
Andra bangun dan melihat jam dinding. Hari sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Ia pun bangkit dan terkejut melihat seorang wanita di sampingnya.
Pria itu mengusap wajahnya. Ia baru ingat, jika ia sudah menikah dengan Lala. Dan bukannya dengan Ana.
Lala masih tidur dengan terlelap. Bahkan dengkuran halus jelas terdengar dari wanita itu.
Bel pintu manyadarkan Andra. Ia pun berjalan membuka pintu. Pihak hotel membawakan sarapan. Andra menerima troli itu.
"Terima kasih." Ucap Andra.
Andra meletakkan troli di dekat sofa. Lalu ia bergerak ke kamar mandi. Mandi sejenak untuk menyegarkan dan membersihkan diri.
Baru masuk kamar mandi, Andra keluar lagi. Ia mengambil pakaiannya. Jangan sampai ia keluar hanya terlilit handuk.
Andra menggelengkan kepala, ia tidak mau kejadian semalam terulang lagi. Memang sekarang Lala masih tidur, tapi sebentar lagi pasti terbangun.
Tak lama setelah membersihkan diri. Andra keluar dari kamar mandi. Ia juga sudah berganti pakaian.
Andra mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dan melirik ke arah tempat tidur.
"Astaga!!!" Andra mengucap. Dia sudah mandi dan Lala masih belum bangun juga. Bahkan seperti tidak bergeser sedikitpun dari tempat semula.
'Apa dia sudah mati?!' batin Andra agak aneh.
Andra menggeleng dan tidak peduli, ia menuju sofa dan mengambil sarapannya di troli. Ia sarapan sambil menonton tv.
Sarapan sudah habis, perut pun sudah kenyang. Dan Lala...
Masih di dunia lain.
Deringan ponsel membuat Andra bangkit dan berjalan ke arah nakas. Ia melihat sang Mama yang menelepon.
"Halo, Ma..." Jawabnya sambil kembali duduk di sofa.
"Kamu lagi apa nih?" tanya Mama dari seberang sama.
"Aku baru selesai sarapan, Ma." Jawab Andra apa adanya.
"Lala mana?" tanya Mama penasaran. Menantunya itu sedang apa.
"Lala?" Andra melihat ke arah tempat tidur. "Masih tidur, Ma."
"Kamu bangunkanlah! Ini sudah jam berapa, Lala belum sarapan." Ucap Mama mengingatkan. Andra pasti canggung bersama Lala.
"Biarkan saja, Ma. Dia bilang mau jadi istri yang layak. Jam segini saja dia belum bangun." Ucap Andra kembali. Lala itu ucapannya tidak bisa dipercaya.
Deg
Lala membuka matanya. Ia memang sudah bangun, tapi masih malas untuk bangkit. Makanya memilih berbaring.
Ucapan Andra membuatnya sedikit kesal.
"Kamu pelan-pelan dong belajar nerima dia. Kamu kan tahu sikap Lala bagaimana? Dia itu anak manja." Mama mengingatkan akan sikap menantunya.
"Iya, Ma." Andra hanya dapat mengangguk.
__ADS_1
Setelah mengobrol beberapa saat. Andra mengakhiri panggilan. Ia meletakkan ponsel di nakas dan menghampiri Lala di tempat tidur.
"Hei, bangun!" ucap Andra membangunkan.
Lala masih diam saja. Ia berpura-pura tidur kembali.
"Hei, ayo bangun!" Andra menarik selimut Lala.
"Selamat pagi, Om Andra!" sapa Lala sambil merentangkan tangan. Ia juga menguap panjang.
"Jam berapa ini, Om?" tanya Lala berpura-pura seolah baru bangun.
Andra tidak menjawab.
"Om, sudah jam 9!!! kenapa tidak membangunkanku?!" Lala mencemberutkan wajahnya.
"Kenapa aku harus membangunkanmu?" tanya Andra tidak senang. Ia bukan baby sister wanita itu.
"Karena Om Andra suamiku. Kita kan harus saling melengkapi. Jika Om Andra yang bangun lebih dulu, maka Om bangunkan aku. Dan kalau aku-"
"Sudah cepat bangunlah!" sela Andra yang malas mendengar alasan panjang lebar dari Lala.
Andra kembali ke sofa, ia duduk dan kembali menonton tv.
'Dia sudah sarapan sendiri!' Lala kesal. Andra tidak mengajaknya sarapan bersama.
Lala bangkit dan berjalan perlahan ke arah sofa. Dan...
Cup
"Astaga, Lala!!!" Andra sangat kesal, mendapat kecupan tiba-tiba dari bocah itu. Ia pun mengusap wajahnya dengan tisu.
'Apa aku jorok?!' batin Lala. Saat mau masuk ke kamar mandi. Lala melihat Andra mengusap pipinya. Menghapus kecupan darinya. Padahal itukan kecupan selamat paginya.
Lala sudah selesai mandi dan sedang sarapan. Ia melirik Andra yang sibuk membereskan isi kopernya.
"Om, mau ke mana?" tanya Lala dengan mulut penuh makanan. Apa Andra akan pergi? Apa dia akan diajak?
"Keluar dari sini. Cepat selesaikan makanmu dan bereskan barangmu!" pinta Andra dengan nada dingin.
"Kita mau pindah ya, Om? ke mana? apa Om sudah mempersiapkan rumah untuk keluarga kecil kita!" nyengir Lala tanpa malu. Meski ia tahu Andra tidak suka padanya, tapi ia harus pede saja. Andra sudah menyebut namanya dalam ijab kabul, yang berarti dengan sadar pria itu menerima dirinya.
'Om Andra malu-malu meong!' Lala tersenyum lebar.
"Om, biar aku saja yang bereskan!" Lala mendorong tubuh Andra. Sebagai istri ia akan membereskan koper Andra. Lala akan belajar menjadi istri yang peka dan bukannya pekak.
"Tidak u-"
"Wah!" wajah Lala memerah saat memegang sebuah boxer milik pria tersebut. Boxer tersebut tempat bersembunyi sosis gantung.
"Lala!!! Jangan sentuh itu!" Andra menaikkan suaranya dan menarik boxernya, ia pun menggeser Lala agar menyingkir dari sana.
Tubuh Andra lebih besar dari pada Lala. Pria itu hanya menggerakkan badannya sedikit, tapi itu membuat Lala jadi terjungkal.
"Aduh!!! Om Andra!" Lala sudah jatuh ke lantai. Ia memegangi telapak tangannya yang memerah. Pria itu sangat kasar sekali padanya.
__ADS_1
"Bereskan saja barang-barangmu!" ucap Andra mengangkat kopernya. Ia tidak merasa bersalah telah membuat Lala terjatuh. Salah sendiri kenapa jadi wanita lemah.
"Cepat bereskan barangmu! Aku tunggu di bawah! Jangan lama!!!" Andra menaikkan satu oktaf suaranya. Ia pun menggeret koper dari kamar hotel tersebut.
"Dasar, Om Andra!!!" Lala menggerutu kesal. Andra memang menyebalkan tapi juga menggemaskan.
Tak Lama Lala memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Sambil bersenandung. Ia tidak peduli jika Andra sudah menyuruhnya cepat.
Setelah kopernya beres, Lala berdandan sejenak. Ia harus cantik dan kinclong. Bibirnya harus merah, biar Andra tergoda.
'Menggoda suami sendiri?' Lala jadi tersenyum geli. Lucu juga pikirannya. Andra sudah menjadi suaminya, tapi tetap harus digoda.
"Kenapa lama sekali!!!" Andra masuk dan melihat Lala yang masih berdandan. Ia sudah menyuruh cepat dan Lala terlalu lama pergerakannya.
"Bentar dong, Om! Lala masih dandan." Lala menebalkan lipstiknya.
"Cepatlah, La. Atau aku tinggal kamu!" Andra pun menggeret koper Lala.
Lala pun membereskan makeupnya, memasukkan kembali ke dalam tas. Lalu menyusul mengejar Andra yang sudah keluar.
"Om Andra tunggu!" Lala berlari dan menghampiri Andra. Ia memeluk lengan pria itu.
"Lala jangan pegang-pegang!" Andra tidak suka disentuh Lala.
"Semua nggak boleh." Lala kesal, Andra sudah menepis tangannya.
"Dilihat boleh dipegang jangan!" dumel Lala.
Andra tidak peduli, ia terus melangkah menuju tempat mobilnya terparkir.
Andra memasukkan koper Lala ke dalam bagasi.
"Naik!" pinta Andra membuka kaca jendela mobilnya. Ia melihat Lala yang diam saja.
Lala masih diam berdiri di dekat mobil Andra, meski Andra menyuruhnya masuk. Lala memasang mode budek.
"Lala!!!" panggil Andra kembali. Wanita itu mau merajuk-rajuk padanya. Ia tidak punya waktu meladeninya.
"Lala, naik cepat!!!"
Melihat Lala yang masih diam saja, Andra pun menaikkan jendela mobil. Ia pun menghidupkan mesin mobil dan pergi meninggalkan Lala.
"Terserahlah dialah mau ke mana?!" dumel Andra. Ia tidak mau membujuk-bujuk wanita itu.
"Om Andra, ihh!" Lala kesal, Andra malah meninggalkannya. Mobil Andra sudah bergerak pergi. Walau masih bergerak lambat.
Lala tersenyum tipis, ia pun memegangi kepalanya dan terhuyung ke tanah.
"Astaga!!! Pakai pingsan segala!!!" ucap Andra melihat Lala dari spion.
.
.
.
__ADS_1