MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 43 - MERAWAT


__ADS_3

"Lala, apa yang kamu lakukan?" tanya Andra dengan suara lirih. Ia setengah sadar mengambil handuk yang diletakkan di kepalanya.


"Mas Andra lagi demam. Sudah tidurlah lagi!" Lala meraih handuk dan meletakkan kembali ke kening Andra.


Andra yang memang masih mengantuk kembali menutup matanya. Suara dengkuran mulai terdengar pelan.


'Cepat sembuh ya, suaminya Lala!' harap Lala.


"Lala, bagaimana keadaan Andra?" tanya Mama saat masuk ke kamar. Ia khawatir dengan sang putra.


"Sudah nggak panas lagi, Ma. Tadi sudah minum obat juga." Ucap Lala sambil membasahi handuk dan meletakkan di kening Andra.


"Oh, syukurlah." Mama bernafas lega. "Lala, kamu istirahatlah."


Hari sudah tengah malam dan Lala masih merawat putranya.


"Iya, Ma. Mama juga istirahatlah. Biar Mas Andra Lala yang jaga." Ucap Lala sambil mengangguk agar sang Mama tidak perlu terlalu khawatir.


"Mama balik ke kamar. Kamu istirahat ya." Mama masih mengingatkan.


"Baik, Ma." Jawab Lala.


Saat Mama sudah keluar dari kamarnya. Lala mengambil handuk di kening Andra. Ia meletakkan tangan di dahi, merasakan suhu tubuh Andra yang mulai stabil.


Lala pun kini mengelap wajah Andra. Mengelap wajah tampan itu dengan pelan dan hati-hati. Ia tidak mau membuat Andra terbangun.


'Tampannya suami Lala!' puji Lala mengelap wajah Andra. Sudah lama Lala tidak melihat wajah Andra sedekat ini. Dan ketampanan Andra makin menjadi-jadi.


'Lala jangan berharap lebih! Sebentar lagi kau akan menjadi janda! Andra akan menceraikanmu!' Lala bergelut dengan pikirannya.


Lala kini mengelap tangan Andra. Tangan pria itu sangat besar. Ia pun menyatukan jemarinya.

__ADS_1


"Kapan kita bergenggaman seperti ini?" Lirih Lala berucap. Ia ingin menjalani kehidupan pernikahan dengan semestinya.


'Lala... Jangan berharap apapun!!!' ronta Lala seraya melepas genggaman tangannya. Ia pun membasahi handuk dan meletakkan di kepala Andra kembali.


Lala bangkit dan duduk di sofa. Ia akan menemani Andra sampai pagi.


"Apa Mas Andra masih panas?" Lala kembali menghampiri Andra dan memegang dahinya.


Lala bernafas lega, Andra sudah tidak panas lagi. Dan ia kembali ke sofa. Lala menyandarkan tubuhnya, ia akan tidur di sofa saja.


Saat mulak terpejam, Lala mengingat Andra dan berlari lagi. Kembali mengecek kening suaminya. Lalu kembali ke sofa lagi.


Tak sudah berapa kali, Lala bolak balik. Hingga akhirnya ia memutuskan duduk di tepi tempat tidur. Ia akan merawat Andra sampai pagi.


"Hoammm..." Lala menguap panjang. Hari sudah pagi. Ia sudah semalaman tidak tidur menjaga Andra.


Lala meraih handuk dan mengecek kembali. Kening Andra sudah tidak panas.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Andra. Ia melihat handuk yang dipegang Lala. Lalu ada botol obat di atas meja.


"Mas Andra demam. Mau bubur? biar Lala minta tolong Mama membuatkannya." Ucap Lala. Ia tahu Andra tidak mau memakan masakan buatannya. Lagian ia juga tidak bisa membuat bubur.


Andra samar-samar mengingat dirinya pulang saat mabuk. Ia juga mengingat Lala yang mengkompresnya dengan handuk.


'Apa dia merawatku semalaman?' tanya Andra. Ia melihat mata Lala yang memerah, seperti kurang tidur.


"Aku sudah katakan. Jangan berharap dengan pernikahan ini!" Andra kembali mengingatkan Lala.


"Ma-maaf. La-Lala akan panggil Mama saja!" Lala mengusap air matanya, ia pun bergegas keluar dan mencari Mamanya.


Mama sedang berada di dapur.

__ADS_1


"Ma, Mas Andra sudah bangun." Ucap Lala memberitahu.


"Oh, ini Mama sudah buatkan bubur. Kamu suapi Andra ya." Mama menyalin bubur ke dalam mangkok.


"Lala mau pulang, Ma. Maaf, Ma." Lala menundukkan kepala sejenak dan berlalu pergi. Ia pun berlari kembali ke rumahnya.


Mama jadi bingung. Padahal ini kesempatan mereka untuk dekat dan berbaikan.


'Apa Andra memarahinya?' Mama yakin. Putranya pasti berkata kasar pada Lala.


Mama pun membawa bubur berjalan masuk ke kamar Andra.


"Andra, kamu apakan Lala?" tanya Mama tidak senang.


"Tidak ada." Jawab Andra sambil menaikkan bahunya.


"Lala itu sangat mengkhawatirkanmu. Tadi malam ia terus merawatmu. Kamu baik sedikit padanya." Omel Mama pada sang putra.


"Aku tidak melakukan apapun!" Bela Andra. Lala saja yang baperan.


"Ini makanlah. Nanti kamu ke rumah Lala. Ajak dia pulang. Sudahlah Andra, belajar menerima Lala. Kamu mau cari wanita seperti apa lagi? Tidak ada yang bisa tulus mencintai kamu, seperti Lala mencintaimu." Mama menyadarkan putranya itu.


Andra diam. Ia juga menyadarinya. Ana, wanita yang sangat ia cintai. Wanita yang selalu mengatakan sangat mencintainya, nyatanya bisa mencampakkannya begitu saja.


Andra melahap buburnya dengan pikiran yang bergelut.


'Apa aku harus menjemputnya?'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2