
Andra dan Lala kini berada di ruang makan. Mereka akan makan malam.
"I-ini, Mas." Ucap Lala menyajikan piring berisi nasi dan ayam goreng pada Andra.
Lala membuang wajahnya malu. Saat Andra akan menggaulinya lagi, perutnya malah berbunyi minta diisi. Pergulatan panas mereka jadi diterjeda.
"Terima kasih." Andra tersenyum tipis melihat ayam yang digoreng Lala. Ayamnya sangat berminyak. Bahkan piring tempat ayam penuh minyak. Lala tidak menirisnya sebelum ditaruh di piring.
Tapi, Andra tetap melahap masakan Lala. Ia menghargai apa yang sudah Lala masak. Ia menambahkan kecap dan saos. Istrinya tidak membuat sayur ataupun sambal.
"Kamu makan juga." Ucap Andra dan Lala menurut. Mereka pun makan bersama.
Dan lagi, setelah makan Andra yang mencuci piring. Lala jadi segan.
"Mas, biar Lala saja."
"Aku saja, nanti kamu capek. Kamu bersihkan saja meja." Pinta Andra.
Lala pun membersihkan meja sambil melirik suaminya yang sedang menyupir alis menyuci piring.
"Lala, besok akan ada pekerja rumah yang pulang hari. Ibu itu membersihkan rumah dan cuci gosok. Jadi kamu tidak perlu melakukan apapun." Jelas Andra.
"Biar Lala saja yang mengerjakan, Mas." Lala tidak bekerja lagi. Ia di rumah saja, jadi bisa bersih-bersih.
"Tidak usah. Biar kita pekerjakan orang saja." Ucap Andra. Lala biasa hidup dengan keluarganya seperti seorang putri, semuanya dilayani. Masa sudah menikah dengannya, dipaksa melakukan semua pekerjaan rumah. Jadi Andra pikir, ia tetap harus membuat Lala menjadi seperti seorang putri juga.
Setelah dapur beres. Mereka duduk di ruang tamu. Andra fokus mengobati jari-jari Lala yang kena pisau.
"La, kita cathering saja ya." Saran Andra. Mau bagaimana pun Lala memang tidak bisa memasak. Ia juga takut, jika nanti Lala memasak sop jari. Karena jarinya terpotong pisau.
"Ta-tapi, Mas..." Lala mendadak sedih. Ia memang tidak bisa memasak. Tidak bisa membuat suaminya kenyang dengan masakannya.
__ADS_1
"Kita cathering untuk makan siang dan malam. Untuk sarapannya kamu yang buat." Saran Andra yang tidak mau Lala jadi sedih. Buat sarapan tidak akan terlalu ribet, Lala bisa pelan-pelan belajar masak.
Lala mengangguk setuju, karena itu permintaan sang suami tercintanya.
Andra sudah mengobati jari Lala, ia pun membawa Lala duduk di pangkuannya dan mendekap tubuh mungil itu.
'Kenapa Mas Andra nggak berdebar-debar?' Lala hanya bisa mendengar detakan jantung Andra yang biasa saja. Detakan jantung orang normal.
Lala akan meyakini diri, jika suatu saat Andra akan mencintainya. Kini ia hanya perlu menjadi istri yang baik dan pantas bagi Andra.
Lala mengikat rambutnya lalu kembali memeluk tubuh tegap itu.
Andra menghembuskan nafasnya pelan. Lala bergerak-gerak saat mengikat rambut, membuat yamg di bawah jadi bangun.
'Apa itu?' Lala merasakan pergerakan di bokongnya.
"Lala." panggil Andra pelan.
"I-iya, Mas." Jawab Lala gugup.
"Mas Andra!" Lala kaget. Tubuhnya dibawa Andra terbaring di sofa. Ia juga melihat mata Andra yang mulai dipenuhi gairah.
Tak lama, Sofa pun mulai bergoyang. Pakaian mereka berterbangan ke mana-mana.
\=\=\=\=\=\=
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Andra melihat sang istri yang sudah terlelap. Lala begitu kelelahan setelah pengulatan panas mereka.
Andra membenarkan selimut yang menutupi tubuh polos itu. Ia juga mendaratkan satu kecupan di kening Lala.
Pria tampan itu bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Ia akan membersihkan diri. Tubuhnya sangat lengket oleh peluh.
__ADS_1
Tak berapa lama, Andra sudah selesai mandi. Ia pun bersandar di temlat tidur. Masih belum mengantuk.
Andra fokus pada ponsel sambil tangannya sesekali mengelus kepala Lala.
Dari galeri ponselnya, Andra memilih foto untuk foto profilnya. Yang ada hanya foto pernikahan mereka, tak ada foto lain.
Tangan Andra meraih ponsel Lala dan membukanya. Ponsel tersebut meminta pin. Ia tampak berpikir dan menekan tanggal ulang tahunnya.
"Lala-Lala..." Andra menggeleng. Lala memakai tangan ulang tahunnya sebagai pin ponselnya.
Andra membuka galeri foto Lala. Banyak sekali foto Lala dengan berbagai gaya. Dan ada juga foto dirinya. Sepertinya diambil Lala diam-diam.
"Ini manis, tapi ini cantik. Yang ini imut..." Andra bingung mau mencuri foto Lala yang mana. Hingga akhirnya...
Ting ting ting ting ting...
Andra memilih mengirim semua foto Lala ke ponselnya. Setelah itu ia menghapus riwayat kiriman dan meletakkan ponsel Lala di atas nakas.
Andra memilih satu foto Lala yang sangat imut dan menjadikan wallpaper layar ponselnya. Ia tidak jadi memasang di profilnya. Akan banyak orang-orang yang melihat wajah menggemaskan istrinya dan Andra sangat tidak rela.
Andra hanya mau menikmati Lala sendirian. Tanpa berbagi dengan siapapun.
Ting
'Ana.' Andra merasa aneh, Ana tiba-tiba mengirim pesan. Mengirim pesan di jam seperti ini. Ini masih tengah malam.
Andra pun membuka pesan tersebut.
Ana: Hai Andra, apa kabar?
.
__ADS_1
.
.