MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 61 - KUNJUNGAN


__ADS_3

"... Aku tidak akan meninggalkan Lala. Aku ingin bersamanya, Pa. Kami akan menjalani kehidupan pernikahan dengan semestinya." Jelas Andra menjawab pertanyaan Papanya Lala.


Papa Ayaz hanya mampu menghela nafas. Lala dan Andra sudah menikah. Hal wajar jika mereka melakukan hal itu.


Tapi, yang Ayaz takutkan adalah perasaan Andra. Sudah yakin jika Lala pasti akan memakai perasaan. Bagaimana dengan Andra? Apa menganggap Lala hanya pelampiasan hasratnya?


"Papa hanya bisa mendoakan agar rumah tangga kalian bahagia." Ayaz akan mengalah dan meyakini komitmen menantunya itu.


"Tapi, ingat Dra. Jika kamu menyakiti Lala. Papa tidak akan segan-segan memisahkan kalian." Ancam Ayaz. Ia tidak mau putrinya terus menderita.


"Pa, aku minta maaf soal sikapku yang lalu pada Lala. Aku sangat menyesalinya. Dan sekarang aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin hidup bersama putri Papa. Jadi mohon restui aku." Jelas Andra menegaskan dan memohon. Ia benar-benar yakin dengan perkataannya.


Ayaz mengangguk dan akan mengawasi menantunya itu. Ia tetap akan melindungi putrinya.


Sementara Lala berdiri di belakang tembok. Menguping pembicaraan keduanya.


Hati Lala sangat bahagia mendengar komitmen Andra. Bukan hanya padanya saja mengatakan hal tersebut. Bahkan pada papanya, Andra mengatakan hal yang sama persis.


'Mas Andra... Ihhh... makin cinta Lala.' batin Lala yang sudah berbunga-bunga.


Lala percaya bahkan sangat percaya dengan segala perkataan Andra. Pria itu telah memilihnya.


"Lala... Bawa teh." Ucapnya membawa nampan berisi teh dan cemilan. Ia letakkan di atas meja. Lalu Lala pun ikut bergabung bersama mereka.


Tak ada pembahasan tentang rumah tangga mereka. Andra dan Papanya sibuk membahas pekerjaan. Dan juga membahas masa lalu Lala yang sangat manja juga.


Lala jadi berasumsi, mungkin kedua pria ini tak mau ia jadi kepikiran.


Setelah mengobrol Ayaz pun berpamitan. Ia memeluk sang putri dengan erat. Sedikit merasa tenang. Putrinya baik-baik saja. Andra sudah mulai berubah dan membuka hati.


"Papa hati-hati di jalan. Kirim salam sama nenek, Pa." Ucap Lala menatap Papanya sendu. Ia sudah menikah dan ikut suaminya. Dan kini sesekali bertemu dengan Papanya.


"Papa, nanti Lala sama Mas Andra akan sering-sering ke rumah." Ucap Lala menghibur papanya.


"Benar, Pa. Kami akan sering ke sana." Timpal Andra juga. Mereka pasti akan sering mengunjungi keluarga Lala dan keluarganya juga.


Ayaz mengangguk pelan. "Lala, nurut sama suami ya."


Lala mengangguk dengan saran papanya.


"Dan Andra, Papa titip Lala ya." Ayaz mencengkam bahu menantunya. Ia sangat berharap Andra bisa menjaga putrinya.

__ADS_1


"Siap, Pa." Andra mengangguk yakin.


Andra dan Lala mengantar Papa Ayaz sampai naik ke mobil. Dan setelah mobil itu tidak kelihatan lagi, mereka pun masuk ke dalam rumah.


"Mas, Lala minta maaf. Tadi Lala sempat bingung, mau menyajikan Papa atau Mas Andra duluan." Ucap Lala. Jika saja Andra tidak memberitahu, Lala pasti akan diam saja.


Andra mengelus kepala Lala. "Lala, saat kita sedang bersama orang tua. Kamu harus menyajikan mereka terlebih dahulu." Jelas Andra agar Lala mengerti.


"Begitu ya?" tanya Lala memastikan.


"Iya, sayang. Kamu kan menyajikan mereka hanya sekali-kali. Setelah itu kamu akan bersamaku full 24 jam non stop." Jelas Andra kembali.


"Baiklah, Mas. Lala mengerti." Lala mengangguk. Setelah ini dia tidak akan bingung lagi. Andra memang pengertian.


"Oh iya, Mas." Ucap Lala. Tangan Andra menepikan rambut yang menutupi matanya.


"Kenapa?" tanya Andra masih memandangi istrinya itu.


"Jam berapa kita jenguki Ana?" tanya Lala. Mereka berencana akan menjenguk Ana yang sedang berada di rumah sakit.


"Sore saja ya." Jawab Andra dan diangguki Lala cepat.


Ting tong...


"Biar aku buka." Ucap Andra. Sebelum membuka pintu, Andra menkecup bibir Lala sejenak. Lalu pergi untuk membuka pintu.


'Mas Andra seperti pencuri..' Lala senyum-senyum jadinya.


Andra membuka pintu dan ternyata yang datang kedua orang tuanya.


"Mana Lala?" tanya Mama Leni langsung masuk ke dalam.


Andra mendengus. Bukannya seharusnya Mama bertanya kabarnya terlebih dahulu. Ini malah melewatinya begitu saja.


"Mama!" Melihat mertuanya, Lala berlari dan memeluknya.


"Apa kabarnya putri Mama ini?" tanya Mama.


"Lala sehat, Ma. Mama apa kabar?" Lala bertanya kembali.


"Mama juga sehat dong."

__ADS_1


"Mama pasti haus. Lala akan buatkan minuman. Mama duduk dulu ya." Ucap Lala membawa Mama duduk di ruang tamu.


"Mama mau bantui kamu." Mama malah mengikuti Lala ke dapur.


Andra menggeleng. Sepertinya anak kandung Mama itu Lala, bukan dirinya.


"Bagus rumahmu ya, Dra." puji Papa menepuk bahu sang putra. Walau rumah ini tidak besar, tapi terasa nyaman.


"Lala yang pilih, Pa." Andra pun membawa Papanya masuk dan mengobrol di ruang tamu. "Lala nggak mau rumahnya terlalu besar."


Sementara di dapur. Lala sibuk membuatkan teh.


"Papa Ayaz sudah datang ya?" tanya Mama.


"Iya, Ma. Baru saja pulang. Papa tadi pagi datang."Jelas lala.


"Pantaslah. Tadi kami ke rumah, kata nenek sudah pergi duluan." Ucap Mama.


"Lala, apa Andra baik sama kamu?" tanya Mama ingin tahu. Ia tak ingin Lala makan hati.


"Mas Andra sangat baik, Ma." Jawab Lala dengan wajah yang mendadak merona.


"Kalian baik-baik ya berdua. Dalam berumah tangga harus saling terbuka dan menghargai..." Mama pun menasehati Lala panjang lebar. Ia sangat tidak mau Andra dan Lala berpisah.


Lala mengangguk mengerti. Ia dan Andra sedang proses menjalani kehidupan rumah tangga, seperti orang lain pada umumnya. Pernikahan mereka buka lagi hanya karena status. Tapi pernikahan yang sesungguhnya.


"Oh iya, Lala. Apa kamu sudah hamil?" tanya Mama sambil tersenyum. Ia tak sabar menggendong cucu.


Mendengar pertanyaan itu Lala tersedak. Ia jadi malu dan canggung.


"Nan-nanti akan Lala beritahu, Ma. Ji-jika Lala sudah hamil." Lala menjawab sambil menundukkan kepala.


Mama jadi gemas melihat menantunya yang sekarang agak pemalu.


"Lala, hal seperti itu wajar bagi pasangan yang sudah menikah. Kamu tidak perlu malu, kalau ada yang bertanya begitu." Mama menjelaskan agar Lala terbiasa dengan pertanyaan itu.


Kepala Lala mengangguk mengerti.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2