MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 66 - PERKELAHIAN


__ADS_3

Andra sarapan dengan lahap. Lala menemaninya dengan senyuman manis yang menggembang.


"Mas, makannya pelan dong!" Lala mengelap sudut bibir Andra yang menempel makanan. Suaminya makan berselemak.


Andra memajukan bibirnya, agar Lala mengelap seluruh mulutnya.


Dengan cekatan Lala membersihkan seluruhnya.


Pandangan Andra teralih pada ponselnya.


"Sayang, Mama menelepon. Sebentar aku angkat dulu." Ucap Andra.


"Cepat angkat, Mas." Lala tidak mau mertuanya menunggu lama.


"Halo, Ma." Jawab Andra begitu mengangkat panggilan Mamanya.


"Andra, Ana datang kemari." Ucap Mama langsung memberitahu.


"Ana?" tanya Andra memastikan.


'Ana? Ada apa?' Lala melihat suaminya dengan wajah penasaran.


"Mau apa dia, Ma?" tanya Andra kembali.


"Dia mau bertemu kamu. Karena kalian sudah tidak tinggal di sini, ia meminta alamat rumah. Dan Mama tidak memberitahu." Jelas Mama.


Andra mengangguk. "Dia tidak perlu tahu aku tinggal di mana. Biarkan saja dia, Ma. Jika kelewatan aku akan mengurusnya." Ucap Andra.


"Iya, Dra."


"Ya sudah, Ma. Aku mau berangkat ke kantor..." Ucap Andra dan mengakhiri panggilan tersebut.


Andra melihat ke arah istrinya. Wajah Lala sangat penasaran sekali, menunggunya untuk bercerita.


"Mama menelepon." Ucap Andra.


Lala diam dan masih menunggu. Menunggu ucapan Andra selanjutnya.


"Mama bilang Ana datang ke rumah." Ucap Andra kembali. "Ana datang ingin menemuiku."


Lala diam menatap Andra. Ia masih menunggu respon suaminya. Jujur saja Lala tidak suka jika Andra menemui mantannya itu.


Perasaan Andra padanya masih seumur jagung. Bagaimana jika bertemu dengan sang mantan yang sering mengisi hari-harinya dulu.


"Apa aku harus menemuinya?" tanya Andra meminta pendapat. Ia ingin Lala menghalanginya.


"Apa... apa masih ada yang perlu kalian bahas atau selesaikan?" tanya Lala kembali. Mungkin ada masa lalu yang harus diselesaikan.


Andra menggeleng. Ia dan Ana sudah berakhir.


"Kalau sudah tidak ada masalah lagi. Jangan pernah menemuinya, Mas. Kecuali kalau memang sengaja bertemu, itu pun sekedar saja." Ucap Lala. Ia tidak mau Andra diam-diam menemui Ana.


Andra mengangguk. Ia akan menuruti Lala. Jika Ana mendatanginya, ia akan berusaha menghindar.


Kini Andra sudah berpakaian rapi. Ia berpamitan pada Lala. Menciumi kening, pipi dan bibir Lala dengan lembut.

__ADS_1


Istrinya itu tersenyum manja dan itu membuat Andra senang. Ia akan menjaga agar senyuman istrinya itu tidak berubah menjadi air mata.


"Sayang, aku pergi ya. Kalau ada apa-apa hubungi aku." Andra mengingatkan.


"Jangan lupa kunci pintu dan jendela juga." Tambah Andra kembali.


Ada ketakutan Andra jika Ana datang ke rumah mereka. Bisa saja Ana dapat alamat mereka tah dari mana.


"Kalau nanti ada yang datang, jangan langsung buka pintu. Intip dulu siapa yang datang ya, La." Masih juga Andra mengingatkan istrinya.


Lala mengangguk patuh. Ia tahu Andra sangat mengkhawatirkannya. Pasti suaminya takut jika Ana tiba-tiba muncul saat Andra tidak ada di rumah.


"Mas tenang saja. Lala jago berantem loh." ucap Lala. Ia bisa melawan jika ada yang macam-macam.


Andra malah terkekeh dan perlahan mengelus kepala Lala. "Sayang, aku nggak mau kamu sakit hati bahkan terluka. Lebih baik menghindari dia."


Lala mengangguk dan memeluk Andra dengan erat. Rasa takut yang sempat singgah kehilangan Andra, perlahan sirna.


Wanita itu merasakan hati Andra yang hanya ada dirinya saja. Andra benar-benar mencintainya.


"Ya sudah, aku pergi." Pamit Andra kembali.


Lala pun melambaikan tangan mengiringi kepergian suaminya itu.


\=\=\=\=\=\=


Ana turun dari taksi. Ia memasang wajah kesal. Tidak tahu keberadaan Andra di mana.


Dengan langkah pelan ia berjalan memasuki perkarangan rumahnya.


"Bagus, pergi tanpa izin suamimu." Ucap Ferdi menahan wanita itu masuk. Ia menunjukkan seringainya.


Ana sangat kaget, Ferdi ada di rumahnya. Sepertinya sengaja menunggunya.


"Aku tidak ada lagi hubungan denganmu! Kita sudah bercerai." Ucap Ana mencoba melepaskan tangan Ferdi.


Ferdi berdecih. Bercerai? Tidak semudah itu.


"Aku tidak setuju. Mana mungkin aku mencerikan istriku. Ayo, kita pulang istriku sayang!"


"Aku tidak mau!"


Ferdi menggeret paksa Ana untuk ikut dengannya. Kembali ke rumahnya lagi. Ia tidak akan menceraikan wanita itu, sebelum ia merasa muak dan bosan.


"Kurang ajar!" Romeo yang baru pulang kerja, langsung turun dari mobil dan berlari menghampiri.


Bugh...


Romeo meninju wajah Ferdi.


Bagh... Bugh... Bagh... Bugh...


Begitu emosi, Romeo menghajar Ferdi dengan membabi buta. Membalaskan kemarahannya, karena telah meng-kdrt kakaknya.


Selama ini saja, Papa dan Mama bahkan dirinya memperlakukan Ana layaknya putri. Papanya tidak pernah memukul Ana. Dan Ferdi beraninya melakukan itu?

__ADS_1


"Beraninya kau menghajarku?!" Ferdi mengelap sudut bibirnya yang berdarah. Ia pun akan membalas pukulan pria itu.


Romeo pun menangkisnya dan kembali memukuli Ferdi. Ferdi pun tidak mau kalah, ia menghajarnya juga. Keduanya pun terlibat adu jotos.


"Rom, sudah Rom!" Ana hanya dapat menangis melihat perkelahian itu. Ia tidak bisa melerainya, keduanya sama-sama emosi.


"Jangan ganggu kak Ana lagi!" ucap Romeo sinis.


"Dia itu istriku!" jawab Ferdi. Ia merasa lebih berhak atas Ana, karena suaminya.


"Kalian akan bercerai!"


"Aku tidak akan menyetujuinya!"


Romeo yang tersulut emosi pun menghajar Ferdi kembali. Ia kesal dan marah.


Kedua orang tua Ana keluar. Papanya mau melerai keduanya. Tapi ragu, keduanya emosi. Silap-silap ia bisa kena jotos kedua pria itu.


"Ada apa ini?" tanya security yang kebetulan lewat.


"Pak, tolong bantu melerai mereka." Ucap Papa.


Kedua security melerai keduanya. Satu memegang Romeo satu lagi memegang Ferdi. Tubuh kedua securitu dan tegap, mampu memahan mereka.


Papa bernafas lega. Untung ada security. Jika tidak tah sampai kapan mereka akan terus berkelahi.


"Jangan temui kakakku lagi!"


"Dia masih istriku!"


Walau sudah dilerai, keduanya masih tetap berdebat juga.


"Kamu pergilah! Jangan pernah menemui putriku lagi!" Ucap Papa. Ia tidak mau Ana bersama pria itu.


"Aku masih suaminya!" Jelas Ferdi.


"Kalian akan segeea bercerai!" Ucap Papa kembali. Ia meminta security mengusir pria itu.


Ferdi sangat kesal. Ia sudah digeret security ke arah mobilnya.


"Sampai kapanpun aku tidak akan setuju. Aku tidak akan bercerai dari Ana!"


"Pak, jangan buat keributan. Kami bisa melaporkan anda ke polisi!" ancam security tersebut.


Ferdi pun masuk ke mobil dan berlalu pergi dengan kekesalan dan kemarahannya. Gagal sudah ia membawa Ana pulang. Padahal ia sudah berencana akan menghajat istrinya itu, agar tidak berani padanya lagi.


"Dek, kamu nggak apa?" Ana menghampiri Romeo. Adiknya babak belur.


"Jangan mau kembali padanya lagi, kak!" Ucap Romeo. Ia tidak akan merestui Ana dengan pria itu.


Ana mengangguk dan membawa Romeo ke dalam. Ia akan mengobati adiknya itu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2