
"Mas Andra sudah pulang?" tanya Lala senang melihat suaminya. Ia sedang menonton tv.
Andra tidak menjawab dan memilih terus berjalan menuju kamarnya.
Bruak
Lala memegangi dadanya. Suara pintu itu mengagetkannya.
'Mas Andra kenapa sih?' Lala jadi bingung sendiri. Ia pun mematikan tv dan pergi ke dapur.
Lala mengambil cangkir, lalu gula dan teh. Ia ingin menghidangkan Andra secangkir teh hangat dan cemilan.
Saran Mama Leni, saat suami pulang. Kita sebagai istri harus menyambutnya. Sedikit mengobrol sambil minum teh. Agar ada komunikasi.
Lala senyum-senyum. Ia sudah membayangkan Andra akan terharu dengan perhatiannya.
"Mas Andra..." ucap Lala masuk ke kamar sambil membawa nampan berisi teh dan cemilan.
Lala meletakkan nampan di meja nakas. Ia melihat Andra yang berbaring dan bantal menutup wajahnya.
"Mas Andra, bisa pengap loh!" Lala meraih bantal itu. Suaminya bisa tidak bernafas jika seperti itu.
"Argh!" ucap Andra menahan bantal itu.
"Mas Andra, Lala buat teh loh. Manis seperti orang yang buat." Ucap Lala kembali.
Andra tak merespon, masih sama dengan posisi semula.
Lala pun menarik bantal dan membuangnya asal.
"Lala!!!" ucap Andra kesal. Ia bangun dan menatap tajam wanita itu.
"Mas Andra kenapa?" tanya Lala mewek melihat suaminya bermata sembab. Andra pasti menangis.
"Bukan urusanmu!" Andra menepis tangan Lala. Lalu ia mengusap sudut matanya itu.
Lala pun memeluk Andra.
"Apaan sih kamu?" Andra berusaha melepaskan pelukan Lala.
Tapi bukannya terlepas, Lala malah makin mengeratkannya.
"Mas Andra, jangan sedih. Ada Lala di sini. Lala akan selalu ada di sisimu." Ucap Lala sambil mengusap punggung lebar dengan tangan mungilnya.
Andra mendadak diam. Entah kenapa perlakuan Lala, membuatnya terasa nyaman. Tangan mungil itu seakan membuang beban di punggungnya.
"Sudah!" Lala akan melepaskan tangannya.
"Kamu jangan sembarangan meluk-meluk begitu!" ucap Andra dengan nada marah. Meski ia tadi sempat merasa nyaman, tapi tetap saja Lala itu tidak sopan.
"Lala kan-"
"Sudah diamlah!!!" sela Andra memarahinya.
"Itu tehnya. Nanti dingin." Tunjuk Lala pada teh di atas nakas.
"Hmm..." jawab Andra, lalu memilih berbaring kembali.
"Oh iya, Mas Andra mau makan apa?" tanya Lala dengan nada manja.
__ADS_1
Andra mendengus. "Memang kamu bisa masak? menghidupkan kompor saja belum tamat." Cibirnya kembali.
"Lala sudah bisa loh." Ucapnya. Ia sudah latihan dengan Mama.
"Bentar ya, Mas. Biar Lala masak dulu." Ucap Lala. Ia akan memprakteknya ilmu yang telah diajarkan mertuanya itu.
Lala akan berlalu pergi, tapi ia kembali menghampiri Andra.
Cup
Lala mendaratkan satu kecupan tiba-tiba di pipi Andra yang sedang berbaring.
"Aku mencintaimu, suamiku!" Lala menyengir. Setelah itu ia berlari seperti seorang pencuri.
"Lala!!!" Andra mengelap pipinya.
Lala berlari ke dapur sambil tersenyum-senyum. Biar saja Andra marah padanya. Ia akan mengambil kesempatan dalam kesempitan.
'Mas Andra kan suami Lala. Mana mungkin berdosa mencium suami sendiri!' Lala meyakini hatinya. Jika tindakannya tidak salah.
Lala kini berada di dapur. Ia memecahkan telur dan meletakkan di mangkuk. Lalu mulai menggorengnya.
Saran Mama, jika tidak bisa langsung menceplok telur di wajan. Letakkan saja di mangkuk, baru setelah itu menggorenglah.
"Wah... Mama memang jenius!" gumam Lala berdecak kagum. Dengan cara seperti sangat mudah untuk membuat telur mata sapi.
"Ok, jadi!!!" Lala bersorak bahagia. Ia pun meraih piring dan mengangkat telur mata sapi tersebut. Lalu mematikan kompor.
Lala lalu mengambil piring dan mengisi nasi. Ia pun meletakkan telur mata sapi di atasnya. Dengan menggunakan saus, ia membuat bentuk hati.
'Owgh... So sweet!' Lala bahagia sendiri. Andra pasti klepek-klepek dengannya.
"Enak ya, Mas?"
"Uhuk..." Andra tersentak kaget. Lala tiba-tiba muncul begitu saja.
"Apa nggak bisa mengetuk pintu?"
Lala mengangguk. "Baiklah, biar Lala ulang!"
"Nggak usah!" Andra menggeleng. Kenapa pula ada adegan ulang.
"Mas, silahkan makan." Lala menyodorkan makanannya.
Andra terdiam sesaat. Wanita itu memberinya nasi putih dengan telur ceplok ditambah saus.
Bukannya seharusnya ada sayur atau menu yang lainnya.
"Kamu suruh aku makan itu?" tanya Andra menunjuk makanan itu. Makanan ala anak kost di akhir bulan.
"Ma-maaf, Mas. Lala masih belajar sampai itu saja. Nanti Lala janji akan belajar memasak lagi. Jadi bisa menyiapkan Mas Andra, masakan 4 sehat 5 sempoa... Maksudnya sempurna!" janji Lala dengan senyum lebar.
"Ini dimakan, Mas. Lala buat pakai cinta loh." Timpal Lala kembali. Ia akan berusaha menggetarkan hati suaminya.
"Aku tidak lapar!" tolak Andra. Ia takut memakan masakan Lala. Sakit perut pula. Tah bagaimana Lala memasak itu.
Andra membayangkan Lala menggoreng telur, lalu Lala membalikkan telurnya. Karena terlalu penuh semangat, telur yang digoreng itu terbang dan jatuh di lantai.
Lalu Lala buru-buru memungutinya. Dan mengatakan...
__ADS_1
'Belum lima menit kok...'
Andra merasa jijik. Pasti telurnya itu kotor.
"Ya sudah, Lala taruh di sini ya. Nanti Mas Andra makan ya. Lala mau mandi dulu." Lala meletakkan di atas meja, lalu ia berlari keluar. Dan tak lama masuk kembali.
"Ditutup biar nggak dihinggapi lalat!" ucap Lala sambil meletakkan penutup di atas piring.
Andra hanya bisa menggeleng. Terserah wanita itulah.
Selesai mandi, Lala sudah berpakaian tidur. Ia sudah mengambil pakaian di rumahnya, jadi tidak memakai pakaian Andra lagi.
"Tanganmu sudah sembuh?" tanya Andra. Lala tampak aktif.
"Iya, Om. Sudah enakkan." Lala menggoyangkan tangannya.
"Oh iya, Om. Kita kan malam ini mau menginap di rumah Lala." Ucap Lala mengingatkan.
Andra baru ingat.
"Ya sudah, ayo!" ajak Andra sambil bangkit.
Mendengar itu membuat Lala jadi semangat. Tumben Andra langsung setuju saja.
Tak lama..
"Papa..." Lala memeluk sang papa begitu masuk rumah. Ia sangat merindukan pria itu.
"Lala... Kamu sudah makan?"
Lala mengangguk. "Sudah. Papa sudah makan?"
Papa juga mengangguk.
Mereka pun berkumpul di ruang tamu. Sekedar mengobrol sejenak. Dan Andra menjawab seadanya dan kebanyakan mengangguknya.
"Kalian menginap berapa lama?" tanya Ayaz melihat Lala lalu ke arah menantu dadakannya itu.
"Malam ini saja, Pa. Besok kami kembali ke rumah sana lagi." Ucap Lala memberitahu.
"Cuma semalam saja?" Ayaz merasa sedih akan berpisah dengan putrinya. Meskipun jarak rumah mereka tidak terlalu jauh, tapi tidak mungkin Ayaz setiap hari mendatangi putrinya.
"Begini, Pa. Aku dan Lala akan tinggal di rumah Mama Leni." Ucap Andra kembali. Ia merasa tertekan tinggal di rumah yang ia dan Ana pilih dulu.
Seperti Ana selalu membayanginya. Tapi hanya bayangan saja.
'Mas Andra!!!' Lala tersenyum simpul. Andra mulai pengertian. Sengaja meminta tetap tinggal di rumah Mamanya, agar Lala tetap bisa bertemu keluarganya.
Begitulah tanggapan Lala tentang suaminya itu.
"Nggak masalah!" Ayaz mengangguk setuju. Dengan begitu, ia akan setiap hari bertemu putrinya.
"Terima kasih, Mas." Ucap Lala sambil tersenyum.
"Hah?" Andra bingung. Lala berterima kasih untuk apa?
.
.
__ADS_1
.