
'Ana hamil!' batin Ferdi saat mendapat informasi dari orang suruhannya.
Selama ini, ia membayar orang untuk mengawasi Ana. Bahkan ia jadi tahu, Ana masih mengharapkan Andra dan ingin kembali pada pria yang sudah beristri itu.
Ferdi senang lantaran Andra menolak Ana dan lebih memilih bersama istri pengganti yang dinikahinya. Dengan begitu, Ana akan tetap bersamanya.
Ana memang sudah menggugat perceraian, tapi ia menahannya. Hingga proses perceraian itu hanya proses saja.
'Anak!' senyum pria itu dengan mengambang. Ia akan memiliki anak dan akan menjadi seorang ayah.
Selama ini ia bermain dengan wanita selalu memakai pengaman. Tapi dengan Ana, ia berkali-kali tidak melakukannya. Jadi wajar saja Ana hamil.
"Honey... mau ke mana?" tanya wanita yang berada di samping Ferdi.
"Aku harus pergi!" Ferdi bangkit dan masuk ke kamar mandi.
Ferdi mengguyur tubuhnya sambil mengingat Ana. Memang ia akui, Ana itu sombong hingga ia tega melakukan hal itu di malam sebelum pernikahannya Ana.
Tapi, jika diingat-ingat lagi. Di saat awal-awal pernikahan mereka, kehidupan rumah tangga mereka baik-baik saja. Ana mulai menerima dan melayaninya dengan baik sebagai seorang istri.
Ferdi mengusap wajahnya. Tapi memang dirinya saja, yang terlalu banyak bermain dengan para wanita. Bahkan membawa wanita ke rumah. Hal itulah yang memicu pertengkaran dalam rumah tangga mereka.
Bahkan yang lebih parahnya, ia malah tega memukuli wanita itu.
'Ana, maafkan aku!' batin Ferdi menyesal. Ia memang bukan pria baik.
Kini Ferdi datang ke rumah Ana. Ia meminta maaf dan mengakui kesalahannya pada keluarga Ana. Tapi bukannya disambut hangat, adiknya Ana malah memukulinya dengan brutal.
Ferdi hanya diam dan tidak membalas. Ia menerima saja diperlakukan seperti itu. Karena memang dirinya yang bersalah.
"Aku memang salah. Tapi, aku mau bertanggung jawab pada anakku!" jelas Ferdi akan maksudnya. Kedatangannya ke rumah itu untuk memperbaiki hubungannya dengan Ana.
Selama ini Ferdi memang sering bergonta ganti wanita. Tapi, tak ada yang berniat ia nikahi. Dan saat diminta menikahi Ana, ia pun bersedia.
"Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Ana dan bertanggung jawab pada anakku!" ucap Ferdi kembali. Ia ingin merawat anak itu, Ana bisa saja menggugurkan darah dagingnya tersebut. Dan itu tidak boleh terjadi.
__ADS_1
Keluarga Ana kaget mendengar ucapan Ferdi. Pria itu tahu Ana sedang hamil. Dapat dari mana informasi tersebut.
"Kami tidak akan membiarkanmu bersama Ana lagi! Cukup Fer! Kamu sakiti Ana selama ini!" tolak Papa. Bagaimana pun Ferdi terlalu ringan tangan dan pasti akan kembali memukuli putrinya.
"Pa, maafkan aku! Aku memang salah! Aku berjanji akan berubah!" mohon Ferdi sangat berharap. Ia benar-benar menyesal.
Papa merasa aneh. Ferdi kini bersimpuh di kakinya. Memohon dan terus meminta maaf. Terlihat begitu tulus dan penuh penyesalan.
"Aku akan berubah dan menyayangi Ana. Aku tidak akan memukulinya lagi! aku tidak akan menyakitinya lagi! aku..." Ferdi mengucapkan banyak janji. Bukan hanya sebuah janji, tapi komitmen akan perkataannya.
Ana sedang mengandung Anaknya. Ia akan menjadi seorang ayah nantinya. Jadi harus merubah semua sikap kasar dan buruknya. Ia ingin anaknya menjadi yang baik dan tidak seperti dirinya.
Ferdi masih bersimpuh sambil terus memohon. Membuat Papa, Mama dan Romeo saling melirik. Mereka jadi bingung.
Tak lama...
"Pergi!!! Jangan dekati aku!!!" pekik Ana menolak Ferdi.
Kini Ferdi berada di kamar Ana. Ia akan menyelesaikan masalah mereka. Keluarga Ana menyuruhnya untuk berbicara dengan Ana.
Dengan cepat ditepis wanita itu dengan kasar. Ia tidak sudi disentuh pria itu lagi.
"Jangan sentuh aku! Pergi!!! Pergi!!!" usir Ana dengan berteriak histeris. Sungguh ia tidak mau berhubungan dengan Ferdi lagi.
"Ana, maafkan aku. Aku berjanji akan berubah. Aku tidak akan seperti dulu lagi!" bujuk Ferdi. Ia ingin memperbaiki semuanya.
Ferdi menatap Ana lalu menatap perutnya. Ia harus bertanggung jawab pada nyawa dalam perut Ana.
"Pergi!!!" Ana masih menyuruh Ferdi pergi.
Karena kesal ditolak terus, Ferdi pun meraih tubuh Ana. Ia peluk dengan paksa dan erat.
"Maafkan aku. Aku ingin kita bersama-sama merawat anak itu. Aku janji akan berubah. Aku ingin kini menjalani pernikahan yang semestinya." Jelas Ferdi kembali.
"Aku tidak mau! Aku akan menggugurkannya!" tolak Ana mendorong tubuh Ferdi. Ia tidak akan membiarkan bayi itu tetap hidup.
__ADS_1
Ferdi menggeleng. Ia tidak ingin begitu. Anak itu tidak bersalah.
"Ana, aku yang salah. Jangan kamu hukum dia. Anakku tidak tahu apa-apa!" jelas Ferdi. Ada rasa sedih saat mendengar Ana menolak mengandung bayi itu. Ia kini merasa menjadi seorang ayah yang kejam. Kesalahannya pada Ana, malah berdampak pada sang anak.
"Aku tidak mau! Aku tidak mau mengandung anak ini! Aku akan menggugurkannya!" ucap Ana dengan emosi dan berapi-api. Tetap menolak dan berniat melenyapkan anak itu.
"Hai anak Papa!" sapa Ferdi mengelus perut Ana.
Perlakuan Ferdi membuat Ana jadi mulai tenang dan menatap sendu. Emosi yang tadi tidak terkontrol, kini malah jadi mendadak mewek. Mata Ana mulai berembun.
"Sayang, sehat-sehat di dalam ya." Ucap Ferdi kembali. Ia masih mengelus perut Ana. Ada rasa nyaman dan tentram saat bicara seperti ini. Tah anaknya dengar atau tidak apa yang ia katakan.
Sentuhan tangan Ferdi membuat Ana tenang dan nyaman. Apa mungkin bawaan anaknya? Sepertinya anaknya ini ingin bersama papanya?
"Ana... Mari kita merawat anak ini bersama." ucap Ferdi dengan nada lembut dan penuh harap.
Ana menatap mata pria itu. Keduanya saling menatap sejenak.
"Aku janji akan jadi suami yang baik dan ayah terbaik untuk kalian." Ucap Ferdi dengan tegas dan tidak ada keraguan. Ia akan berubah dan membuang sikap dan sifat buruknya.
Ana pun mengangguk pelan. Ia memaafkan pria itu.
"Besok, kita ke rumah sakit untuk cek kandunganmu." Ucap Ferdi kembali. Ia ingin tahu bagaimana perkembangan bayinya.
Ana kembali mengangguk. Hatinya terasa menghangat. Ferdi begitu perhatian.
"Ana, maafkan aku! Maafkan aku! maafkan aku!" ucap Ferdi sambil memeluk Ana. Dan ia terus meminta maaf.
"Iya... Iya..."
.
.
.
__ADS_1