh, mendengar Andra mengatakan istriku. Lala diakui sebagai istrinya.


'Mas Andra... Ihhh, gemas deh!' Lala jadi baperkan.


"Baiklah. Tolong jaga cucu nenek ini ya. Dia banyak kekurangan, kamu maklumi ya." Pesan nenek pada cucu menantunya itu.


Andra mengangguk pelan. Lala bukan banyak kekurangan. Memang tidak ada yang bisa dilakukannya.


Tak lama, Lala sudah berada di rumah sebelah.


"Lala..." Ucap Mama yang senang melihat Andra bersama Lala. Putranya menjemput istrinya.


"Mama..." Lala memeluk wanita itu.


Mama melihat Andra yang berjalan ke kamarnya.


"Lala, apa yang terjadi?" tanya Mama ingin tahu.


Mama mengangguk mengerti. Putranya seperti terpaksa melakukannya. Tapi melihat wajah bahagia Lala, ia tidak sampai hati mengatakan sejujurnya.


Lala tampak sangat bahagia dengan pengakuan Andra. Istriku, Andra sudah mengakuinya sebagai istrinya.


"Lala... maafkan sifat Andra ya selama ini. Semoga ke depannya hubungan kalian makin dekat." Harap Mama.


"Terima kasih, Ma." Lala juga berharap begitu.


Kini Lala sudah berada di kamar Andra. Ia melihat Andra yang sedang duduk di sofa sambil fokus pada ponselnya. Lala pun memilih duduk di pinggir tempat tidur. Ia merasa gugup dan canggung.


"Kamu mau tinggal di apartemen atau rumah komplek?" tanya Andra yang matanya masih tertuju pada ponsel.


"A-apa?" Lala kaget.


Andra melihat ke arah Lala. "Kita tidak mungkin tinggal di sini terus." ucap Andra. Jika ada masalah, orang tua mereka akan tahu.


"I-itu... terserah Mas Andra saja." Lala akan ikut saja ke mana pun Andra membawanya.


"Ke kuburan mau?" tanya Andra dengan sorot mata tajam.


"A-apa? Ti-tidak mau!" tolak Lala. "Di rumah komplek saja." Lala pun memilijlh.

__ADS_1


Lala sudah biasa tinggal di lingkungan rumah komplek.


Andra mengangguk dan kembali menscrol ponselnya.


"Mau rumah berapa kamar? 2 tingkat 4 kamar. 3 tingkat 5 kamar." Andra memberi pilihan.


"2 kamar yang tidak bertingkat." Lala ingin rumah yang tidak terlalu besar.


"2 kamar? Kenapa dengan yang 5 kamar?" tanya Andra ingin tahu.


"Lala takut, Mas." Jawab Lala. Ia memang takut jika rumahnya terlalu besar, jika mereka berdua saja yang tinggal di rumah itu.


Andra mengangguk lemah. "Apa yang ini?" tanya Andra menyuruh Lala mendekat.


Lala pun berjalan menghampiri Andra.


"Duduk sini!" Andra menyuruh Lala duduk di sampingnya.


Dengan canggung Lala duduk di samping Andra, tapi berjarak.


Andra menyerahkan ponselnya dan menyuruh Lala memilih salah satu rumah yang diinginkannya.


Lala melihat-lihat rumah minimalis itu. Dan Andra memperhatikan Lala.


Glek


Pandangannya tertuju pada bibir kemerahan itu.


'Andra... apa yang kau pikirkan?!' Andra meruntuki diri sambil membuang pandangannya. Ia mulai merasa resah menatap Lala.


"Mas, yang ini saja. Rumahnya bagus." Lala menunjukkan pilihannya.


"Baiklah." Andra melihat pilihan Lala. Ia pun bangkit dan menelepon seseorang.


Andra menghubungi agen rumah tersebut. Ia sengaja menjauh dari Lala.


'Mimpi apa Lala semalam?' batin Lala seperti mendapat durian runtuh. Sikap Ansra sedikit mulai berubah padanya.


'Ihh... Mas Andra!' Lala senyum-senyum sendiri sambil meremas tangannya.


Lala tidak sadar ada sepasang mata yang memperhatikan tingkahnya. Andra yang tersenyum samar.


'Dia kenapa? Dasar aneh!'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2