
"Andra."
Andra yang telah memarkirkan mobilnya, terkejut melihat Ana. Pagi-pagi sudah berada di kantornya saja.
"Aku bawa sarapan untukmu." Ana memberikan kotak bekal pada Andra.
"Tidak usah. Aku sudah sarapan." Ucap Andra. Walau Lala tidak bisa masak, tapi istrinya itu selalu membuatkan sarapan yang bisa dimasaknya. Tidak membiarkannya pergi dengan perut kosong.
"Aku membuatkan untukmu, sebagai permintaan maafku. Tapi kamu..." Ana berkata lirih. Matanya berkaca-kaca. Sedih Andra tidak mau menerima pemberiannya.
"Baiklah. Terima kasih. Lain kali tidak perlu repot-repot." Jelas Andra. Ia tidak mau nanti Lala salah paham padanya.
"Kalau begitu, aku pulang." Ucap Ana akan pergi.
"Aku akan mengantarmu." Ucap Andra. Ia kasihan melihat Ana, jika pulang sendirian.
Ana tersenyum samar. Andra membukakan pintu mobil untuknya. Lalu Andra naimkdari pintu lainnya. Setelah itu mobil pun melaju.
"Dra, terus saja nanti ya." Ucap Ana memberitahu.
"Terus? tapi rumah kamu belok?" tanya Andra bingung.
"Aku sudah pindah. Aku tidak mau tinggal dengan kedua orang tuaku. Tidak mau merepotkan mereka." Jelas Ana kembali.
Andra mengangguk dan mengikuti arah yang ditunjuk Ana.
Mereka sampai di sebuah apartemen.
"Kamu tinggal di sini?" tanya Andra.
"Benar. Kalau begitu aku pergi. Terima kasih, Dra." Ucap Ana lalu turun dari mobil.
Andra akan melajukan mobilnya, tapi ia melihat dompet. Ia membukanya, ternyata dompet Ana.
Andra pun turun dan mengejar Ana dan memberikannya.
"Terima kasih, Dra." Ana menerima dan menyimpan di tasnya.
__ADS_1
Lalu Ana pun pamitan dan berjalan kembali. Tapi tiba-tiba...
Bruk...
"Ana, kamu tidak apa?" tanya Andra melihat Ana terjatuh. Ia pun membantu Ana berdiri. Tapi tubuh wanita itu sangat lemah.
"Kita ke rumah sakit?" tanya Andra.
"Ti-tidak usah, Dra. Aku tidak apa." Ana akan berjalan kembali.
"Aku akan mengantarmu." Andra pun menggendong tubuh Ana.
Ana tersenyum samar. Andra masih sangat perhatian padanya.
"Ini kamarku." Ucap Ana ketika mereka telah sampai.
Andra menurunkan Ana. Ia melihat Ana masuk dengan sempoyongan.
Terpaksalah Andra memapah Ana masuk. Ia mendudukkan Ana di sofa. Lalu mengambilkan air minum.
Ana sangat senang. Andra masih peduli dan mengkhawatirkannya. Pria itu masih mencintainya.
Ana mengangguk pelan dan Andra pun segera pergi.
'Lihat saja, sebentar lagi Andra akan kembali padaku!'
\=\=\=\=\=\=
"Lala lagi apa ya?" gumam Andra setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Andra meraih ponsel dan menelepon Lala. Ia merindukan sang istri. Penasaran apa yang sedang dilakukan sang istri. Mungkin Lala sedang mandi.
"Sayang, kamu lagi apa?" tanya Andra begitu panggilan tersambung.
"Lala lagi di pasar, Mas." Jawab Lala sedikit menaikkan nada bicaranya. Suasana pasar cukup ramai.
"Pasar?"
__ADS_1
"Iya. Lala lagi belanja. Bahan makanan habis, Mas." Ucap Lala.
Andra melihat arlojinya. Sebentar lagi jam kantor berakhir.
"Sayang, share lokasi kamu. Aku akan menjemput kamu ke sana." Pinta Andra. Istrinya pasti akan kesulitan membawa belanjaan.
"Ti-tidak usah, Mas. Lala pulang sendiri saja. Naik ojek." Lala tidak mau merepotkan suaminya.
"Aku sekalian pulang. Kirim Lokasimu sekarang." Pinta Andra kembali.
"Baiklah. Lala tunggu, Mas." Lala tersenyum bahagia, lalu mengakhiri panggilan. Ia mengirim lokasinya. Dan segera berbelanja. Agar nanti saat Andra tiba, tidak menunggunya terlalu lama.
Sementara, Andra sudah menerima lokasi Lala. Ia pun berjalan keluar kantor.
Saat membuka pintu mobil, ponselnya berdering.
"Halo..." Jawab Andra segera.
"Dra, tolong aku." Ucap Ana di seberang sana.
"Kamu kenapa?" tanya Andra mengkerutkan dahi. Suara Ana terdengar kesakitan.
"Kepalaku pusing sekali!" Ucap Ana dengan nada minta dikasihani.
"Baiklah. Tunggu sebentar." Andra pun mengakhiri panggilan itu.
Pria itu masuk mobil dan akan melajukan mobilnya. Tapi sejenak ia berhenti dan berpikir.
"Aku sudah janji akan menjemput Lala." Andra mengingat janjinya. Ia bingung menjemput Lala belanja atau mendatangi Ana yang sedang sakit.
Lala atau Ana?
Andra meraih ponselnya kembali. Dan ia menelepon seseorang.
"Halo..."
.
__ADS_1
.
.