
Pagi menjelang Andra terbangun dan tersenyum melihat sang istri. Saat menutup mata, Lala adalah orang terakhir yang dilihatnya. Dan ketika membuka mata, Lala adalah orang pertama yang dilihatnya.
"Selamat pagi, sayang." Ucap Andra sambil menkecup bibir Lala. Istrinya itu masih tertidur nyenyak sekali.
'Lala sangat cantik sekali.' puji Andra. Lala sangat sempurna di matanya.
Andra bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Lalu tak lama keluar dan melihat Lala yang masih terlelap.
'Apa aku terlalu membuatnya lelah?' batin Andra merasa bersalah. Ia membuat istrinya itu lembur semalaman.
Andra juga melihat jejak-jejak penjelajahannya penuh di leher Lala. Sepertinya ia terlalu ganas tadi malam.
Pria itu tersenyum tipis dan keluar dari kamar.
Sampai dapur, Andra melihat bahan-bahan yang tersedia. Ia mengeluarkan bahan tersebut dan memasaknya.
Sementara di kamar. Hidung Lala mencium aroma masakan. Membuat matanya terbuka.
"Siapa yang masak? Aku jadi lapar?" Lala mendudukkan diri di tempat tidur.
Lala melihat ke arah sampingnya, Andra tidak ada. Waktu juga sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
"Mas Andra!" panggil Andra berlari keluar kamar dengan selimut yang membalut tubuh polosnya.
"Mas Andra..." Lala melihat sang suami di dapur. Sedang menyajikan makanan di atas meja.
"Kamu sudah bangun? Ayo, kita sarapan." Ajak Andra dengan senyuman manis.
'Dia sangat cantik!' puji Andra kembali. Walaupun rambut Lala seperti singa, tapi tidak menutupi kecantikannya.
"Mas Andra, kenapa memasak? Seharusnya kan aku." Lala menghampiri Andra dan melihat ke meja makan.
Menyiapkan sarapan harusnya dia, kenapa malah suaminya.
"Aku sudah bilang, kamu tidak boleh memasak lagi."
"Tapi Lala ingin masak buat suami Lala tercinta." Ucap Lala mencoba merengek pada suaminya.
Andra tersenyum melihat wajah sang istri. Tapi ia menggelengkan kepala.
"Iya, aku tahu. Tapi aku lebih tidak mau kalau istriku tercinta sampai kenapa-kenapa."
Blush
Wajah Lala langsung merona. Perkataan Andra membuatnya baper.
Andra mengelus wajah Lala. "Kalau kamu mau masak, kita akan masak bersama saja."
Pria itu mengerti, Lala ingin menjadi istri seutuhnya.
Lala mengangguk mengerti. Ia akan menurut. Andra sikapnya sangat manis sekarang. Jika ia memaksa kehendaknya, Andra bisa saja berpaling darinya.
Lebih baik mengalah, dari pada kehilangan pria itu.
"Lala..." Panggil Andra dengan nada lembut.
"I-iya, Mas." Jawab Lala menatap suaminya yang tersenyum manis.
__ADS_1
"Apa kamu sengaja menggodaku?" tanya Andra menurunkan pandangannya.
Lala pun melihat dirinya. Selimut yang terbalut sudah melorot dan membuat tubuhnya polos.
"Akh!!!" Lala meraih selimut dan berlari masuk kamar. Ia malu sekali, karena sikap manis suaminya. Tak sadar dengan selimutnya.
Andra tertawa-tawa melihat sikap Lala itu, sangat menggemaskan sekali.
"Sayang, aku mau!" Andra pun mengejar Lala ke kamar. Pagi-pagi Lala sudah membangunkan nalurinya.
\=\=\=\=\=\=
"Mas Andra, ini sudah jam berapa?" tanya Lala seraya melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8.
"Aku libur saja ya hari ini." Ucap Andra. Ia sudah rapi berpakaian kantor, tapi tak rela menjauh dari istrinya itu.
"Mas.." Panggil Lala. Ia sedikit pengap, karena Andra terus memeluknya.
"Apa sayang?" tanya Andra dengan nada manja.
"Aku nggak bisa bernafas!" ucap Lala.
Dengan cepat Andra melonggarkan pelukannya. Ia menatap Lala.
"Kamu ikut saja ke kantor ya."
"Apa?"
Beberapa saat kemudian.
Andra ke kantor dengan senyum mengambang. Ia berjalan menuju ruangannya sambil menggandeng sang istri.
Dan Lala jadi menuruti sang suami untuk menemaninya ke kantor. Awalnya ia menolak, tapi Andra memaksa. Bahkan lama-lama mulai merengek seperti seorang bocah.
"Sayang, kamu duduk di sini saja." Andra membawa Lala duduk di sofa yang berada di ruangannya.
"Aku akan menyelesaikannya dengan cepat. Kalau kamu capek tidur saja." Ucap Andra yang kini mengelus kepala Lala.
Setelah mengatakan cintanya. Andra kini makin tidak ingin berpisah terlalu lama dengan lala. Ada ketakutan dalam hatinya jika kehilangan istrinya itu.
"Mas, sudah sana kerja dulu." Ucap Lala. Andra mengatakan akan menyelesaikan dengan cepat, tapi masih juga duduk bersamanya. Bukannya mulai bergerak.
Kini Andra malah meraih tubuh Lala. Ia peluk tubuh istrinya dengan erat.
"Lala, aku mencintaimu." Bisik Andra kembali.
"Lala sangat mencintai Mas Andra." Balas Lala kembali.
Setelah puas memeluk Lala, Andra kembali menatap sang istri dengan tatapan mendalam.
Tangan Andra meraih tangan Lala dan menggenggamnya erat. Rasanya ia tidak mau berpisah dari Lala. Walau hanya beberapa meter.
"Sayang, temani aku menyelesaikan pekerjaanku."
Lala memgangguk. "Lala akan menunggu di sini."
Andra malah menggeleng. "Aku tidak mau jauh darimu."
__ADS_1
Andra membawa Lala ke meja kerjanya. Lalu ia duduk di kursi kebesarannya.
"Mas..." Panggil Lala. Ia senang dengan sikap Andra sekarang padanya. Tapi, suaminya terlalu berlebihan.
Lala dipaksa duduk di pangkuan Andra dan pria itu melanjutkan pekerjaannya.
Tapi selang 5 menit, Andra akan memeluk Lala. Lalu lanjut pada dokumennya. Tak berapa lama, ia menkecup bibir Lala. Dan lanjut kembali.
"Mas Andra... kerjaannya tidak selesai-selesai dong." Ucap Lala mengingatkan. Andra kebanyakan menjamahnya dari pada menyelesaikan pekerjaannya.
Kini Andra menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia memandangi istrinya itu. Lala makin cantik, apalagi dengan wajah merona seperti itu.
"Lala... Kita mau punya anak berapa?" tanya Andra. Ia ingin membicarakan masa depan mereka.
Mendengar itu, mata Lala jadi berkaca-kaca. Pria itu ingin memiliki anak darinya.
"Terserah saja, Mas." Ucap Lala.
"Hmm... kalau begitu 20 ya." Ledek Andra.
"Mas Andra!" Lala memukul dada Andra dengan manja. 20 orang anak, yang benar saja.
"Kalau kita punya 4 orang anak bagaimana?" tanya Andra kembali.
"Boleh, Mas." Jawab Lala. 4 kan masih wajar.
"Anak kita sudah ada berproses belum ya?" Andra mengelus perut rata Lala. "Aku sudah menyiram benihnya, apa sudah ada yang tumbuh?"
"Kita doakan segera ya, Mas." Lala menatap sang suami. Ia merasakan perasaan Andra yang mendalam.
Andra mengangguk. Dan kini menatap Lala dengan intens.
Andra mencium Lala. Menciuminya dengan lembut dan penuh perasaan. Menunjukkan ketulusannya. Ia mencintai Lala bukan karena hasrat. Ada hati mengiringi.
Tok... Tok... Tok...
Lala menghentikan ciuman mereka. "Mas."
Andra mendengus. Ada saja yang menganggunya.
"Masuk." Pinta Andra.
"Mas..." Lala akan turun, tapi pria itu malah menahannya.
'Astaga!' sekretaris wanita itu membatin melihat pemandangan itu.
Lala menyembunyikan wajahnya di dada sang suami. Ia sangat malu dengan posisinya sekarang.
"Ada apa?" tanya Andra dengan wajah tidak senang. Tangannya masih menahan Lala.
"Ma-maaf, Pak. Bu Ana ingin menemui anda."
'Ana?!' batin Lala.
"Usir dia!" pinta Andra sangat tegas.
.
__ADS_1
.
.