
'Apa aku sedang bermimpi?' batin Lala tidak yakin dengan apa yang barusan didengarnya.
Menikah dengan Andra? Mama memintanya menikah dengan Andra.
"Lala mau, Ma." Jawab Lala dengan cepat. Ia tidak bertanya kenapa dan mengapa Andra tidak jadi menikah dengan Ana?
Mama jadi tersenyum lega. Lala ternyata tidak menolaknya. Ia juga melihat Andra yang hanya menunduk pasrah.
'Mungkin memang begini jalan mereka berjodoh!' batin Mama yakin.
"Saya tidak setuju!" tolak Ayaz cepat. Ia tidak mau Lala menjadi pengantin pengganti. Putrinya akan makan hati.
"Papa!" Lala jadi berwajah mewek. Papanya malah menolak.
Tak lama, mereka berkumpul di sebuah ruangan. Karena masalah pribadi hanya ada keluarga inti di dalam ruang itu.
Lala dengan Papa dan Neneknya. Sementara Andra dengan Mama dan Papanya.
"... Jadi kami ingin Andra menikah dengan Lala." Ucap Dani setelah menjelaskan permasalahannya. Ia menjelaskan bahwa Andra tidak jadi menikah dengan Ana. Karena Ana sudah menikah dengan pria lain.
Orang tua Andra tidak menjelaskan masalah apa sampai Andra dan Ana tidak jadi menikah, mereka pun tidak tahu alasannya detilnya seperti apa. Yang mereka tahu, Ana sudah menikah dengan pria lain.
"Saya mengerti alasan kalian. Tapi, saya tidak bisa membiarkan Lala menggantikan calon pengantin wanita untuk Andra." Jelas Ayaz yang merasa keberatan.
"Benar, Len. Andra belum selesai dengan masa lalunya. Jika menikahkan dengan Lala. Saya takut tidak ada kebahagiaan nantinya." Neneknya Lala juga ikut menimpali.
"Papa, Nenek...!!!" Lala memelas pada mereka. Ia selalu berdoa adanya sebuah keajaiban. Dan mungkin inilah keajaiban itu. Andra tidak jadi menikah dengan Ana.
"Tidak, Lala." Papa Ayaz menggeleng.
"Andra memang belum mencintai Lala. Tapi seiring berjalannya waktu, saya yakin Andra akan mencintai Lala juga." Ucap Leni membujuk. Cinta itu bisa datang dengan sendirinya. Apalagi saat mereka selalu bersama.
"Sekali lagi saya mohon maaf. Saya menolaknya. Mau Andra menikah dengan wanita manapun terserah kalian saja. Tapi, tidak dengan putri saya." Ayaz tidak mau mengorbankan putrinya. Keluarga Andra ingin menghindari malu, ia sangat paham itu. Tapi menjadikan putrinya tumbal, itu yang tidak bisa diterimanya.
Andra tidak pernah mencintai Lala. Bagaimana kehidupan putrinya nanti? Lala pasti tidak akan bahagia.
"Papa!!!" Lala menyemberutkan wajahnya. Lagi-lagi Papanya terus menolak.
"Lala mau bicara sama Papa!" Lala bangkit dan membawa Papanya. Ia harus merengek meminta restu Papanya.
Lala membawa Papa dan Neneknya jauh dari keluarga Andra.
"Papa, Nenek... Lala mau menikah sama Om Andra." Melas Lala berharap.
"Tidak, nak. Papa nggak setuju. Kamu nggak akan bahagia nanti." Geleng Ayaz pada anak semata wayangnya.
"Benar. Lala pasti nanti hanya sakit hati saja. Pernikahan itu harus didasari rasa saling mencinta." Nenek ikut menasehati cucunya.
__ADS_1
"Tapi Lala mencintai Om Andra." Lala meyakini perasaannya.
"Tapi Andra kan tidak mencintai Lala." Ucap Ayaz kembali mengingatkan pada kenyataan.
"Pa, Lala yakin Om Andra memang jodoh Lala. Lala selalu berharap adanya sebuah keajaiban. Jadi pasti ini keajaiban itu!" Lala pun memakai jurus air mata kesedihan. Ia membujuk Papanya dengan berlinang air mata.
"Tapi, La." Ayaz jadi goyah. Ia tidak tega melihat putrinya menangis.
"Kalau Papa dan Nenek nggak setuju. Ya sudah lebih baik Lala mati saja, Lala mau nyusul Mama!" ancam Lala. Ini kesempatannya menikah dengan Andra. Tapi jika terhalang restu, percuma saja dia hidup.
"Lala!!!" kompak Papa dan Nenek menaikkan suara mereka. Lala berucap asal saja.
"Lala mau menikah dengan Om Andra!" Lala masih menegaskan ucapannya.
"Lala yakin dengan pilihan Lala saat ini! Lala yakin Lala akan bahagia!!!" Lala masih berucap yakin.
Papa dan Nenek hanya bisa menatap Lala yang tetap bersikeras.
"Papa..." ucap Lala lirih dengan air mata berlinang.
\=\=\=\=\=\=
Andra sudah duduk di tempat ijab kabul. Dengan Ayaz di hadapannya. Ya, Ayaz akan menjadi wali nikahnya.
"Andra..." ucap Ayaz meminta pria itu untuk mendekat. Dan Andra pun mendekat.
"Tolong, jangan pernah kamu membentak atau membuat Lala menangis. Jika nanti kamu tidak bisa membalas perasaannya, segera kembalikan Lala pada saya." Pinta Ayaz kembali. Ia hanya menuruti kemauan putrinya.
Andra hanya diam dan tidak tahu mau menjawab apa. Ia melihat ke arah Papa dan Mamanya yang tersenyum sendu. Saat ini, ia hanya ingin yang terbaik untuk keluarganya.
Andra sudah tidak memikirkan perasaannya sendiri. Ia juga tidak yakin menikahi Lala. Menikahi wanita yang sama sekali tidak dia cintai. Lala itu tidak ada masuk dalam kriteria wanita idamannya. Tapi...
Satu kata. Pasrah. Andra hanya pasrah saja. Ia tidak tahu apa pernikahan mereka akan berjalan berapa lama?
Sementara di dalam sebuah ruangan, Lala sudah didandani.
Senyum bahagia tidak dapat disembunyikan Lala. Hari ini Lala akan menikah dengan Andra. Pria yang selalu diimpikannya.
"La, kok bisa?" satu yang ditanyakan Riri. Ia bingung bisanya Lala yang akan menikah dengan Andra.
"Bisa apa?" tanya Lala bingung. Riri bicara setengah-setengah.
"Kok bisa kau menikah dengan om Andra?"
"Takdir." Jawab Lala yakin.
Riri terpelongo.
__ADS_1
"Ri, om Andra itu takdirku!" tegas Lala.
"Kau ke dukun mana?" tanya Riri masih tak yakin. Lala pasti memakai pesugihan.
"Aku nggak ada ke dukun-dukun! Kau nggak mau nemani aku!" ucap Lala kembali.
Riri masih menatap Lala tidak yakin.
"Ri... lihat! sudah belum ijab kabulnya! Kau rekam sana!" Lala meminta Riri untuk keluar dan melakukan dokumentasi langsung untuknya.
Riri pun terpaksa karena Lala sudah mendorongnya.
Tak lama...
Lala meneteskan air mata setelah mendengar ijab kabul yang dikabarkan Riri secara langsung melalui panggilan video call.
Andra mengucapkan namanya. Membuat hati Lala berdebar tidak menentu.
"Nenek..." Ucap mewek Lala melihat nenek yang menemaninya di ruangan itu.
"Nenek harap kalian akan selalu bahagia!" harap wanita tua itu. Walau sedikit terpaksa, ia harus merestui dan mendoakan yang terbaik untuk cucu tersayangnya itu.
Lala diminta untuk keluar dari ruangan itu. Menemui pria yang sudah sah menjadi suaminya.
Huft... Lala menarik nafas panjang. Sekedar menenangkan hatinya yang malah terus berdebar hebat.
Lala didampingi nenek dan Riri berjalan ke arah tempat ijab kabul berlangsung.
Semua mata tertuju padanya. Lala tampil sangat cantik dan mempesona. Ia memakai kebaya putih yang sangat pas di tubuh rampingnya. Make up tipis juga menghiasi wajah, jadi tampak fresh. Aura Lala benar-benar membuat semua orang tersenyum.
Senyum Lala benar-benar merekah. Ia mengedarkan pandangannya.
Terlihat orang tua Andra tersenyum sendu. Lalu Papanya, Ayaz. Yang mengangguk sambil tersenyum tipis.
Beberapa saksi dan tamu memberikan senyuman padanya.
Dan...
Mata Lala terarah pada pria yang sudah menikahinya.
Andra hanya menundukkan kepala saja. Pria itu tidak melihatnya sama sekali. Padahal hari ini, ia sangat cantik.
'Om Andra... Lihat aku dong!!!'
.
.
__ADS_1
.