MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 62 - JATUH CINTA


__ADS_3

"Kak, ayo kita pulang!" ajak Romeo pada sang kakak yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit.


Tadi Romeo sudah bertanya pada dokter, Ana sakit apa. Dan dokter mengatakan jika Ana hanya kelelahan saja.


Ana seharusnya tidak perlu dibawa ke rumah sakit. Tapi wanita itu mengatakan pada dokter bahwa seluruh tubuhnya sangat sakit. Dari kepala sampai ujung kaki. Dan karena itulah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.


Tapi ternyata setelah diperiksa secara rinci oleh dokter, tak ada penyakit yang serius. Ana baik-baik saja.


"Aku masih sakit." Ucap Ana. Ia memang berpura-pura sakit.


Semua itu Ana lakukan hanya demi mencari perhatian Andra. Agar pria itu datang menjenguknya. Tapi apa? hari sudah malam dan tak ada juga Andra datang untuk menjenguknya. Padahal ia memberitahu sakitnya dari semalam.


'Andra!!! Apa kau begitu cepat melupakanku, hanya demi dia?' Ana merasa kesal dan sakit hati. Hubungan mereka yang telah terjalin selama ini, seperti tak berarti apapun.


"Kak Ana, ayo kita pulang saja. Kakak sudah sembuh loh!" Romeo memaksa Ana. Ia tidak mau kakaknya terus bertingkah seperti ini. Tidak sakit, tapi malah ingin sakit.


Seharusnya Ana bersyukur diberikan kesehatan. Ini malah ingin sakit. Benar-bebar bukan contoh yang baik.


"Nanti, setelah Andra menjengukku. Baru kita pulang." Ucap Ana. Ia yakin jika Andra pasti akan menjenguk dirinya. Pasti sang mantan masih sangat peduli padanya.


"Astaga!!!" Romeo memijat pelipisnya. Sepertinya ia tahu alasan kakaknya sekarang.


"Kak Ana, ayo kita pulang. Jangan berharap pada bang Andra lagi." Ucap Romeo yang menarik tangan kakaknya agar segera bangun.


"Aku mau menunggu Andra." Ucap Ana yang tidak mau mendengar apapun. Ia kembali berbaring lagi.


"Kak Ana, bang Andra sudah menikah-"


"Terus kenapa? Dia bisa menceraikan wanita itu dan kembali padaku!" Ana ingin seperti itu. Andra menceraikan Lala dan menikah dengannya.


"Kak Ana! Tidak bisa begitu! Jangan ganggu rumah tangga orang lain!" ucap Romeo tidak terima dengan keinginan kakaknya itu.


Romeo tahu jika Andra terpaksa menikah dengan Lala untuk tidak terlihat malu saat itu. Dan ia mendengar bagaimana sikap Andra setelah itu. Lala diacuhkan pria itu. Dan kini, ketika Andra mulai membuka hati untuk Lala, mencoba untuk memperbaiki hubungan. Kakaknya malah datang dan mau menjadi duri. Tidak boleh seperti itu.


Romeo ingin Lala bahagia, walau bukan dengannya. Lala berhak bahagia.


"Andra itu milikku. Wanita itu yang merebutnya dariku!" Ana meremas tangannya. Dari dulu, Lala jelas-jelas menginginkan Andra.


Jika saja, saat itu ia tidak pergi dengan Ferdi. Pasti ia sudah menikah dengan Andra dan hidup bahagia. Dan Lala tidak bisa mengambil kesempatan dari kejadian itu.


"Kak Ana sadarlah!!! Mereka sudah-"

__ADS_1


"Diam kau!" Sela Ana yang geram memukul kepala Romeo. Ia kesal sekali, adiknya itu malah tidak mendukungnya. Padahal di sini ia adalah korbannya. Korban dari Ferdi yang membuatnya kehilangan Andra.


"Aku akan tetap menunggu Andra. Ia masih peduli dan menyayangiku!" Ana tidak mau keluar dari rumah sakit.


"Terserahlah. Tunggu saja pria itu sampai jamuran!" ucap Romeo dengan sinis. Lalu keluar dari kamar pasien itu.


Romeo tidak peduli lagi, terserah kakaknya itu. Mau nginap berapa lama di rumah sakit, sampai menunggu Andra yang akan datang menjenguknya.


\=\=\=\=\=\=


Lala menyandarkan tubuhnya di dekapan Andra. Menikmati tiap detakan jantung sang suami. Yang dug... Dug... Dug...


Saat ini keduanya sedang berada di ruang tv. Andra sedang menonton tv, sementara Lala duduk di pangkuan Andra.


"Lala, sudah tidur?" tanya Andra menurunkan pandangannya. Istrinya diam saja dalam dekapannya. Mungkinkah sudah terlelap.


Lala menggelengkan kepalanya. "Belum, Mas."


"Tidurlah." Andra merapatkan Lala, memeluk tubuh itu. Tangannya juga mengelus kepalanya dengan sayang.


Selama ia sudah berdamai dengan masa lalu. Dan mulai memperbaiki hubungan dengan istrinya. Andra sudah berkomitmen pada hatinya. Akan tetap bersama Lala.


"Oh iya, Mas. Kita tidak jadi menjenguk Ana?" tanya Lala. Keluarga mereka berdatangan hari ini dan saat sore baru pulang.


Andra mengangguk pelan. "Ku rasa dia sudah pulang." Ia biasa saja menanggapinya.


Lala mengangguk. "Mas Andra."


"Iya, sayang." Jawab Andra suara Lala terdengar lemah.


"Jika Ana meminta kembali, apa Mas Andra akan memilihnya?" tanya Lala serius.


Andra diam mendengar pertanyaan Lala. Ia pun mengarah wajah Lala dan menatapnya. Masa lalunya terus membayangi mereka.


"Kenapa kamu tanya begitu?" tanya Andra. Sepertinya Lala masih ragu jika ia ingin bersamanya selamanya.


"A-aku cuma takut saja, Mas." Jawab Lala jujur. Takut jika Ana merebut Andra darinya.


"Apa yang kamu takutkan?" tanya Andra kembali. Sulit sekali membuat Lala percaya padanya.


"Hubungan kalian terjalin cukup lama. Sedang dengan Lala, tidaklah lama. Mungkin di hati Mas Andra masih ada namanya. Atau bayangannya masih menghantui atau-"

__ADS_1


"Lala... aku mencintaimu." Ungkap Andra. Ia akan berkata jujur akan perasaannya. Agar Lala tidak meragukannya.


"Mas, tolong jangan sembarangan mengatakan hal penting seperti itu." Lala senang mendengar kata itu. Tapi, mungkin Andra tidak memakai perasaan saat mengatakannya.


"Sembarangan bagaimana?Aku berbicara dengan jujur, sayang." Andra manatap mata yang mulai berkaca-kaca.


"Mas Andra, apa tahu makna ucapannya itu?" tanya Lala. Andra hanya mencoba menenangkannya. Pria itu tidak tulus.


"Aku tahu dan itu yang aku rasakan padamu." Jelas Andra. "Lala, apa aku tidak berhak mencintaimu?"


Meski sedikit kecewa, tapi Andra maklum dengan tanggapan istrinya. Dan kini yang harus ia lakukan hanya meyakinkannya.


Deg...


Deg...


Deg...


Hati Lala tidak bisa dikondisikan lagi. Berdebar tidak menentu. Kata-kata itu yang sejak dulu di harapkannya. Kata cinta yang diucapkan oleh seorang Andra.


"Bo-boleh, Mas. Ta-tapi kalau Mas belum yakin, sebaiknya jangan dulu mengatakan itu." Lala menunduk untuk menutupi wajahnya yang panas. Pasti wajahnya sekadang merah padam.


"Lala aku yakin." Andra kembali mengangkat wajah Lala.


Kedua mata mereka saling bertemu. Saling menatap sangat dalam. Seolah berbicara dengan tatapan.


"Aku mencintaimu. Aku jatuh cinta padamu. Aku mencintaimu, Lala." Ulang Andra. Ia mengungkapkan perasaannya.


"Mas Andra." Lala menutup wajahnya. Ia sangat bahagia sekali, perasaannya selama ini bersambut. Andra membalas perasaannya. Pria itu mencintainya. Andra mengatakan cinta padanya.


"Aku cinta kamu Lala. Aku mencintaimu, aku cinta kamu..." Andra mengulang-ulang terus kata cinta tersebut. Ia ingin Lala tahu, jika ia serius dengan perkatannya.


"Mas Andra, sudah dong. Nanti Lala bisa terbang!" Lala jadi malu. Jika Andra terus mengucapkannya, ia bisa-bisa terbang.


"Kita akan terbang bersama, sayang..."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2