MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 56 - HANYA ANDRA SEORANG


__ADS_3

Andra menepikan mobil di depan rumah Ana.


"Ayo, masuk Dra." Ajak Ana kembali.


"Tidak usah. Aku akan langsung pulang." Ucap Andra. Ia tidak mau bertemu keluarga Ana.


"Baiklah, terima kasih Dra." Ucap Ana tersenyum sesaat.


Andra hanya mengangguk sambil melihat arlojinya. Sudah pukul 3 sore, jika kembali ke kantor pun percuma. Sebentar lagi jam kantor berakhir.


"Hati-hati di jalan." Ucap Ana. Ia pun turun dari mobil.


Andra melihati Ana lalu tersenyum tipis dan kembali melajukan mobilnya.


Di jalan Andra melihat toko bunga. Ia pun membelokkan ke toko tersebut.


Beberapa saat kemudian Andra sampai di rumah. Ia memberikan Lala bunga mawar putih. Mawar putih punya makna mendalam. Bisa bermakna ketulusan. Ya, Andra berusaha untuk tulus pada sang istri.


"Untuk Lala, Mas?" tanya Lala memastikan. Tiba-tiba ia mendapat bunga. Mana bunganya cantik dan harum lagi.


"Iya, sayang. Untuk kamu." Ucap Andra sambil tersenyu.


"Mas, terima kasih." Lala sangat senang sekali. Pria tercintanya memberikan bunga. Andra sangat romantis habis.


Andra merentangkan tangannya, ingin sebuah pelukan. Dengan wajah merona, Lala pun memeluknya.


Deg...


Perasaan bahagia Lala mendadak hilang. Ia mencium aroma parfum lain. Bukan parfum suaminya, tapi aroma parfum wanita.


"Aku ingin minum teh." Ucap Andra seraya merangkul Lala menuju ruang makan.


'Lala... jangan pikirkan apapun!' Lala menghalau pikirannya. Ia tidak boleh curiga pada Andra. Mungkin saja saat di kantor, suaminya berada di dalam lift dan ada karyawan wanita yang memakai parfum sangat banyak dan menyengat. Aromanya sampai menempel di pakaian suaminya.


"Silahkan, Mas." Lala pun menyajikan. Ia melebarkan senyumannya.


Andra meminum teh buatan Lala. Rasa hangat dan manis terasa di tenggorokannya. Ditambah lagi perhatian sang istri.


"Pasti Mas Andra capekkan!" Lala memijat pundak Andra. Ia akan menunjukkan segala perhatian dan cintanya pada sang suami.


'Kenapa seperti dielu-elus?!' Andra mengulum senyum. Tenaga Lala sama sekali tidak ada.


"Sayang, sudah enakkan kok. Terima kasih ya." Ucap Andra. Walau tak terasa, tapi tak apalah.


"Mas, mau makan?" tanya Lala.

__ADS_1


Andra mengangguk. Dan Lala pun menyajikan.


"Masakan catheringnya enak, Mas. Kapan ya Lala bisa buat masakan seenak ini." Ucap Lala dengan nada sedih. Ia ingin suaminya kenyang dan senang dengan masakan buatannya.


"Pelan-pelan saja. Nanti lama-lama juga bisa." Andra tidak mau Lala jadi sedih.


Lala menemani sang suami makan. Ia tidak ikut makan, karena biasa makan malam. Andra kini makan saat masih sore.


"Lala." panggil Andra setelah makan.


Lala sedang membereskan meja makan dan membawa ke wastafel. Ia sengaja cepat, agar jangan Andra lagi yang mengerjakan. Suaminya tidak boleh mencuci piring lagi. Itu membuatnya jadi tidak enak hati.


"Iya, Mas." Jawab Lala menoleh sejenak, lalu kembali mencuci piring.


"Nanti malam, kita jalan-jalan ya." Ajak Andra.


"Boleh, Mas." Lala mengangguk pelan.


"Setelah cuci piring, kamu harus mandikan aku." Ucap Andra kembali.


"A-apa?" tanya Lala. Ia memandikan suaminya.


Andra mengangguk. "Kamu mandikan aku. Aku nggak bisa mandi sendiri, tanganku sakit, pinggangku encok, kepalaku pusing. Seharian aku lelah berada di kantor." Andra mulai merengek. Ia ingin bermanja pada sang istri.


"Lala akan memandikan Mas Andra. Tapi dengan satu syarat."


"Syarat?"


"Benar, ada syaratnya."


"Apa syaratnya?"


"Jawab dengan jujur pertanyaan Lala."


"Apa itu? Kamu ingin bertanya apa?"


Dag... Dig... Dug...


Belum lagi bertanya, Lala sudah jantungan. Berdetak tak stabil dan sangat kencang. Bikin gugup saja.


Lala berusaha menenangkan diri. Sambil menyelesaikan cucian piringnya.


"Kenapa diam? Mau tanya apa?" tanya Andra. Lala tidak melanjutkan pertanyaannya.


"I-Itu." Lala mengelap tangannya. Cucian piring sudah selesai.

__ADS_1


"Kamu mau tanya apa?" tanya Andra yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya saja. Ia membalikkan tubuh Lala, agar menghadap padanya.


Ser...


Lala makin grogi.


"Tanyalah apa yang mau kamu tanya?" tanya Andra. Matanya menatap bibir Lala. Istrinya menggigit bibir bawahnya.


"A-apa Mas Andra mencintaiku?" tanya Lala. Memastikan perasaan sang suami padanya.


Andra diam dan menatap Lala.


"Kalau be-belum mencintaiku nggak apa kok. Lala akan menunggu Mas Andra. Ta-tapi cobalah sedikit membuka hati untuk Lala, Mas." Ucap Lala bersabar. Sungguh ia ingin dicintai oleh pria itu. Mereka sudah melalui malam panas, apa perasaan suaminya saat melakukan itu?


Andra membawa Lala dalam pelukannya. Untuk pertanyaan Lala, ia belum bisa menjawabnya. Ia belum yakin dengan hatinya. Tapi...


"Aku sedang berusaha." Andra merenggangkan pelukannya dan menatap sang istri.


Air mata Lala malah jatuh berlinang.


"Tapi percayalah Lala. Aku ingin kita bersama selamanya." Andra meraih tangan Lala dan menciumnya.


"Kalau begitu, jangan pernah memikirkan wanita manapun. Pikirkan saja aku." Ucap Lala. Ucapan yang bermakna permintaan.


"Baiklah. Aku berjanji." Andra mengangguk.


Lala pun tersenyum. Ia percaya pada sang suami.


"Sekarang kamu mandikan aku!" andra menggendong Lala ala koala.


Lala mengalungkan tangannya ke leher Andra. Ia menatap mata berbinar sang suami.


"Mas Andra terima kasih. Terima kasih karena telah menerima Lala sebagai istrimu." Ucap Lala dengan nada kembali bergetar dan mata yang berkaca-kaca.


"Terima kasih karena selalu mencintaiku. Aku harap perasaanmu tidak akan berubah." Ucap Andra.


Lala menganguk. Ia akan menjaga hati dan perasaannya. Untuk Andra seorang.


Hanya Andra seorang.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2