MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 11 - LALA SEDIH


__ADS_3

"Kamu ngapain di sini?" tanya Andra sinis melihat Lala yang berada di rumahnya. Mereka malam ini akan pergi ke rumah Ana, untuk melamar.


"Aku diajak Mama kok!" jawab Lala dengan wajah kesal. Andra mau marah saja setiap melihatnya.


"Mama..." Andra memanggil Mamanya. Ia tidak suka Lala di sini.


"Apa sih, Dra? Lala sudah datang? Cantiknya anak Mama ini!" Mama mencubit gemas anak angkatnya tersebut.


"Ma, Lala-"


"Mama yang ajak Lala. Lala keluarga kita juga!" jelas Mama lalu menggandeng Lala. Ia tidak mau mendengar penolakan Andra.


Lala menjulurkan lidahnya pada Andra yang tampak kesal.


Tak lama, Andra mengemudikan mobil dengan wajah kesal. Ia melirik dari spion, melirik pada Mama dan Lala.


Kedua wanita itu asyik mengobrol saja. Ada saja yang dibahas mereka. Andra melihat Mamanya yang selalu tersenyum dan tertawa bahagia.


Andra saja yang anak kandung Mamanya jarang membuat Mamanya tertawa. Apa mungkin karena ia anak laki-laki? Mama nggak punya anak perempuan, makanya Mamanya itu sayang sekali sama Lala.


Tak lama rombongan keluarga Andra tiba di rumah Ana. Mereka datang dengan dua mobil.


"Lala..." Riri langsung menghampiri Lala begitu turun dari mobil. Ia dan kedua orang tuanya ikut juga.


"Senyum dong!" ucap Riri dan Lala malah mendengus.


Lala terpaksa ikut, karena ia segan dengan mama Leni yang mengajaknya.


'Apa aku harus berhenti berharap?' batin Lala. Hubungan Andra dan Ana sudah mengalami kemajuan. Tidak baik menjadi orang ketiga di antara mereka.


"Lala, Riri..." Romeo menghampiri temannya itu.


"La, kau datang juga?" tanya Romeo. Ia memasang wajah kaget melihat Lala ikut.


Lala mendengus. "Datang dong!"


Riri dan Romeo jadi tersenyum. Lala sudah ikhlas.


"Aku sudah bawa bom. Jadi akan kuledakkan nanti!!!" Ucap Lala serius lalu tertawa mengejek keduanya.


"Lala!!!" pekik Riri dan Romeo kompak.


Sementara rombongan keluarga Andra disambut baik oleh orang tua Ana. Mereka saling bersalaman dan mempersilahkan masuk.


Andra tidak melihat Ana, ia akan menyusul ke dalam. Calon istrinya itu mungkin sedang berdandan.


Saat Andra akan berjalan, Ana pun keluar. Pria itu terpesona sesaat. Kekasihnya sangat cantik sekali.


"Ana, kamu cantik." Puji Andra yang menatap tanpa berkedip.

__ADS_1


Ana tersenyum dengan bangga. "Jelas dong, akukan memang cantik."


Andra membawa Ana menemui keluarganya.


"Sayang, kenali ini Mama dan papaku. Ini..." Andra memperkenalkan keluarganya pada Ana. Hanya mereka mewakilkan. Keluarga besarnya akan hadir saat pernikahan mereka nanti.


Ana tersenyum tipis sambil menundukkan kepala. Lalu duduk di samping orang tuanya.


Mama Leni merasa sedikit ilfil. Bukankah seharusnya Ana menyalami mereka. Bukan cuma tersenyum seperti itu. Para orang tua dari keluarga Andra cuma 4 orang dan tidak ada satupun yang disalami wanita itu.


Andra diam dan jadi malu pada kedua orang tuanya. Ana seperti tidak menghargai keluarga mereka.


Kedua orang tua Ana juga bingung dan saling melirik. Andra tadi memperkenalkan keluarganya pada Ana. Apa selama ini Ana tidak pernah datang ke rumah Andra? Hubungan keduanya termasuk cukup lama terjalin.


"Ana, kamu salam keluarga Andra." Bisik Mamanya yang merasa sedikit malu. Ana seperti tidak punya etika.


"Sudahlah itu, Ma." Jawab Ana sangat malas. Ia berharap pertemuan ini segera selesai.


Lala dan Riri masuk ke dalam rumah. "Maaf, permisi." Ucap Lala dengan sopan. Ia masuk lalu menyalami keluarga yang punya rumah. Riri juga mengikuti Lala.


Mama Leni tersenyum tipis. Lala memang beda. Sangat sopan dan beretika.


Lala terpaksa menyalami Ana. Dan Ana melihat Lala dengan tajam. Seperti pernah kenal, tapi di mana. Lama tidak pernah melihat Lala, membuat Ana lupa.


"Lala..." Leni memanggil Lala yang sudah menyalami mereka semua. Dan Lala menghampiri Mama.


"Adiknya Andra ya?" tanya Mamanya Ana. Setahunya Andra itu anak tunggal.


Keluarga Ana mengangguk mengerti. Sementara Andra hanya dapat menghembuskan nafas pelan. Mamanya malah mengklaim bocah itu sebagai anaknya.


Pembicaraan keluarga itu pun mengalir hangat. Kedua keluarga sepakat mengadakan pesta pernikahan di bulan depan.


Wajah Andra sangat bahagia. Dan Ana juga tersenyum bahagia. Semua yang berada di ruangan itu merasa senang. Tapi tidak dengan Lala. Wanita itu mencoba tersenyum dengan hati yang seperti teriris-iris.


Tak sanggup berada di tempat itu, Lala pun berjalan ke kamar mandi. Ia tidak boleh menangis.


Romeo yang melihat Lala dan mengikuti wanita itu.


Di dalam kamar mandi, Lala menangis pelan. Hatinya sangat sedih, tapi ia harus merelakan Andra dengan Ana.


'Om Andra jahat!!!' batin Lala kesal. Andra tidak pernah bisa melihat ketulusannya.


Tok


Tok


Tok


Mendengar pintu kamar mandi diketuk, Lala pun merapikan makeupnya. Ia tidak boleh menunjukkan wajah sedihnya.

__ADS_1


Lala keluar dari kamar mandi dan melihat Romeo.


"Kamu tidak apa?" tanya Romeo sedikit khawatir.


"Memang aku kenapa?" malah balik Lala bertanya.


"Nih..." Romeo memberikan sebatang coklat. "Katanya makan coklat bagus untuk mengobati patah hati."


Lala memukul Romeo dengan tasnya. Temannya itu sempat-sempatnya meledeknya.


"Enak?" tanya Romeo. Ia membawa Lala ke taman belakang rumahnya. Mereka duduk di sana.


"Enak!" Lala melahap kue yang dibawa Romeo. Ia juga menikmati jus yang sangat menyegarkan.


"Lala..." panggil Romeo.


"Apa Meong?" tanya Lala sinis.


Romeo menatap Lala sejenak. Hatinya berdebar melihat wanita itu.


'Lala lagi patah hati! jika ku katakan sekarang, aku bisa ditolak mentah-mentah.'


"Ayo, kita masuk." Ajaknya. Ia mengurungkan niatnya itu.


"Nantilah! Aku masih mau di sini" Lala merasa berat. Aura di ruang tamu itu, membuatnya sangat sedih.


Lala jadi kembali mengingat saat Andra dan Ana saling tersenyum bahagia. Mereka yang bahagia, tapi Lala yang merasa sedih.


Wanita itu mengusap air matanya yang mulai jatuh. Ia tidak bisa membendungnya.


"Lala, sudahlah jangan menangis!" Romeo mengelap air mata Lala dengan tisu. Ia menggeleng melihat wajah mewek Lala saat ini. Wajahnya minta dikasihani, tapi sangat menggemaskan di matanya.


"Kau nggak tahu apa yang kurasakan!" ucap Lala dengan air mata yang masih berjatuhan.


"Jangan nangis lagi. Lihat nih bedakmu luntur. Jadi ketahuan wajah aslimu yang jelek itu." Ledek Romeo menunjukkan tisu yang menempel bedak Lala.


"Meong, ihh!!!" Lala kesal memukuli temannya itu.


"Lala... Sudah jangan menangis lagi!" Romeo pun membawa Lala dalam pelukannya. Ia menepuk-nepuk pelan pundaknya, Lala diam dalam dekapan itu.


Romeo menenangkan wanita itu. Tapi malah hatinya yang berdebar-debar.


'Apa kamu tidak merasakannya?! Aku menyukaimu, La!'


Sementara di balik tembok. Riri senyum-senyum mengabadikan pemandangan tersebut. Ia merekam Lala dan Romeo.


'Meong-Meong, malu-malu meong!!!'


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2