
"Selamat pagi, Om Andra. Lala pergi sekolah dulu ya." Ucap Lala berpamitan.
Andra tercengang, remaja ini mengetuk pintu rumahnya pagi-pagi hanya untuk berpamitan pergi ke sekolah.
"Om, jangan terlalu merindukanku ya." Tambah Lala kembali dengan pedenya. Lalu berlari kecil ke arah sepeda motornya.
Lala mengendarai sepeda motor sambil melambaikan tangan pada Andra. Tak lupa pula kecupan udara ia berikan.
Esok paginya juga begitu.
"Lala pergi ya, Om. Mau menuntut ilmu, biar anak-anak kita pintar. Karena Maminya pintar." Ucap Lala yang membuat Andra menggeleng tidak habis pikir.
Esok paginya lagi...
"La-"
"Pergi, pergi, pergi!!!" usir Andra sebelum gadis itu berucap. Ia pusing, Lala selalu singgah ke rumahnya sebelum berangkat sekolah. Hanya untuk berpamitan.
"Om Andra, kapan putus sama tante Ana? Kalau sudah putus kabari ya. Lala pasti akan menyembuhkan luka di hatimu, Om!" Ucap Lala yang masih sempat-sempatnya berkata seperti itu.
Bugh
Andra menutup pintu. Ia berjalan sambil memegangi keningnya. Pusingnya menghadapi bocah pecicilan satu itu.
Bertanya kapan mereka putus, pertanyaan apa itu?
"Lala lagi?" tanya Mama Leni melihat putranya memegangi kepalanya.
"Kita pindah saja ya, Ma." Saran Andra sambil bergabung di meja makan.
"Lala suka sama kamu!" ledek Mama seraya menyodorkan sepiring sarapan.
"Ihh..." Andra merasa merinding disukai gadis seperti itu. Yang ada hebohnya saja.
"Oh iya, Dra. Kapan kamu ajak Ana kemari?" tanya Mama.
"Nanti, Ma. Ana belum ada waktu." Ucap Andra. Ana setiap diajak ke rumah, ada saja alasannya. Kekasihnya belum mau bertemu keluarganya.
"Kalau Ana terus nolak kamu. Kamu sama Lala saja. Papa setuju kok." Ucap Papa. Menurutnya Lala baik dan sangat tulus.
"Benar, Dra. Biar Mama bilang sama Om Ayaz. Lala juga sebentar lagi tamat sekolah." Mama bersemangat menjodohkan Andra dengan Lala.
Mereka sebenarnya setuju Andra dengan Ana, karena itu pilihan putranya. Tapi sudah lama mereka pindah, Ana belum pernah datang ke rumah mereka.
"Papa, Mama... jangan begitu. Kalau Ana dengar dia bisa sedih." Andra menghargai perasaan kekasihnya.
"Kami kan cuma bilang saja. Kalau kamu tetap mau menunggu Ana, ya juga tidak masalah. Tapi, kamu ajaklah sekali-kali Ana kemari." Mama juga ingin melihat wanita seperti apa yang disukai anaknya itu.
"Benar. Kami juga ingin kenal dengan Ana. Selama ini, kami tahunya hanya dari cerita kamu saja." Papa ikut menimpali. Andra tidak pernah membawa Ana ke rumah. Bahkan saat ldr-an, saat mereka ingin berkenalan. Ana menolak berbicara dengan mereka. Alasannya malu.
"Ya sudah, nanti aku bawa Ana ke rumah. Tapi, Papa sama Mama janji. Jangan bahas-bahas bocah edan itu!" Andra mengingatkan.
Kedua paruh baya itu mengangguk.
Andra pun melahap sarapannya. setelah itu ia harus berangkat ke kantor.
\=\=\=\=\=\=
"Selamat sore, Om Andra. Baru pulang." Sapa Lala yang sedang berada di dapur dengan Mamanya.
__ADS_1
Andra tak menjawab. Ia pusing, nggak pagi nggak sore. Lala selalu ada di rumahnya.
"Om, Tante Leni buat bakwan. Enak loh." Lala menyodorkan piring berisi bakwan pada Andra.
Andra menghela nafas sambil melirik Mamanya yang malah senyum-senyum.
"Om mau minum teh, biar Lala buatkan!" tawar Lala dengan masih memegang piring bakwan.
"Nggak perlu!" jawab Andra sinis dan berjalan cepat ke kamarnya. Ia benar-benar kesal dengan Lala.
Sore berikutnya, Lala sudah ada saja di rumahnya. Kali ini sedang menonton drakor dengan Mamanya.
"Om Andra, ayo ikut gabung." Ajak Lala. Bocah itu mengajaknya menonton, menganggap seperti rumahnya sendiri.
Andra membuang muka dan berjalan menuju kamarnya.
Besok sorenya lagi...
"Selamat sore calon suamiku!!!" sapa Lala tiba-tiba nongol dari balik pohon.
"Astaga!!!" Andra terkejut batin. Ia lalu melihat ke arah Mama yang sedang menata pot-pot bunga. Seolah tidak peduli dengan kelakuan Lala saat ini.
"Lala pulang sana!" usir Andra.
"Nggak mau. Lala mau menemani Mama kok." Jawab Lala mendekati wanita paruh baya tersebut.
"Ma-Mama?" Andra kaget. Lala memanggil Mamanya dengan sebutan Mama, bukan Tante. Ada apa ini?
"Kenapa kamu memanggil Mamaku Mama?" tanya Andra tidak terima.
"Mama nggak keberatan kok." Ucap Lala.
"Nggak mau!" Lala menjulurkan lidahnya. Lala memeluk Mama.
"Lala, lepaskan Mamaku!" Kesal Andra. Bocah itu malah memeluk Mamanya.
Mama malah tersenyum saja dan bukannya marah.
"Ma, Lala pulang dulu ya." Lala menyalami Mama dan menkecup pipinya. Lalu ia berlari pulang.
"Mama!" Andra melihat ke arah Mamanya.
"Dra, kamu jangan galak-galak sama Lala. kasihan tahu!" Ucap Mama lalu kembali menyemprot bunga-bunga.
"Mama jangan terlalu dekat sama Lala!" ucap Andra.
"Mama nggak punya teman lagi dong!" Mama memanyunkan wajahnya. Selama ada Lala, ia tidak kesepian lagi.
"Mama!" Andra menggeleng.
"Lala itu sering menemani Mama. Mama jadi nggak bosan sendirian di rumah, saat kamu sama papa di kantor." Jelas Mama.
"Terus kenapa dia manggil Mama?"
"Nggak apa. Mama juga senang Lala memanggil seperti itu." Mama merasa tidak ada masalah. Ia senang-senang saja dipanggil seperti itu. Mereka jadi semakin dekat saja.
"Oh iya, besok Mama mau pergi." Mama memberitahu.
"Ke mana?" tanya Andra.
__ADS_1
"Ikut pengajian sama neneknya Lala."
"Nggak usah." Tolak Andra. Jika ada Lalanya mending tidak usah.
"Mama-kan mau membaur sama tetangga di sini, Dra. Kok kamu melarang pula?" Ucap Mama sambil masuk rumah.
"Ma, jangan terlalu dekat sama Lala."
"Kenapa?"
"Aku nggak suka!"
"Mama suka kok!"
"Mama!!!"
"Kalau kamu nggak suka sama Lala, nggak masalah. Tapi jangan kamu ajak-ajak Mama nggak suka sama Lala juga." Mama mendengus pada putranya. Lalu berjalan menuju dapur.
Andra menghembuskan nafasnya. Mamanya tak mau mendengarkannya. Tah apa yang membuat Mamanya sangat menyukai bocah pecicilan itu.
"Hai Om Andra."
"Astaga!!!" Andra kaget ada yang menyentuh bahunya. Dan saat berbalik ternyata Lala.
"Kamu!!!" Andra menunjuk Lala kesal. "Mau apa lagi?"
"Ih... Om Andra kok marah-marah sih?! Nanti cepat tua loh." Ledek Lala saat melihat wajah kesal Andra.
"Kamu mau apa?" tanya Andra masih dengan nada sinis.
"Lala mau ketemu Mama. Mau menyampaikan pesan nenek."
"Katakan padaku saja!" pinta Andra.
"Tidak bisa. Pesan Nenek sampaikan langsung pada Mama." begitulah yang Lala ingat.
"Katakan Lala!!!"
"Baiklah. Besok pengajiannya jam 2 siang." Lala terpaksa memberi tahu.
"Ada lagi?"
Lala menggeleng.
"Pulang sana!" usir Andra, ia mendorong Lala keluar dan segera menutup pintu.
Andra tidak mau Mamanya terlalu dekat dengan Lala. Bisa-bisa nanti Ana minder.
Andra sudah beberapa kali mengajak Ana ke rumah. Tapi alasan kekasihnya ia malu dan segan.
Jika Ana melihat Mama akrab dengan Lala. Kasihan Ana yang jadi minder. Kekasihnya pemalu dan sedikit sulit membaur dengan orang baru.
Tidak seperti Lala. Belum lama mereka pindah. Bocah pecicilan itu sudah akrab saja dengan Mamanya.
'Aku harus sering-sering mengajak Ana ke rumah. Biar dia akrab juga sama Mama!'
.
.
__ADS_1
.