MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 25 - MALAM ITU


__ADS_3

Seorang pria menghela nafas. Ia melihat meja kerja Lala yang kosong. Ada rasa kehilangan tidak melihatnya.


'Lala!!!' ronta Romeo dalam hati. Ia masih tidak percaya, wanita yang ditaksirnya menikahi mantan calon abang iparnya.


"Rom, kau terlambatkan! nikmatilah penyesalanmu!" ledek Riri berucap pelan. Ia pernah mengingatkan Romeo untuk mendekati Lala segera, tapi pria itu terlalu mengulur banyak waktu.


Romeo hanya dapat menghela nafas berat.


"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kak Ana menikah dengan temannya itu? Dan bukannya dengan om Andra?" tanya Riri kembali. Ia sangat penasaran.


Romeo menggeleng. Apa yang terjadi hanya rahasia keluarga mereka saja.


Melihat Romeo diam dan tidak mau bercerita, Riri pun mengangguk. Riri akan mengerti saja.


Sementara Romeo mengingat saat itu...


Malam sebelum pernikahan Ana, pria itu berencana akan mendatangi rumah Lala. Romeo tahu Lala pasti sedih dan ingin menghiburnya.


Romeo sengaja menepikan mobil tidak jauh dari rumah Lala. Pandangannya tertuju pada Lala yang terdiam di balkon rumah.


Lama Lala termenung menatap arah rumah Andra. Lalu Lala terlihat mengusap air matanya.


Romeo ingin saja memeluk dan menghibur wanita itu. Tapi mengingat, Lala yang beberapa hari ini sudah menjaga jarak darinya. Hatinya jadi berat.


Bukan karena tidak berani menghadapi Lala. Tapi sikap Lala yang langsung marah dan tidak lihat kondisi sekitar, itu yang membuat Romeo berpikir dua kali.


Romeo merasa sedikit malu, jika nanti Lala berucap kasar padanya di depan orang lain. Sebagai pria, ia tidak menerima diperlakukan seperti itu.


'Baiklah! Setelah pernikahan kak Ana. Aku akan pelan-pelan saja mendekatimu!' senyum Romeo pada sebuah kotak kecil berisi cincin.


Romeo ingin melamar Lala, tapi jika kondisi masih seperti ini. Wanita yang ditaksir pasti akan menolaknya.


'Lala... sabar ya!' Romeo mengangguk dan menyimpan kotak kecil tersebut dalam sakunya.


Romeo diam di dalam mobil sambil melihat wanita di balkon itu.


Setelah beberapa saat Lala pun masuk ke dalam.


Romeo menghela nafas panjang. Lalu memakai sabuk pengaman dan mengemudikan mobilnya.


Tak Lama Romeo sampai rumah dan langsung berjalan menuju kamarnya. Hari sudah terlalu malam, ia harus segera tidur. Besok pagi harus bersiap untuk pernikahan kakaknya.


'Kak Ana!' mendadak Romeo mengingat kakaknya. Tadi Ana pergi dengan temannya itu.


Pria itu pun keluar menuju kamar Ana. Ia mengetuk pintu.


"Kak Ana." Panggil Romeo.


Tak ada jawaban, Romeo kembali mengetuk pintu. Dan tak ada jawaban juga. Ia pun menekan handle pintu dan ternyata pintu tidak dikunci.


"Kak Ana..." Romeo membuka pintu dan melihat tidak ada kakaknya di kamar itu.


Romeo mencari sekeliling kamar dan tidak menemukan kakaknya. Ia pun keluar kamar dan menuju kamar orang tuanya.

__ADS_1


"Ma... Mama!" ketuk Romeo pada pintu kamar sang Mama.


"Kenapa Rom?" tanya Mama dengan wajah mengantuk.


"Kak Ana, mana Ma?" tanya Romeo Hari sudah malam, di mana kakaknya itu.


"Ana?" Mama mencoba meloading. "Bukannya kamu yang mau menjemput Ana."


Mama mengira Ana sedang bersama Romeo.


Romeo pun meraih ponsel. Ia akan menghubungi kakaknya itu.


"Ma, nomor kak Ana nggak aktif. Di mana kak Ana sekarang?" Romeo tampak tidak senang.


"Ana!" Mama jadk khawatir. Kenapa putrinya belum pulang juga?


"Telepon Andra. Mungkin mereka sedang bersama!" saran Mama. Meski seharusnya tidak boleh bersama menjelang hari pernikahan, bisa jadi mereka diam-diam bertemu di belakang mereka. Anak zaman sekarang, payah dikasih tahu.


Romeo mengangguk dan menelepon Andra, tapi tetap sama. Nomornya tidak aktif.


"Ada apa ini?" tanya Papa yang baru bangun karena suara berisik.


"Pa, Ana belum pulang!" ucap Mama sangat tidak tenang.


"Apa?" Papa sangat kaget. "Telepon Andra!"


Meski Papa sudah merestui Andra, tapi Andra tidak boleh sesuka hati dengan putrinya.


Papa meremas tangannya. Ia sangat geram. Andra tidak bisa dipercaya.


"Telepon keluarga Andra saja!" pinta Papa yang sudah emosi.


Romeo diam saja. Ana tadi siang pamit mau pergi dengan teman-temannya. Ferdi termasuk temannya.


Entah mengapa, Romeo curiga dengan pria itu.


"Pa, Ma... tenanglah. Aku punya teman yang bisa mengecek lokasi kak Ana. Biar aku minta bantuan dia." Saran Romeo. Ia merasa memastikan terlebih dahulu.


"Untuk apa? Telepon saja keluarganya, biar merema melihat kelakuan putranya itu!" Papa kembali berucap. Menurutnya Andra sangat tidak sabaran jadi pria.


"Jangan, Pa. Kita cari kak Ana saja dulu. Setelah itu terserah papalah." Romeo menenangkan kedua orang tuanya. Saat ini keberadaan Ana yang terpenting. Jika Ana bersama Andra masih bisa dibicarakan secara kekeluargaan. Jika bersama Ferdi, itu yang ditakutkan Romeo.


Romeo menghubungi temannya itu. Dan tak lama temannya mengirimkan lokasi Ana.


'Hotel Sukma?' batin Romeo membaca pesan tersebut.


Pria itu melihat kedua orang tuanya bergantian.


"Bagaimana sudah tahu lokasi Ana?" tanya Mama dengan raut wajah cemas.


"Kak Ana... di... lokasinya sekarang di hotel Sukma." Romeo memberitahu.


"Andra!!!" Papa tambah emosi. Andra membawa putrinya ke hotel.

__ADS_1


"Pa, tenanglah. Biar aku yang jemput kak Ana." Ucap Romeo menenangkan.


"Besok kak Ana akan menikah. Jadi kak Ana harus di rumah." Jelas Romeo kembali.


"Papa, akan ikut menjemputnya."


"Mama juga."


"Tidak, Ma. Mama di rumah saja. Biar aku dan Papa saja. Ini sudah malam." Bujuk Romeo. Biar saja ia dan Papa yang menjemput Ana.


"Nanti kabari Mama langsung."


Romeo mengangguk dan segera berlalu dengan Papa. Mereka terlihat tergesa-gesa. Bahkan Romeo melajukan mobil dengan kecepatan kencang.


Tak lama mereka sampai di hotel. Kini mereka berada di unit samping kamar lokasi Ana. Romeo sempat memesan satu kamar.


"Ayo, kita jemput Ana!" ajak Papa tidak sabaran. Untuk apa mereka malah memesan kamar.


"Sebentar, Pa." Romeo memastikan kembali. Jika lokasi Ana sudah benar atau belum.


"Ayo, Pa." Ucap Romeo. Ia sudah memastikan lokasi ponsel Ana.


Romeo menghembuskan nafasnya pelan. Lalu menekan bel. Dan tak lama...


"Rom..." Ucap seorang pria terkejut melihat Romeo di sana.


'Siapa dia?' Papa bingung seharusnya Andra yang di dalam.


Romeo merasakan hatinya bergemuruh. Perasaannya jadi tidak enak. Ia pun mendorong Ferdi dan masuk ke kamar hotel itu.


"Apa yang kau lakukan?" Ferdi yang bertelanjang dada kesal Romeo menyelonong begitu saja.


Romeo menuju tempat tidur, ia melihat ada seseorang bergumul dalam selimut.


"Mau apa kau? Kau sudah masuk seenaknya, aku bisa melaporkanmu!!!" ancam Ferdi menahan Romeo.


Romeo tidak peduli, ia mendorong Ferdi. Ia harus melihat siapa wanita di balik selimut itu.


Dengan nafas naik turun, Romeo membuka selimut itu. Ia melihat wanita yang sedang menangis.


"Romeo..." ucap Ana dengan berlinang air mata.


Romeo benar-benar kesal, ia pun menghajar Ferdi habis-habisan.


"Apa yang sudah kau lakukan???"


Bugh, bagh, bugh, bagh...


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2