
"Sayang, kamu di mana?" tanya Andra melihat sekeliling. Ia telah sampai di pasar yang Lala datangi.
"Mas sudah sampai?" tanya Lala mempercepat langkahnya di tengah kerumunan orang-orang.
"Iya, aku sudah di parkiran." Ucap Andra memberitahu.
"Aku sudah dekat, kok." Ucap Lala. Ia sudah melihat Andra yang berdiri di parkiran.
Andra juga melihat Lala, ia pun segera mengakhiri panggilan dan menyusul sang istri. Lala tampak keberatan membawa belanjaannya.
"Biar Lala bawa saja, Mas." Lala merasa segan. Andra malah meraih bungkusannya.
"Kamu belanja apa?" tanya Andra sambil berjalan. Ia membawa bungkusan belanjaan dan menggandeng tangan sang istri.
"Lala beli ayam, Mas. Lala mau buat sop. Sudah lihat resepnya di internet sepertinya gampang buatnya." Lala sudah menonton tutorialnya. Hanya direbus-rebus saja. Jadi tidak mungkin gosong.
"Kamu hati-hati kalau lagi masak." Ucap Andra cemas. Ia memperhatikan tangan sang istri yang ada luka. Pasti luka kena pisau dan percikan minyak goreng.
"Iya, Mas." Ucap Lala. Senangnya Andra begitu mengkhawatirkannya.
Andra meletakkan bungkusan Lala di bagasi, lalu ia membukakan pintu mobil dan mempersilahkan sang istri untuk naik. Lalu ia naik dari pintu sebaliknya.
Perlahan mobil pun melaju keluar dari area pasar tradisional itu.
Begitu sampai rumah, Lala meletakkan belanjaannya di lantai. Ia segera membuatkan teh untuk sang suami.
"Silahkan, Mas. Tehnya masih panas." Ucap Lala memberitahu. Ia baru membuatkannya.
"Terima kasih." Andra mengangguk. Lala benar-benar memperlakukannya istimewa. Lala benar-benar sudah berusaha jadi istrinya.
Andra meminum tehnya dan Lala masih duduk menemaninya.
"Kamu tadi naik apa ke pasar?" tanya Andra ingin tahu.
"Naik ojek, Mas." Jawab Lala jujur.
__ADS_1
Andra sudah menghabiskan tehnya.
"Lala, ayo kita mandi." ajak Andra. Lala baru dari pasar, pasti istrinya belum mandi.
"Lala, sudah mandi tadi Mas sebelum pergi." Jawab Lala.
"Mas mandilah sama. Nanti Lala siapkan baju. Ini Lala mau menyusun belanjaan dulu." sambung Lala menunjukkan belanjaannya.
Andra mengangguk pelan dan berjalan menuju kamar mereka.
Setelah Andra pergi, Lala pun beraksi. Wanita itu meletakkan bahan-bahan ke tempatnya. Setelah itu bergegas ke kamar. Takut Andra sudah siap mandi dan menunggunya untuk mengambilkan baju.
Lala kini masuk kamar.
"Der!" Andra mengageti Lala dari belakang.
"Astaga, Mas Andra!" Lala memengangi da-danya. Ia mendadak sport jantung. Ia mengira suaminya sudah di kamar mandi.
"Kenapa belum mandi?" tanya Lala setelah menenangkan rasa kagetnya.
Lala mengangguk. "Sudah, Mas."
"Wah, istriku kini banyak kemajuan!" Andra mencubit gemas pipi Lala. Cepat sekali Lala menyusun bahan-bahan yang dibeli.
Wajah Lala langsung memerah dengan perlakuan Andra. Ia jadi membuang wajahnya, menutupi rasa malu dan canggung yang mendadak muncul.
"Mas Andra!" pekik Lala kaget. Tiba-tiba digendong Andra.
"Ayo, kita mandi sayang."
"Aku sudah mandi loh. Turunkan aku, Mas!" Lala menggeliat.
"Kamu mandi lagi saja." Andra tidak peduli. Terus menggendong Lala layaknya karung beras.
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
"Ok, wajahku sudah pucat." Ana memastikan wajah pucat dan kusutnya di kaca. Ia harus terlihat seperti orang yang sedang sakit.
Andra akan ke rumahnya dan merawat dirinya. Pria itu masih sangat perhatian padanya. Walaupun Andra menikah dengan Lala. Tapikan pria itu menikah dengan terpaksa. Jelas rasa cinta pria itu masih besar padanya.
Perasaan Andra itu yang akan dia rebut kembali. Ana akan merebut Andra. Mereka akan menikah dan Andra akan menceraikan istrinya itu.
Mereka memang ditakdirkan bersama, tapi jalannya saja yang rumit dan berliku.
'Andra, aku tidak akan mengacuhkanmu lagi!' yakin Ana. Setelah mereka menikah, ia akan jadi istri yang patuh.
Ana melihat jam dinding. Ia tak sabar menunggu sang mantan datang. Ia sudah memakai pakaian tidur panjang dan kaos kaki juga. Harus terlihat seperti orang yang benaran sedang sakit.
Ting tong
Suara bel membuat Ana bahagia. Ia memastikan penampilannya di kaca. Lalu berlari ke arah pintu.
Begitu sampai, Ana berolah raga muka terlebih dahulu. Lalu menunjukkan wajah sakit dan minta dikasihani.
Ana lalu membuka pintu...
"Si-siapa anda?" tanya Ana yang kecewa. Bukan orang ditunggunya yang datang.
"Selamat sore, Bu. Saya dikirim pak Andra untuk memastikan kesehatan anda. Boleh saja masuk, untuk segera memeriksa keadaan anda?" ucap Dokter wanita itu. Dokter keluarga Andra.
Andra sudah berjanji pada Lala akan menjemputnya. Dan Ana juga sakit memerlukan bantuan. Jadi Andra memilih mengirim dokter saja. Jika pun dia datang ke sana, ia akan memanggil dokter juga. Sebab tidak tahu harus bagaimana mengobati orang sakit.
'Andra!!!' Ana kesal. Andra malah memanggil dokter. Apa yang dilakukan Andra sekarang, hingga mengacuhkannya. Padahal ia sedang sakit.
"Lala!!!"
Pasti karena Lala.
.
.
__ADS_1
.