MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 51 - MAKIN MENGGEMASKAN


__ADS_3

Lala sangat senang. Ia dan Andra saat ini berada di pusat perbelanjaan.


Andra membawanya ke tempat itu untuk berbelanja kebutuhan dapur.


"Kalau nanti menurut kamu masaknya sulit, nggak usah dimasak saja." Ucap Andra sambil mendorong troli. Ia tahu Lala tidak bisa memasak, tapi ingin belajar.


"Baik, Mas." Lala mengangguk cepat. Sikap Andra benar-benar sudah berubah padanya.


"Apa lagi disitu?" tanya Andra. Tadi ia meminta pada Mamanya untuk mengirimkan apa-apa saja kebutuhan dapur yang harus dibeli dan Mama mengirimkan semua ke ponselnya.


Andra juga meminta resep masakan ringan dan nggak ribet memasaknya. Biar Lala tidak kesulitan membuatnya.


"Bawang merah, bawang putih, cabe, tomat..." Lala membacakan bahan-bahan tersebut.


"Ini cabe merah, yang ini rawit, ini cabe hijau, bawang merah..." Andra memberitahu sambil memasukkan bahan tersebut ke dalam troli.


Lala mengangguk pelan. Ia akan mengingat semua itu.


"Pelan-pelan saja." Andra jadi mengelus kepala Lala. Wanita itu sangat serius sekali.


Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai rumah. Andra turun dari mobil dan membawa bungkusan-bungkusan belanjaan mereka. Lala pun membantu ikut membawa ke dalam rumah.


Andra dengan cekatan meletakkan bahan-bahan. Dan Lala memperhatikan.


"Aku pernah tinggal sendiri di luar negeri, sebelum Papa dan Mama menyusul." Andra menjelaskan singkat. Makanya ia biasa melakukan itu.


Lala mengangguk kagum. Suaminya serba bisa.


"Begini cara memasak nasi." Ucap Andra memberi contoh.


Lala memperhatikan semua. Mulai dari takaran beras, cara mencuci, takaran air hingga menggunakan rice cooker.


"Karena kita cuma berdua, nggak usah masak nasi banyak-banyak. Nanti mubajir." Andra mengingatkan, agar Lala memasak secukupnya mereka saja.


"Sekarang kita masak untuk makan malam." Ucap Andra. Ia akan mengajari Lala memasak yang dia bisa. Ia juga menyuruh Lala memotong-motongnya bahan.


Lala melihat Andra yang masak. Memasukkan bahan-bahan dan mengaduknya. Lalu memberikan penambah rasa.


"Lala... Coba kamu rasa." Andra mengambil sesendok, ia meniup terlebih dahulu lalu menyuapinya. Lidah Lala bisa melepuh jika panas-panas.


Lala menerima suapan itu. "Hmm... enak, Mas."


"Ayo, kita makan." Andra pun menyalin masakan ke piring.


Tak lama Andra dan Lala pun makan bersama.


Lala sangat menyukai masakan Andra. Sangat lezat sekali. Ia benar-benar salut, suaminya memang serba bisa. Ia saja tidak bisa memasak itu.


Setelah selesai makan, Lala akan mencuci piring. Tapi Andra yang malah mencucinya.


"Mas, biar Lala saja." Lala merasa tidak enak. Sudah Andra yang masak, masa mencuci piring juga.


"Sudah santai saja." Andra tidam bermasalah.


Lala yang tidak enak hati pun memilih membilas piring dan meletakkan di raknya. Mereka pun saling bekerja sama dalam cucian piring itu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


Ke esokan harinya. Lala bangun karena suara alarmnya. Ia memaksa untuk bangun, meski matanya sangat berat sekali.


"Selamat pagi cintaku..." sapa Lala mendaratkan kecupan di bibir suaminya yang masih tertidur.


Lala berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka. Lalu ia pun ke dapur.


Lala meraih ponsel dan membaca dengan fokus satu resep.


"Oh begitu..." Lala mengangguk paham.


Lala tampak sibuk menyiapkan sarapan. Sedikit kesusahan saat memotong bawang, air matanya berlinang. Tapi tetap harus menyelesaikan misinya.


Lala juga kesulitan saat mengaduk nasi goreng, agar menyatu dengan bumbunya. Keringatnya sampai bercucuran.


"Lumayan." Ucap Lala setelah mencicipi sedikit. Nasi gorengnya ada rasa.


Lala kembali mengaduk, karena api terlalu besar nasi gorengnya mulai gosong.


"Aduh aduh... Kok gosong!" Lala jadi bingung sendiri. Nasi gorengnya makin diaduk makin gosong.


Berusaha tenang, Lala lalu mematikan kompor. Dan ia bernafas lega. Nasi gorengnya bisa terselamatkan.


Dengan senyum mengambang, Lala menyalin ke piring. Memilih yang tidak kena gosong.


Sementara Andra menggeleng melihat apa yang dilakukan Lala. Ia sudah cukup lama berdiri, mengawasi istrinya itu.


'Dia sudah berusaha!' Andra cukup salut dengan Lala.


"Nanti. Aku mandi dulu ya."


"Mas, mau kerja ya?" tanya Lala sambil menutup piring dengan tudung saji. Andra akan makan sebentar lagi.


"Iya." Angguk Andra.


Lala pun mengejar Andra. Ia memeluk lengan pria itu.


"Boleh Lala siapin pakaian Mas Andra?" tanya Lala meminta izin.


"Boleh." Jawab Andra.


Lala pun senyum. Mereka bersama-sama berjalan ke kamar.


Andra kini sedang mandi dan Lala sibuk memilih pakaian untuk Andra pakai.


Lala mengambil satu setelan yang menurutnya cocok. Lengkap dengan dasinya.


Lala segera membuang wajah saat Andra keluar dari kamar mandi. Hanya terlilit handuk saja.


"Mana bajuku?" tanya Andra.


"I-ini." Lala memberikan pada Andra dan kembali membuang wajahnya.


"Lala nunggu di luar ya, Mas." Lala akan melangkahkan kakinya. Ia akan kabur dari kamar.

__ADS_1


"Di sini saja!" pinta Andra yang membuat Lala tidak jadi melangkah.


Andra memakai pakaiannya sambil melihat Lala yang tidak melihat ke arahnya.


"Lala, pasangkan dasiku!" pinta Andra.


Lala mengangguk dan ia mulai memasangkan dasi sang suami.


"Sudah!" ucap Lala telah memasangkannya.


Andra cukup takjub, Lala melakukannya begitu cepat.


"Lala sering memasangkan dasinya Papa." Jelas Lala memberitahu. Wajah Andra penuh dengan pertanyaan.


Andra mengangguk, pantas saja Lala begitu mahir.


"Mas, ayo kita sarapan!" ajak Lala. Nasi gorengnya kemungkinan sudah dingin.


"Nanti, setelah aku minum susu." Ucap Andra.


"Lala buat teh, Mas. Biar Lala buatkan susu." Lala masih berpikiran positif.


Andra pun menahan tangan Lala dan ia mengendong tubuh sang istri. Mendudukkannya di meja nakas.


"Untuk apa buat lagi, ini sudah ada." Ucap Andra seraya membuka kancing baju Lala.


Lala baru mengerti, ternyata susu itu maksudnya.


Tak lama, tubuh Lala merasa meriang. Ia pun mengelus pelan kepala Andra yang berada di da-danya. Pria itu sedang mengisi energi.


Setelah mengisi energi dan sarapan, Andra pun akan berangkat ke kantor. Lala mengantarnya sampai depan rumah.


"Aku pergi." Pamit Andra mengulurkan tangan dan Lala mencium punggung tangan itu.


Andra lalu menkecup lama kening Lala.


"Hati-hati di rumah. Kalau ada tamu yang tidak dikenal, jangan buka pintu." Andra mengingatkan.


"Siap, suaminya Lala." Jawab Lala patuh, sambil meletakkan tangannya dikening seolah memberi hormat.


Andra jadi geram dan menggacak rambut Lala.


"Mas Andra, mau makan malam apa?" tanya Lala. Mungkin ada yang ingin Andra makan, ia akan belajar membuatnya.


"Apa yang kamu bisa saja!" Andra tidak akan mempersulit sang istri.


"Ya, sudah. Nanti Lala masakan sesuatu."


"Aku pergi!" Andra pun naik ke mobil. Ia tersenyum melihat Lala yang terus melambaikan tangan.


'Lala-Lala... makin lama kamu makin menggemaskan!'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2