
Andra tersenyum saat Lala menyajikan sarapan. Kini istrinya sudah ada kemajuan. Walau masih seputaran telur, Lala kini bisa membuat telur dadar.
"Sayang, lain kali kalau dadar telur minyaknya tidak perlu banyak-banyak." Ucap Andra memberitahu. Lagi-lagi Lala masak terlalu berminyak.
'Sayang?' hati Lala bahagia mendengar kata itu. Andra memanggilnya sayang.
"I-iya, Mas." Jawab Lala jadi gugup.
Andra makan dengan lahap, juga menambahkan saos agar terasa pedas.
Sambil makan, Andra bergelut dengan pikirannya. Itu perihal tentang Ana yang tiba-tiba mengirimnya pesan.
Andra baru memulai dengan Lala. Merasa bingung mau mengatakan tentang pesan itu atau tidak.
"Enak, Mas?" tanya Lala memastikan. Andra makan sambil melamun. Mungkin saja telur dadarnya tidak enak.
"Enak." Andra mengelus kepala Lala.
Andra akan merahasiakannya saja. Ia akan menghapus pesan itu dan tidak perlu membalasnya. Tak mau Lala nanti jadi sedih dan kepikiran.
Setelah sarapan, Andra pamit ke kantor. Lala menyalami suaminya dan Andra menkecup kening dan kedua pipi Lala.
Hal itu sudah membuat pipi Lala merah merona. Ia malu bercampur bahagia.
Lala memandangi wajah Andra. Ia sangat mencintai pria itu. Sangat mencintainya.
"Sayang, apapun yang terjadi kamu harus percaya padaku!" ucap Andra kembali.
"Iya, Mas." Jawab Lala mengangguk.
Andra mencubit pipi Lala pelan. Saat mengangguk Lala sangat mengemaskan.
Lala berjinjit dan menkecup bibir Andra. Melihat itu Andra jadi senyum dan menyosor bibir sang istri.
Keduanya berciuman sejenak. Saling berbagi rasa.
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Di kantor, Andra fokus pada tumpukan berkas di meja kerjanya. Fokus menyelesaikan tanggung jawabnya dan pulang ke rumah.
Pria itu mulai merindukan sang istri.
Deringan ponsel membuat Andra menoleh. Di layar ponselnya tertera nama Ana.
Hanya menatapnya saja. Andra tidak menjawab telepon itu.
Ponselnya kembali berdering dan lagi masih sang mantan yang menelepon.
Andra memilih mengacuhkan dan melanjutkan pekerjaannya kembali.
Ting
Satu pesan masuk.
Ana: Andra, bisa ketemu?
Andra menatap pesan itu.
Ting
Dan tak lama, di ruangan Andra hening. Ana duduk di sofa, menatap sang mantan yang diam saja.
'Kenapa dia makin tampan?' batin Ana. Lama tak bertemu, Andra banyak perubahan.
"Apa kabar, Dra?" tanya Ana memulai pembicaraan.
"Baik." Jawab Andra sambil menganggukkan kepala. "Ada apa?"
Ana diam menatap Andra. Sikap pria itu sedikit dingin padanya.
"Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabar Lala?" tanya Ana ingin tahu.
"Istriku baik." Jawab Andra. Ia sengaja menegaskan Lala istriku.
Ana sedikit kesal mendengar itu. Sepertinya hubungan Andra dan Lala sudah dekat.
__ADS_1
"Aku akan bercerai dari Ferdi." Ucap Ana akhirnya. Ia mengatakannya agar Andra tahu.
Andra masih melihat Ana. Mantannya itu sudah berkaca-kaca.
'Dia kenapa?' Andra ingin tahu. Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Ana.
Ana berharap Andra merespon, tapi pria itu malah memilih diam saja.
"Malam sebelum pernikahan, Ferdi..." Ana menceritakan yang terjadi saat itu. Ia menceritakan semua termasuk Ferdi yang ringan tangan. Ia menjadi korban kdrt.
"Makanya saat itu aku memilih diam, Dra. Aku malu padamu. Kenapa nasibku seperti ini? jika saja Ferdi tidak melakukan itu, kita pasti sudah menikah." Ana berucap sambil menangis. Air matanya terus berlinang.
Andra baru tahu masalah Ana. Ia jadi merasa kasihan dan prihatin.
"Kenapa jalan hidupku seperti ini?" Ana memukuli da-danya sendiri. Kesal pada jalan hidupnya.
"Ana... Ana... tenanglah!" ucap Andra menenangkan.
Tapi bukannya tenang, Ana makin menangis histeris.
Andra menghampiri dan memeluknya. Menenangkannya.
'Dia masih peduli padaku?' Ana tersenyum tipis. Perasaan Andra masih ada padanya.
"Dra, aku mau pulang." Ucap Ana. Ia sudah cukup menceritakan kesedihannya pada Andra.
"Aku akan mengantarmu." Ucap Andra. Ia tidak bisa membiarkan Ana pulang sendiri.
"Tidak usah, Dra. Aku pulang sendiri saja. Aku tidak mau Lala salah paham."
"Aku akan mengantarmu. Ayo!"
'Yes!'
.
.
__ADS_1
.