MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 38 - PANTAI


__ADS_3

Lala menceritakan semua pada Papanya, tentang Andra yang sebenarnya sedang mengulur-ulur waktu untuk berpisah dengannya.


Andra yang mengatakan agar ia tidak berharap dengan pernikahan mereka. Sejauh mana Lala mau berusaha, Andra sama sekali tidak mau hidup bersama Lala. Pernikahan mereka hanya sebagai formalitas saja.


Mungkin Andra masih merasa tidak enak hati pada kedua orang tuanya, jika berpisah dalam waktu dekat.


"Pa, Lala capek." Lala memeluk sang papa dengan erat. Ia menangis membuat baju papanya jadi basah oleh air mata.


"Nanti akan papa bicarakan dengan keluarga Andra. Baiknya kalian ini bagaimana." Ayaz mengelus kepala anaknya dengan sayang.


"Pa, kita jalan-jalan yuk." Ajak Lala. Ia bosan di rumah saja semenjak menikah.


"Hmm... Baiklah. Mau ke mana?"


"Pantai!"


"Ok... Kita meluncur!" Ayaz pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membela jalanan.


Tak lama Lala dan papanya telah sampai di pantai.


Lala merentangkan tangannya seraya menghembuskan nafasnya berkali-kali. Mengeluarkan segala lelah di hatinya.


Angin yang berhembus sepoi-sepoi membuat perasaan Lala tenang. Seolah rasa sesaknya ikut terbang terbawa angin.


"Papa, terima kasih." Ucap Lala dengan wajah sendu. Hanya papanya yang paling mengerti dirinya.


"Sudah, jangan sedih lagi. Ayo kita makan!" Ajak Ayaz menggandeng putrinya.


"Pa, Lala mau ikan bakar yang besar itu. Terus minumnya es kelapa muda." Rengek Lala. Memikirkannya saja, Lala sudah ngiler.


Ayaz membawa Lala ke rumah makan pinggir pantai. Mereka duduk dengan berlesehan.

__ADS_1


Tak lama makanan pesanan mereka datang. Lala pun melahapnya dengan semangat. Papanya memesan makanan favoritnya semua.


"Papa, terima kasih." Lala mencium pipi sang Papa.


Ayaz hanya tersenyum. Meski Lala sudah besar, selamanya Lala akan menjadi putri manjanya.


\=\=\=\=\=\=


Andra sedang berada di ruangannya. Ia bergelut dengan pikirannya. Tentang alasan Lala bekerja kembali.


'Dia kira aku mau diurusi dia?!' gerutu Andra dalam hati.


Lala itu tidak bisa apa-apa. Mengurusi dirinya sendiri saja tidak bisa, sok mau mengurusi orang lain.


Lagian Lala cuma bisa masak telur ceplok. Mau jadi istri pula itu.


'Tapi Lala memang istrimu.'


'Dia sedang berusaha. Berikan dia waktu.'


'Nggak ada waktulah.'


Jiwa baik dan jiwa jahat Andra sedang berdebat.


'Kalau begitu, kenapa tidak berpisah saja?'


'Benar, menikah dengan wanita yang katanya layak dijadikan istri...'


Dan sekarang kedua jiwa itu kompak menasehatinya.


'Astaga!!!' batin Andra mengusap wajahnya. Tah untuk apa dia terpikirkan Lala.

__ADS_1


Sore menjelang, Andra pulang dari kantor. Ia masuk rumah dan menuju dapur.


Mata Andra melirik ke meja makan, biasanya di sana ada secangkir teh. Tapi hari ini tidak ada. Lala sudah tidak membuatkannya lagi.


Andra tersenyum. Ia cukup lega. Wanita itu sudah bosan. Tapi, kenapa dia malah kecarian.


Setelah menenggak air dalam lemari es. Andra beranjak ke kamarnya. Lalu menuju kamar mandi. Untuk membersihkan dirinya sejenak.


Tak berapa lama, Andra telah selesai mandi. Ia keluar kamar mandi hanya dengan terlilit handuk di pinggang.


'Astaga!!!' Andra kesal, matanya selalu melirik ke arah tempat biasa Lala menyiapkan pakaiannya.


Apa yang mau diharapkannya. Lala akan menyiapkan pakaiannya? Selama ini saja ia sudah mengacuhkannya.


Andra menggeleng dan mengambil pakaian. Ia pun segera memakainya.


Andra mendengar suara berisik di luar. Ia pun mengintip dari balik jendela.


Terlihat Lala dan Papanya baru pulang. Lala tampak tertawa-tawa. Wanita itu kelihatan sangat bahagia sekali.


Andra langsung bersembunyi saat mata Lala melihat ke arahnya.


'Dasar, pria jahat!' Lala sekilas melihat Andra yang mengintip dari balik jendela.


"Papa... Lala mau cerai!" Lala sengaja menaikkan intonasi suaranya. Ia sengaja agar Andra mendengarnya.


'Bercerai?' batin Andra merasa aneh saat Lala mengatakan kata itu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2