
"Mas, ini kamar Lala." Lala membawa Andra ke kamarnya. Menunjukkan kamarnya yang serba pink.
Andra mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan sambil menggeleng. Semuanya serba pink. Ia seperti masuk ke dunia barbie.
"Tadi, kamu berterima kasih untuk apa?" tanya Andra masih penasaran. Lala berterima kasih, ia tidak merasa memberikan sesuatu.
"Itu... Untuk pengertiannya. Mas Andra mau tinggal di rumah Mama, supaya Lala bisa sering bertemu papa, kan." Ucap Lala dengan wajah merona.
Andra melihat Lala dengan ekspresi aneh. Lala sudah salah paham, bukan begitu maksudnya.
"Lala, kamu sudah salah paham!"
Lala melihat Andra bingung. "Salah paham?"
"Aku tidak melakukan itu untukku. Aku ingin tinggal di rumah Mama, karena aku tidak nyaman tinggal di rumah yang aku dan Ana telah persiapkan." Jelas Andra agar Lala mengerti. Dan tidak salah paham lagi.
"Oh..." Lala menunjukkan wajah kecewa. Andra malah bicara jujur, seharusnya berbohong saja kenapa.
"Ya sudah, Lala tidak masalah. Lala akan menganggap seperti apa yang Lala pikirkan saja." Berpikir positif akan berdampak baik. Itu menurut Lala.
Andra mendengus. Lala tidak mempedulikan perkataannya. Wanita itu hidup dengan dunianya saja.
"Entahlah!" Andra berjalan ke tempat tidur dan memilih berbaring di sana. Tak lupa pula ia membuat tembok pembatas.
"Awas kalau kamu melewati batas!" ancam Andra dengan wajah tidak senang. Ia pun menyelimuti dirinya dan tidur. Rasa ngantuk sudah menguasainya.
Lala memanyunkan wajahnya. Sudah beberapa hari, tapi Andra belum bersikap lembut padanya.
"Baiklah, aku akan menggodanya saja!" Lala tersennyum tipis. Jika Andra diam saja, biar ia yang aktif.
Tak lama, Lala keluar dari kamar dengan hanya memakai tanktop dan celana pendek.
Malam ini ia berencana akan menggoda suaminya itu. Lala menghampiri Andra yang sudah tertidur. Dengkuran suaminya sangat halus.
'Mas, lihat aku dong! Aku berjanji akan menjadi istri yang baik dan akan mencintaimu sampai akhir hayatku!' janji Lala memandangi wajah terlelap itu. Ia yakin dna sungguh-sungguh dengan perkataannya.
"Tampannya suamiku!" gumam Lala sambil menyentuh wajah Andra. Ciptaan Tuhan paling sempurna.
Lala menutup mulutnya, agar ia tidak berisik ketika menyentuh wajah suaminya itu.
Andra hanya sedikit menggeliat. Hanya terganggu sebentar dan kembali berdengkur lagi.
Lala melihat bibir Andra. Sangat seksi sekali. Ia perlahan mulai mendekatkan wajahnya. Ingin menyentuh bibir kenyal dan tebal tersebut.
Cup
Cup
Cup
Lala sampai 3 kali menempelkan bibirnya. Ia menutup wajahnya yang mendadak merona. Ia pertama kalinya ia berciuman.
__ADS_1
"Kenapa kamu seperti ini?" tanya Andra dalam pejamnya. Ia sedang menggingau dan bermimpi bertemu dengan Ana.
"Mas Andra, tenang ya." Lala mengelus kepala Andra dengan sayang. Suaminya sepertinya bermimpi buruk.
Mata Andra pun terbuka. Ia melihat Ana. Padahal itu adalah Lala.
Andra bangkit dan meraih tubuh Lala. Memeluknya dengan erat.
"Jangan tinggalkan aku!" Pinta Andra sangat berharap.
"Iya." Lala mengangguk senang. Anda ingin bersamanya. Membuat perasaannya berdebar-debar.
Saat pelukan itu terlepas, mata Lala terbelalak. Saat Andra mendaratkan ciumannya. Ia menciumi Lala yang dianggapnya Ana.
"Awwh..." jerit Lala saat bibirnya malah digigit Andra.
"Ana?" Andra menggeleng saat sadar. Bukan Ana tapi, ia malah mencium Lala.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Andra tidak senang. Kenapa dia malah mencium Lala. Ia pun segera menjaga jarak darinya.
"Mas Andra yang menciumku." Ucap Lala dengan wajah mal dan merah. Ia pun berlari ke kamar mandi.
"Astaga!!!" Andra mengusap wajahnya. Ia mengira Lala tadi adalah Ana. Ternyata hanya bayangannya saja.
Sementara di dalam kamar mandi, Lala melihat wajahnya yang sudah memerah di cermin. Bibirnya pun sedikit membengkak.
"Apa begini berciuman?" gumam Lala. Selama ini ia tidak pernah berciuman.
Lala memegangi degupan hatinya yang bertalu-talu. Baru dicium saja, ia sudah malu seperti ini. Bagaimana jika mereka sampai melakukan hal yang biasa suami istri lakukan. Wah...
Pelan Lala membuka pintu dan...
"Astaga!!!" pekik Lala yang terkejut batin. Andra sudah berada di depan pintu kamar mandi.
"Ganti pakaianmu itu!" pinta Andra dan masuk ke kamar mandi.
Dengan berjalan malas, Lala pun menuju lemari dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur panjang, hello kitty berwarna pink.
Lalu Lala berbaring ke tempat tidur. Ia kembali mengingat Andra mengucapkan nama Ana. Apa Andra menciumnya karena mengira ia Ana?
'Mas Andra!!' Lala memegangi bibirnya, mengingat saat bibir Andra menyentuhnya.
'Dia sudah tidur?' batin Andra yang baru keluar dari kamar mandi. Ia melihat Lala yang sudah berselimut.
Andra pun naik ke tempat tidur, ia juga membenarkan tembok pembatas dari guling tersebut.
"Lala sudah tidur?" tanya Andra.
Lala diam dan pura-pura tidak dengar. Ia tetap memejamkan matanya.
"Ciuman tadi itu kesalahan. Aku mengira jika kamu itu Ana. Jadi kamu jangan salah paham!" jelas Andra. Lala selalu salah pahan saja padanya. Wanita itu seperti tidak bisa berpikir normal saja.
__ADS_1
Deg
Hati Lala terasa sediki berdenyut. Ciuman tadi adalah kesalahan. Padahal Lala berharap Andra mulai membuka hati untuknya. Nyatanya hati Andra masih milik Ana.
Lala berniat tidak menjawab. Ia akan tidur dan seolah tidak mendengar apa yang diucapkan Andra.
Pagi menjelang, Andra terbangun karena alarm di ponsel Lala. Suaranya begitu nyaring tapi tidak juga membangunkan Lala.
"Astaga!!!" Andra terpaksa bangun dan mematikan alarm tersebut.
"Mas Andra, Lala sangat mencintaimu. Buka hatimu dong!" Lala menggigau seperti itu. Membuat Andra menautkan alisnya.
'Mimpi apa dia?' batin Andra.
Lala tersenyum dalam tidurnya. Dan beberapa saat kemudian meneteskan air mata.
"Jangan rebut suamiku. Mas Andra itu suamiku!" pekik Lala dan langsung tersentak bangun.
"Mas Andra..." Lala pun mewek, ia memeluk Andra. "Mas, jangan tinggalkan Lala. Lala mohon!"
"Lala lepas!!! Kamu cuma mimpi!" Andra melepaskan tangan Lala. Benar-benar risih dengan pelukan Lala.
"Tapi, Mas. Mimpinya sangat nyata loh." Ucap Lala kembali. Pelukannya kini telah terlepas.
"Mimpi! Mimpi! Cuma mimpi!!!" Andra menyadarkan Lala.
Lala melihat jam dinding.
"Sudah pukul 7, Lala harus bangun. Lala akan menyiapkan sarapan untuk Mas Andra." Lala sadar. Untuk menjadi istri yang layak. Ia harus mempersiapkan kebutuhan Andra.
Cup
"Lala!!!" pekik Andra kesal. Lala menkecup pipinya dan langsung kabur seperti seorang pencuri.
"Morning kiss, Mas." Lala masih bisa berucap sambil berlari.
"Dasar bocah edan!!!" dan lagi Andra mengelap pipinya.
Andra berjalan ke kamar mandi, ia akan membersihkan diri saja.
Tak berapa lama Andra keluar kamar mandi dengan terlilit handuk di pinggang. Ia lupa bahwa ia tidak membawa pakaian dari rumahnya.
Dan pandangannya tertuju ke tempat tidur.
Andra melihat pakaian yang ada di kamarnya sudah berada di atas tempat tidur. Lengkap dengan dalam-annya.
Lala sudah membawa pakaiannya kemari.
'Pasti dia sudah mengacak-acak lemariku!!!'
.
__ADS_1
.
.