MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 16 - SUDAH MENIKAH


__ADS_3

Lala sudah memakai pakaian senada yang diberikan keluarga Andra. Hari ini hari pernikahan Andra. Ia harus seragam dengan mereka. Lala sudah termasuk keluarga mereka. Walau tidak ada hubungan apapun.


"Cantiknya cucu nenek ini!" puji nenek melihat Lala. Cucunya sangat mempesona, tapi salahnya wajah cantik itu ditekuk terus.


"Ayo, kita berangkat!" ajak Ayaz. Ia merangkul putrinya yang berwajah sembab itu.


"Lala, karyawan Papa ada yang naksir sama kamu. Mau Papa kenali? menurut Papa orangnya baik." Ayaz mencoba menghibur putrinya. Bagaimana pun Lala tidak boleh memuja suami orang terus.


"Nggak mau!" tolak Lala tegas. Ia tidak mau dicomblangi seperti itu. Andra masih terukir di hatinya.


Di teras rumah, Lala melihat wajah Andra yang sangat bahagia. Penampilan Andra juga sangat rapi dan bersinar. Aura orang yang akan menikah, sungguh meresahkan.


'Om Andra!!!' batin Lala memuja.


"Lala, kamu cantik sekali nak." Leni melihat dan mendatangi Lala. Meski wajah Lala tampak sedih, tapi Lala tetap cantik.


"Jangan sedih gitu! Kamu nanti mau Mama kenali sama sepupu-sepupunya Andra. Lebih tampan pun dari Andra." Bujuk Leni merasa tidak tega melihat Lala berwajah sedih begitu.


Lala masih menyemberutkan wajahnya.


"Mama!" panggil Andra tidak sabaran. Mamanya malah mendatangi bocah itu.


Leni berpamitan pada Lala dan papanya. Lala akan naik mobil bersama papa dan neneknya.


Leni pun menuju mobil yang sudah menunggu.


"Mama ngapain sih, nyamperin Lala lagi?!" Andra merasa kesal.


"Namanya putri Mama, ya disapa dululah!" jawab Mama sambil melihat ke sisi samping. Mobil sudah berjalan dan akan membawa mereka menuju gedung pernikahan.


"Ma, setelah Ana jadi istriku. Mama harus menganggap Ana seperti putri Mama juga. Nggak usah lagi dekat sama si Lala." Andra mengingatkan Mamanya. Untuk apa menganggap orang lain yang tidak ada hubungan, menjadi putri Mamanya.


"Lala itu sangat ramah dan mau mengobrol sama Mama. Lala juga mau dekat sama Mama. Itu si Ana, sudah kalian mau menikah begini. Dia itu tidak pernah sekalipun datang ke rumah kita." Mama jadi menumpahkan kekesalan yang selama ini coba dipendamnya.


Wanita paruh baya itu kesal, Andra tidak memperbolehkannya dekat dengan Lala lagi. Malah disuruh dekat dengan Ana. Ana saja tidak mau berusaha dekat dengannya.


"Dia malu, Ma." Masih itu alasan Andra. Ia berharap setelah menikah, Ana akan dekat dengan mamanya.


"Malu! Bertahun-tahun malu saja tahunya dia." Dumel Mama pelan.


Tangan Mama disentuh Papa, membuat Mama jadi melihat gelengan suaminya. Mengisyaratkan untuk tidak membahas lagi.


Deringan ponsel membuat Andra meraih ponselnya. Ia pun tersenyum melihat penelepon.


Ana meneleponnya. Mungkin wanitanya sudah sampai.


"Iya, sayang..." Ucap Andra menjawab panggilan Ana.


...

__ADS_1


"Apa?"


...


"Tidak mungkin!"


"Kenapa Dra?" tanya Papa merasa bingung. Andra berwajah tegang setelah menerima telepon.


"Pak, kita ke rumah Ana sekarang!" pinta Andra pada pak supir, setelah menutup panggilannya.


"Andra, ada apa?" tanya Mama serius. Ia jadi bingung.


Andra menatap papa dan mamanya bergantian.


"A-Ana sudah menikah-"


"Apa???"


\=\=\=\=\=\=


"Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Ana tidak bisa menikah dengan Andra. Ana sudah menikah dengan pria lain." Jelas Papanya Ana sambil menundukkan kepala. Mereka sangat merasa bersalah dan malu pastinya.


"Kenapa jadi seperti ini?" tanya Papanya Andra tidak mengerti. Rencana sudah diatur dari jauh-jauh hari. Kenapa begitu di hari H, semuanya berubah?


"Kami mohon maaf. Mohon maafkan kami. Sekeluarga kami mohon maaf pada Pak, Ibu. Terutama Andra juga!" Papanya Ana hanya bisa meminta maaf tanpa mengatakan alasan putrinya itu tidak jadi menikah dengan Andra dan malah menikah dengan pria lain.


"Ana, katakan padaku... kenapa kamu menikah dengan dia?!!!" tunjuk Andra pada pria di samping Ana. Wajah Andra sangat emosi dan meminta penjelasan.


Ana hanya bisa menunduk dan menangis. Ia juga tidak menyangka hal seperti ini bisa terjadi.


"Apa yang sudah kau lakukan padanya?" Andra yang marah menarik kerah pria yang berada di samping Ana.


Andra yakin ada sesuatu yang sudah terjadi antara pria itu dan kekasihnya. Hingga pihak keluarga Ana, harus menikahkan mereka.


Pria itu mengangkat bahunya, seakan ia juga tidak tahu.


Andra pun melayangkan kepalan tangannya ke wajah pria yang memang dari dulu tidak disukainya itu.


Bugh, bagh, bugh, bagh...


Tak terima dipukuli Andra, pria itu membalasnya. Ia memukuli Andra juga.


"Sudah hentikan!" para paruh baya melerai mereka.


"Kau tanya kenapa aku menikah dengan Ana?" tanya pria itu sambil mengusap sudut bibirnya. Mungkin ia akan menjawab saja.


"Karena kami telah menghabiskan malam panas yang bergairah!" ucap pria itu dengan senyum smirk.


"Ferdi!!! aku akan membunuhmu!!!" Andra kembali memukuli Ferdi. Ia sangat marah mendengar alasan pria itu.

__ADS_1


Para orang tua tidak bisa melerai kedua pria itu. Karena keduanya sama-sama sudah emosi.


"Hentikan!!!" Romeo yang datang berusaha merelai. Ia memegangi Ferdi dan para orang tua memegangi Andra.


"Aku sudah mencicipi Ana, apa aku harus mengembalikannya padamu?!" ejek Ferdi dengan tatapan jijik.


"Bah-jingan!" Andra benar-benar emosi dan akan menghajar Ferdi lagi. Tapi...


Bugh, bugh, bugh...


Romeo sudah menghajar Ferdi lagi. Ia tidak suka dengan ucapan kasar pria itu pada kakaknya.


Ana yang sudah bersimbah air mata, pun berlari masuk ke kamarnya. Ia tidak sanggup berada di situasi ini. Hal yang tidak ia sangka, malah menikah dengan pria lain yang bukanlah Andra.


Mama Leni memegangi dadanya. Ia merasa sakit dan terasa sesak. Perlahan tubuhnya mulai merosot.


"Mama!!!" panggil Papa khawatir melihat istrinya terkulai lemas.


"Mama!!!" Andra menghampiri Mama leni. Melihat ibu kandungnya kesulitan bernafas.


"Dra, kita harus bawa Mama ke rumah sakit!" pinta Papa.


Tanpa banya berpikir Andra mengangguk dan menggendong Mamanya. Emosinya tadi yang meluap, mendadak menjadi rasa takut dan cemas melihat Mamanya.


Andra melupakan kemarahan, sakit hati dan kecewanya. Kondisi mamanya yang terpenting sekarang.


Beberapa saat kemudian, Andra mondar mandir di depan ruangan IGD. Dokter sedang memeriksa mamanya.


Pria itu sangat tidak tenang dengan kondisi Mamanya. Mamanya pasti shock berat karena kejadian ini.


"Dra, tenanglah!" Papa menenangkan putranya. Walaupun sebenarnya, ia juga takut terjadi apa-apa pada istrinya.


Begitu Dokter keluar dari ruangan itu. Andra dan Papa segera menghampirinya.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Papa dengan raut wajah bingung dan sedih.


"Istri anda sudah tidak apa-apa. Beliau mengalami shock dan sekarang kondisinya sudah stabil." Jelas Dokter pada kedua pria itu.


Andra dan Papa menghela nafas lega. Mereka bersyukur Mama baik-baik saja.


"Boleh kami melihat Mama?" Andra ingin melihat kondisi Mamanya sekarang.


Dokter pun mengangguk.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2