MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 46 - CANGGUNG


__ADS_3

Setelah makan malam bersama kedua orang tua Andra. Lala kini berada di dalam kamar.


Lala bingung mau tidur di mana. Jadi ia berdiri saja menunggu Andra yang masih di dalam kamar mandi.


Andra keluar dari kamar mandi dan melihat Lala yang berdiri saja. Bukannya tidur.


"Kenapa?" tanya Andra menatap Lala.


"Itu..." Lala bingung bicara.


"Tidurlah." Andra mengisyaratkan dengan matanya ke arah tempat tidur.


Lala mengangguk dan naik ke tempat tidur. Ia juga melihat Andra yang juga naik.


"Mas, pembatasnya." Lala mengingatkan. Biasanya Andra membuat guling pembatas di antara mereka.


"Aku sudah ngantuk Lala. Jangan menyuruhku!" ucap Andra menutup matanya. Ia ingin segera tidur.


Lala jadi bingung, mau membuat pembatas atau tidak. Ia pun menarik selimut sampai ke lehernya. Lalu memiringkan badannya. Matanya pun mulai terpejam.


Pagi menjelang. Lala bangun karena merasa pengap. Saat membuka mata, matanya langsung mendelik.


Andra tidur sambil memeluknya. Lala bingung harus senang atau bagaimana?


"Kamu sudah bangun?" Andra membuka matanya.


"Se-selamat pagi, Mas." Sapa Lala dan akan bangkit.


Tapi tangan Andra menahan pinggang Lala dan menatapnya.


'Ampun!' Lala menjerit. Ia tidak bisa ditatap seperti itu oleh Andra. Hatinya seperti meleleh.


"Mas, La-Lala mau mandi." Ucap Lala dengan gugup.


"Pantas bau! Pergilah!" Andra pun melepaskan tangannya.


Lala pun bangkit dan berlari ke kamar mandi. Dan pergerakan Lala tak lepas dari pandangan Andra.


Beberapa saat berlalu, Lala sedang berdandan. Dari cermin nakas ia melihat Andra sudah keluar dari kamar mandi.


'Astaga!!!' Lala membatin. Suaminya sangat seksi dengan lilitan handuk di pinggang.


Andra melirik Lala yang sedang berdandan. Ia melihat ke atas tempat tidur. Lala tidak menyiapkan pakaiannya.

__ADS_1


Tak mungkin memintanya, Andra pun mengambil sendiri dari lemari.


"Kamu mau ke mana?" tanya Andra memulai bicara. Ia tahu Lala akan bekerja, tapi tetap ditanya juga. Beranggapan tidak tahu saja.


"Lala mau kerja, Mas." Jawab Lala.


"Hmm... akhir bulan ini, kamu tidak usah bekerja lagi!" pinta Andra. Ia ingin Lala di rumah saja.


Lala mengangguk patuh. Ia akan menurut dan tidak akan bertanya kenapa. Sesuai dengan apa yang dikatakan Andra. Kita jalani saja dulu...


Ya, Lala akan mengikutinya.


"Lala, lihat dasiku?" tanya Andra kemudian.


"Dasi. Di lemari sampingnya, Mas." Lala menunjuk ke arah lemari itu.


"Lemari yang mana?" tanya Andra tidak melihat arah yang ditunjuk Andra.


"Itu." Tunjuk Lala kembali.


"Yang mana?" tanya Andra kembali.


Lala pun bangkit dan menunjuk lemari tempat dasi. "Ini, Mas."


Melihat Lala akan pergi setelah menunjukkan tempat dasi, Andra sedikit kesal. Seharusnya Lala kan memilihkan dasi untuk dipakainya. Wanita itu tidak peka sama sekali.


"Kenapa, Mas?" tanya Lala dengan wajah bingung. Ia telah selesai berdandan dan meninting tasnya.


"Dasi apa yang cocok ku pakai?" gumam Andra yang seolah bingung.


Lala ingin membantu. Tapi tak mau Andra menolak pilihannya.


"Hmm!" Andra melihat ke arah dasi-dasi itu, sambil menunggu kepekaan wanita itu.


"Me-menurut Lala yang ini, Mas." Tunjuk Lala pada salah satu dasi.


"Oh..." Andra mengangguk. "Kamu-"


Andra menarik nafas, Lala sudah keluar kamar mereka saja.


Lala menuju dapur. Ia membantu menyajikan sarapan di meja makan.


Tak lama Lala mengulum senyum saat melihat Andra memakai dasi pilihannya. Hatinya jadi melayang terbang.

__ADS_1


Lala sengaja menyajikan sarapan langsung di atas meja. Jadi Andra tidak akan menolak piring sarapan darinya.


"Lala... Tolong ambilkan telur itu. Tanganku tidak sampai." Pinta Andra yang melihat piring telur dekat dengan Lala.


Lala mengangguk dan meletakkan apa yang diminta Andra.


"Terima kasih." Ucap Andra setelah Lala meletakkan telur itu.


Mereka pun sarapan bersama. Lala makan sambil mengulum senyum. Ia merasa sikap Andra sedikit hangat.


Setelah sarapan, Lala bingung. Ia akan menyalami Andra atau tidak.


"Mas, La-Lala pergi dulu!" Lala pun mengulurkan tangannya.


Andra tidak membalas uluran tangan Lala.


'Kan!' Lala menunduk malu. Andra menolaknya lagi.


"Kamu pergi sama siapa?" tanya Andra.


"Sama Papa."


"Oh..." Andra mengangguk. "Aku pergi." pamit Andra.


Lala melihati punggung Andra yang sudah berlalu. Entah kenapa ia merasa sangat canggung dan kikuk dengan Andra.


Lala pun berjalan, ia akan pergi bersama papanya. Ia berjalan melewati Andra yang akan membuka pintu mobilnya.


"Pulang kerja, aku akan menjemputmu." Setelah mengatakan itu, Andra pun masuk ke dalam mobil dan tak lama melaju pergi.


'Dia bilang apa? pulang kerja menjemputku? Aku mimpi apa sih?' Lala menutup wajahnya yang mulai memerah.


Lala tak sadar, dari spion mobil Andra melihat ekspresinya.


"Apa begitu saja sudah membuatnya bahagia?" Andra menggeleng. Lala itu sangat baperan sekali.


'Tapi lama-lama dia imut juga!'


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2