
"La, ku antar pulang ya." Romeo menghampiri Lala yang bersiap untuk pulang.
"Tidak perlu!" jawab Lala dengan nada ketus. Ia melihat Romeo sejenak, lalu membuang wajahnya.
"La, kamu marah sama aku?" Romeo menahan tangan Lala. Ia tidak mengerti dengan wanita satu ini.
Langkah Lala jadi terhenti, ia melihat ke arah Romeo.
"Aku salah apa sama kamu, La?" tanya Romeo dengan wajah memelas.
Lala merasa sedikit bersalah dengan Romeo. Ia kesal dengan Ana, tapi malah dilampiaskan pada temannya itu. Tapi mau bagaimana lagi, Romeo adiknya Ana. Setiap lihat Romeo, ia jadi mengingat Ana.
"Pikir sendiri!" ucap Lala seraya menarik tangannya. Lala berjalan meninggalkan Romeo.
'Lala-Lala!' Romeo menghela nafas kasar.
Lala berjalan menuju ruangan papanya. Ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
"Papa..."
"Lala!" Ayaz terkejut. Putrinya masuk begitu saja.
"Papa, masih sibuk?" tanya Lala.
"Sudah selesai. Kita pulang?"
Lala mengangguk pelan.
Setelah membereskan meja kerjanya, Ayaz pun menggandeng putrinya keluar ruangan itu.
"Pa, aku nggak pernah lihat papa dekat sama wanita." Ucap Lala sambil jalan.
Ayaz jadi tersenyum. Semenjak istrinya meninggal, ia memang menutup hati untuk wanita lain. Istrinya itu tidak akan pernah tergantikan.
"Papa, kalau mau menikah lagi nggak apa kok. Lala setuju!" ucap Lala. Ia ingin melihat papanya bahagia.
"Lala, papa nggak akan menikah lagi sampai kapanpun!" tegas Ayaz.
"Kenapa?" tanya Lala melihat papanya.
"Karena Mama kamu." Jawab Ayaz dengan nada sedikit bergetar.
"Papa sangat mencintai Mama ya!" Lala jadi berwajah sendu. Papanya masih sangat mencintai Mamanya, walau Mamanya sudah meninggal. Begitu masih setianya papa pada Mamanya.
"Mamamu itu wanita yang cantik dan sangat baik. Senyuman Mamamu itu membuat Papa jatuh cinta." Ayaz mengingat mendiang istrinya.
"Mama beruntung dicintai pria seperti Papa. Kira-kira Lala bisa dicintai seperti itu nggak ya, Pa?!" Lala ingin dicintai juga, bukan hanya mencintai. Mencintai yamg bertepuk sebelah tangan.
"Pasti!" Ayaz mengangguk yakin. "Putri Papa akan bahagia dengan pria yang dicintai dan mencintainya.
"Papa, Lala sayang Papa!" Lala memeluk erat lengan papanya. Ia sangat menyayangi papanya. Pria yang sangat baik dan tidak pernah membentaknya. Paling jika marah, hanya menajamkan pandangannya. Ayaz tidak pernah berucap kasar.
__ADS_1
Ayaz mengelus kepala Lala. Ia juga sangat menyayangi putrinya itu. Meski kini Lala bukan anak kecil lagi. Tapi bagi Ayaz, Lala itu tetap putri kecilnya yang manja dan sangat menggemaskan.
\=\=\=\=\=\=
'Om Andra, belum pulang?' batin Lala melihat dari balkon kamarnya. Tidak terlihat mobil Andra di rumah sebelah.
Pikiran Lala mulai memikirkan Andra yang sedang bersama dengan Ana.
Memikirkan itu membuat Lala jadi kesal dan marah. Tah apa yang membuat Andra menyukai Ana, hingga pria itu tidak mau melihat wanita lain.
Andra itu cinta mati sama Ana. Beruntung sekali Ana memiliki Andra.
'Om Andra, kenapa sih tidak mencintaiku saja?!' batin Lala kecewa.
Lala menghela nafas panjang, lalu menatap pemandangan malam yang sepi dan sunyi. Komplek perumahannya memang tenang dan sangat nyaman.
'Om Andra!' Lala melihat mobil Andra yang masuk ke teras rumahnya.
Lala menyanggahkan dagu di pembatas tembok. Ia memandangi ciptaan Tuhan yang menyejukkan mata dan hatinya.
Memandangi Andra memang menambah mood. Tapi saat pria itu bicara, Andra selalu marah saja padanya.
Lala memanyunkan bibirnya. Pandangannya tertuju pada sebuah mobil yang berhenti di depan rumahnya.
Lala melihat seseorang yang turun dari mobil itu.
"Meong? mau ngapain dia sih?" Lala mendadak kesal melihat pria itu. Ia pun memilih masuk.
Tak lama pintu terbuka. Memperlihatkan seorang pria dewasa.
"Se-selamat malam, Om." Sapa Romeo yang mendadak gugup.
"Malam." Jawab Ayaz datar.
"Sa-saya Romeo, saya temannya Lala." Romeo memperkenalkan diri sambil menyalami pria paruh baya tersebut. Ia harus sopan pada pria itu. Selain atasannya di kantor, Ayaz juga ayah dari wanita yang ditaksirnya.
Ayaz melihat Romeo dari atas hingga atas lagi. Putrinya memiliki teman pria. Selama ini, Ayaz tidam pernah tahu soal Romeo. Ia hanya tahu temannya Lala hanya Riri saja.
"Ada apa malam-malam mencari putri saya?" tanya Ayaz melihat arlojinya yang sudah pukul 8 malam.
"Sa-saya mau memberikan ini, Om!" Romeo memberikan bungkusannya dan diterima Ayaz.
"Nanti akan saya berikan pada Lala. Ada lagi?" tanya Ayaz kembali menatap tajam.
Romeo menggelengkan kepala. "Ti-tidak, Om. Kalau begitu saya permisi. Selamat malam!"
Romeo pun pamitan pulang. Papanya Lala tidak ada berbasa-basi untuk menyuruhnya masuk dan bertemu Lala. Papanya Lala memang bisa membuat orang mati kutu dan mendadak gugup.
Melihat Romeo sudah pergi, Ayaz pun menutup pintu. Ia lalu memanggil putrinya.
"Iya, Pa." Lala datang ke dapur.
__ADS_1
"Ini dari teman kamu. Namanya Romeo." Ayaz memberikan bungkusan titipan pria itu.
Lala membukanya. Ternyata Romeo membawakannya sekotak dimsum.
"Wuih... Enak nih. Pa, ayo kita makan!" Lala meletakkan dimsum tersebut di meja makan.
"Lala, banguni nenek dulu ya." Lala mengingat neneknya. Mereka akan makan bersama-sama.
"Nggak usah, nenek lagi istirahat." Ayaz menggelengkan kepala. Mamanya kini gampang kecapekan. Maklum saja faktor usia.
Lala mengangguk. Ia dan papanya pun makan dimsum bersama.
"La, Romeo itu siapa?" tanya Ayaz ingin tahu. Mungkin Lala sedang dekat dengan pria itu.
"Dia teman sekelas Lala, Pa." Jawab Lala dengan mulut penuh makanan.
"Sekarang dia kerja di kantor Papa. Di divisi yang sama dengan Lala." Laka memberitahu kembali.
Ayaz mengangguk mengerti.
"Kamu suka sama dia?" tanya Ayaz kembali. Ia mendadak kepo dengan putrinya.
Mendengar itu Lala tersedak. Ayaz dengan cepat menuangkan air minum dan diberikan pada Lala.
"Papa, dia itu cuma teman Lala." Sanggah Lala. Sang papa malah menganggap, ia menyukai pria itu.
"Ya, kalau kamu suka tidak apa. Papa lihat anaknya baik kok." Ayaz punya firasat, jika Romeo memiliki rasa dengan putrinya.
"Papa... Kami cuma berteman. Tapi sekarang, Lala lagi malas sama dia." Lala mendengus kesal.
"Kenapa?" Ayaz menaikkan alisnya.
"Karena dia adiknya Ana. Wanita yang merebut Om Andra dari Lala, Pa."
"Lala... Papa sudah ingatkan kalau kamu dan Andra tidak berjodoh. Sudah jangan kamu terus-terusan mengharapkan Andra." Ayaz memperingatkan putrinya.
"Nggak bisa, Pa. Nama om Andra telah terukir di hati Lala. Sulit untuk menghapusnya."Jelas Lala akan perasaannya.
Ayaz menggeleng. Ada-ada saja perumpamaan putrinya.
"Sama seperti Papa. Walau Mama telah tiada, tapi Papa tidak bisa menghapus Mama dari hati Papa, kan?! Begitu juga Lala, Pa. Sulit ini, Pa. Sulit!!!" Lala menggelengkan kepala. Semakin ingin melupakan Andra, semakin ia makin menginginkan pria itu.
"Pa, doakan semoga om Andra berjodoh sama Lala." Harap Lala ada sebuah keajaiban.
Ayaz menggeleng cepat. Putrinya terlalu berharap.
"Papa!!!"
.
.
__ADS_1
.