MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 9 - BERTEMU TEMAN


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian...


"Lala..." ucap Ayaz mendatangi meja kerja putrinya. Para karyawan menunduk hormat pada Ayaz selalu pimpinan di perusahaan itu. Ayaz hanya membalas dengan senyuman.


Kini Lala bekerja di kantor papanya sebagai staff pemasaran. Ayaz bisa saja menempatkan putrinya menjadi manajer, tapi Lala menolak dengan alasan tidak punya kemampuan. Jadi ia akan belajar saja.


Lala baru seminggu bergabung di perusahaan papanya, seminggu ini dirasakannya sangat berat. Posisi staff saja sudah berat kerjanya, konon lagi jadi manajer. Bisa-bisa ia terkejut batin.


"Lala, ayo kita pulang!" ajak Ayaz.


"Papa, Lala hari ini pulang sendiri saja. Lala mau ketemu teman sama Riri. Iyakan, Ri." Lala menyenggol lengan Riri yang dari tadi menatap papanya tanpa kedip.


"Be-benar, Pak." Ucap Riri dengan kegugupannya.


"Ya, sudah. Jangan pulang sampai larut malam." Papa mengingatkan.


"Siap, Bos!" Lala memberi hormat.


"Papa pulang dulu ya!" Ayaz mengelus kepala sang putri. "Riri, titip Lala ya."


"I-i-iya, Pak." Riri makin gugup. Ayaz memintanya menjaga putri kesayangannya itu. Ia jadi merasa seperti seorang ibu yang menjaga putrinya. Riri mendadak baper.


"Ayo, Ri!" ajak Lala yang sudah membereskan mejanya. Ia melihat Riri yang masih terdiam melihat punggung papanya yang makin lama makim menjauh.


Lala menggelengkan kepala. Riri itu geraknya sangat lambat dan pemalu. Tiap ketemu papanya, Riri tidak bisa berkata-kata. Bagaimana mau ada kemajuannya? Bisa Riri hanya mencintai papanya dalam diam.


'Om Ayaz makin lama makin makin sih!' Riri membatin. Pesona Ayaz membuatnya sulit bernafas bahkan berpikir jernih.


Tak ada, Lala dan Riri sudah berada di sebuah kafe. Mereka duduk menunggu seseorang.


"Mana si Meong, Ri? Lama kali dia!" ucap Lala kesal. Sudah lama mereka menunggu tapi temannya itu tidak datang-datang.


"Katanya dia kesasar, La!" tawa Riri yang memegang ponsel. Ia sedang membalas pesan dari Romeo.


"Idih!!! Baru beberapa tahun tinggal di luar negeri, sudah lupa kampung halaman!" cibir Lala.


"Aku ke toilet dulu ya, Ri." Lala pun bangkit dan pergi ke toilet.


Riri mengangguk sambil masih fokus pada ponselnya.


Tak lama...


"Ri, sory. Aku kesasar tadi." Romeo datang dengan nafas ngosh-ngoshan. Begitu sampai parkir, ia langsung berlari masuk.


"Kaunya ini, Rom?" tanya Riri. Romeo banyak perubahan. Wajahnya tampak dewasa.


"Iya, dong! tampan aku kan?!" Romeo menaikkan alisnya. Ia mulai dengan kepedeannya.


Riri menunjukkan wajah jijiknya. Sudah lama tidak bertemu, Romeo sama saja. Pedenya nggak ada obat.


"Lala mana?" tanya Romeo menyadari tak ada Lala di antara mereka.


"Ke toilet dia."


Romeo mengangguk.

__ADS_1


"Kau pesanlah. Kami tadi sudah pesan."


"Samakan sajalah!" Romeo malas melihat buku menu lagi.


Riri pun memanggil pelayan kafe, memesankan untuk Romeo.


"Kau kerja di mana, Ri?" tanya Romeo.


"Di kantor papanya Lala. Kau rencana di mana?" tanya balik Riri.


"Belum tahu. Nanti aku mau mengirim lamaran ke beberapa perusahaan."


Lala mengangguk pelan.


"Kok lama si Lala? nanti pingsan dia."


Lala sudah cukup lama di toilet.


"Mungkin mengantri. Oh, itu dia." Riri menunjuk Lala yang berjalan ke arah mereka.


Romeo menoleh kearah yang ditunjuk Riri. Dan ia terpaku sesaat.


'Cantik!' batinnya terpesona.


Lala kini sangat cantik. Rambut ekor duanya kini sudah digerai, sungguh membuat Lala sangat mempesona.


Dan tubuh Lala juga banyak perubahan. Depan dan belakang terbentuk sempurna.


Riri senyum menyadari Romeo yang terpesona melihat Lala.


Romeo mendengus. Lala sudah cantik dan mempesona. Tapi tetap saja kalau bicara ceplos saja.


"La, lihat aku makin tampankan!" Romeo menunjukkan senyum manisnya.


"Idih... Mukamu biasa saja!" Lala menggeleng dan mendudukkan diri di samping Riri, di depan Romeo.


Makanan pesanan mereka pun datang. Mereka makan sambil bernostalgia. Saling tertawa dan menertawakan saat ingat masa lalu ketika SMA.


"... Jadi mana cowok-cowok kalian?" tanya Romeo. Sudah lama tak berjumpa, pasti teman-temannya sudah punya gebetan.


"Riri, masih cinta dalam diam. Masih betah jadi pengangum papaku." Tunjuk Lala pada Riri.


"Kau pun juga, La. Masih mengejar Om Andra." Riri tak mau kalah juga.


"Astaga!!! Sudah bertahun-tahun, selera kalian nggak berubah. Masih suka sama om-om!" Romeo menggeleng.


"Siapa om-om?" kompak Lala dan Riri bertanya.


Romeo nyengir. Keduanya malah kompak memelototinya.


"Oh ya, La. Sepertinya kau harus patah hati." Ucap Romeo dengan wajah prihatin.


"Patah hati kenapa?" tanya Lala sinis. Pikirannya jadi menerka-nerka.


"Bang Andra sudah melamar kak Ana secara pribadi. Dan..." Romeo melihat ekspresi Lala yang jadi sedih.

__ADS_1


"Dan kak Ana menerimanya. Mungkin dalam waktu dekat akan ada pertemuan keluarga." Ucap Romeo memberitahu.


"Apa? Tidak mungkin!"Lala tidak terima.


"Ya sudah, kalau nggak percaya. Aku hanya memberitahu. Sudahlah, ikhlaskan saja bang Andra. Masih banyak pria lain di luaran sana." Romeo menepuk bahu Lala. Mata Lala sudah berkaca-kaca.


"Riri... aku harus bagaimana?" Lala melihat ke arah Riri. Ia merasa sedih dengan berita tersebut. Berita yang membuat dunianya mendadak gelap.


"La, cinta nggak bisa dipaksa! Ikhlaskan saja!" ucap Riri juga menepuk bahu Lala.


Beberapa saat kemudian, Romeo mengemudikan mobil. Ia akan mengantar kedua temannya itu pulang.


Romeo melirik ke spion melihat Riri yang duduk di belakang.


Riri menggelengkan kepala. Ia melirik Lala yang duduk di samping Romeo dengan wajah sedih.


"La..."


Lala diam. Ia menghapus air mata yang terus mengalir. Seolah hatinya begitu sangat sakit.


"La, aku pulang!" ucap Riri pamitan. Ia sudah turun dari mobil.


"Hmm." Jawab Lala tidak bersemangat.


"La, om Andra bukan jodohmu. Tapi, mungkin saja jodohmu itu si Romeo." Ledek Riri menunjuk ke arah Romeo dengan bibirnya.


"Ih... kau sajalah sama dia!" sanggah Lala. Romeo bukan tipenya.


"Aku juga mggak mau berjodoh sama Lala." Tolak Romeo.


"Yakin?" ledek Riri kembali. Menurutnya Lala sama Romeo kalau disatukan pasti akan serasi.


"Kami pulang!" Lala menutup kaca mobilnya. Ia lagi malas mendengar ledekkan Riri.


"Jalan pak supir." Pinta Lala kemudian.


"Baiklah, Nyonya!" jawab Romeo sambil mendengus, tapi tetap menurut juga.


"La, apa sih yang kau suka dari om Andra?" tanya Romeo ingin tahu. Lala dari zaman SMA menyukai Andra sampai sekarang. Hampir 5 tahunan mungkin. Bisa gitu perasaan Lala awet, padahal tidak ada balasan sama sekali.


"Semua!" jawab Lala. Apapun yang ada dalam diri Andra. Lala suka.


"Sudah jangan ajak aku ngomong lagi. Aku mau tidur! Nanti sampai rumah bangunkan aku!" Lala membenarkan posisinya agar nyaman, lalu ia menutup matanya.


Lala masih sedih dan kecewa atas berita Ana yang menerima lamaran Andra. Padahal ia berharap, Ana terus menolak Andra. Hingga akhirnya Andra mundur dan berpaling padanya.


Tapi itu hanya akan menjadi khayalannya saja.


"Lala, Lala... Tidurlah!" Romeo mengelus kepala Lala yang sudah mendengkur saja.


'Apa aku harus mengejarmu?'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2