MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 70 - HAMIL


__ADS_3

Kini Andra dan Lala duduk di ruang makan. Mereka meminum teh hangat. Tadi begitu sampai rumah, Lala segera membuatkan teh.


"Kamu belanja apa?" tanya Andra setelah meminum tehnya. Ia melihat bungkusan bawaan Lala. Sengaja membahas itu, tak mau membahas soal Ana.


"Lala beli pakaian, Mas." Lala pun mengambil bungkusan itu. Ia menunjukkan pada Andra.


"Bagus!" Andra senang. Lala membelikannya pakaian couplean.


"Buat kita pergi kondangan, Mas." Ucap Lala dan Andra mengangguk.


Andra memandangi wajah cantik Lala. Makin dipandang makin pula ia jatuh cinta.


Lala menundukkan kepala, pandangan Andra membuatnya baper. Ia kan jadi malu.


Tangan Andra terulur menggenggam tangan Lala. Genggaman itu cukup erat, menandakan jika Andra tidak ingin berpisah darinya.


"Ayo, kita tidur!" ajak Andra.


Lala mengangguk dan bangkit. Ia akan membereskan meja makan terlebih dahulu.


"Besok saja. Aku sudah ngantuk, La." Ucap Andra menahan tangan Lala. Ia menguap, rasa ngantuk menguasainya.


Sampai kamar, Lala menuju kamar mandi. Ia akan membersihkan diri terlebih dahulu.


Sementara Andra, langsung menjatuhkan diri di tempat tidur empuk mereka.


Tak lama Lala keluar. Ia sudah berganti dengan pakaian tidur. Sebelum ikut berbaring, Lala melakukan ritual perawatan wajah. Biar selalu cantik dan kinclong. Jadi Andra makin cinta dan tidak berpaling.


"Pasti Mas Andra sangat kelelahan." Ucap Lala pelan melihat suaminya sudah terpejam saja.


Lala naik ke tempat tidur, ia berbaring di samping Andra. Memandangi wajah tampan itu sejenak.


Pikiran Lala mengingat beberapa saat yang lalu. Saat mereka di Mall bertemu Ana.


Ana ingin bicara dengan Andra. Dan suaminya mengacuhkan wanita itu. Terlihat sekali sikap Andra yang tidak suka dan tidak mau diganggu.


Andra kini benar-benar telah melupakan Ana dan melabuhkan hatinya untuk dirinya.


Lala mengulum senyum. Ia sangat bahagia sekali.


"Selamat tidur, sayang. Mimpi indah!" ucap Lala lalu mendaratkan kecupan di pipi kanan dan kiri Andra.


\=\=\=\=\=\=


Huwekk... Huwekk...


Andra terbangun mendengar suara itu. Ia melihat tidak ada Lala di sampingnya.


Huwekk... Huwekk...


Mendengar suara itu dari kamar mandi, Andra segera bangkit.


"Sayang..." Panggil Andra mengetuk pintu. "Kamu tidak apa?"


Wajah bangun tidur itu tampak khawatir dan cemas sekali.


"Lala, buka pintunya!" pinta Andra.


Suara muntahan yang malah menjawab.


"Sayang..." Andra mengetuk pintu. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada istrinya.

__ADS_1


Krek


Pintu pun terbuka.


"Sayang..." Andra melihat wajah Lala yang begitu pucat. Istrinya begitu sangat lemah sekali.


"Mas Andra... Lala sepertinya masuk angin." Ucapnya pelan.


Andra menggendong Lala dan membaringkan di tempat tidur.


"Aku akan menelepon dokter." Andra meraih ponselnya.


"Nggak usah, Mas. Lala cuma masuk angin. Sebentar lagi sembuh kok." Lala menahan Andra menelepon dokter.


Andra memegang kening Lala, tidK demam. "Aku akan ambil minum!"


Tak lama Andra kembali masuk membawa air hangat. Ia berikan pada Lala.


"Pelan-pelan minumnya. Masih panas." Ucap Andra.


Lala menyendokkan air hangat ke dalam mulutnya. Rasa mualnya mulai berkurang.


"Masih mual?"


Lala menggeleng. Ia menatap Andra mewek, suaminya perhatian. "Terima kasih, Mas."


Andra mengajak Lala ke dokter, tapi tetap ditolak. Hingga Andra mengambil minyak angin dan melumuri di tubuh sang istri.


"Istirahatlah!" ucap Andra. Ia membenarkan selimut istrinya dan mendaratkan satu kecupan.


"Jangan sakit!"


Andra menggeleng kepala. Mana mungkin ia meninggalkan Lala sendirian. Istrinya sedang sakit.


"Aku akan libur, sayang."


"Lala nggak a-" Lala tak jadi melanjutkan perkataannya. Andra menatapnya tajam.


"Tidurlah!" pinta Andra. Ia mengelus kepala Lala dan tak lama Lala pun terlelap juga.


Andra membuka gorden jendela, hari sudah pagi. Ia mematikan lampu kamar dan berjalan keluar. Menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.


Andra melihat bahan-bahan apa saja yang tersedia. Hanya ada mi instan. Ia ingat sepertinya Lala tidak pernah berbelanja lagi, karena tidak diizinkan masak lagi.


Tak lama Andra masuk kamar. Ia membangunkan Lala.


"Sayang, ayo sarapan." Ucap Andra menyodorkan bubur pada Lala. Ia membeli kebetulan tadi ada yang lewat.


Lala menggeleng, ia tidak berselera makan.


"Kamu makan. Kalau nggak makan makin sakit."


Lala meraih mangkuk itu dan menyerahkan kembali.


"Kenapa?"


Lala bangkit dan berlari ke kamar mandi. Suara muntahan kembali terdengar.


"Kita ke dokter!" Andra memijat tengkuk Lala.


Andra akan membawa istrinya ke dokter saja. Lala tidak mau makan, tubuh juga sangat lemah.

__ADS_1


"Sudah, Mas." Ucap Lala.


Andra mengangguk, ia mengelap wajah Lala dengan handuk. Lalu menggendongnya ke tempat tidur.


Dari lemari Andra mengeluarkan jaket dan memakaikan pada Lala.


Andra kembali menggendong Lala. Ia tidak mau nanti Lala malah jatuh.


"Mas Andra..." Lirih Lala berucap. Matanya berkaca-kaca. Suaminya begitu peduli saat ia sakit.


Sekitar 20 menit, mobil masuk ke area parkiran. Andra memarkirkannya.


Lala akan turun, tapi Andra menolak dan lebih memilih menggendong sang istri.


"Mas, Lala jalan saja." Lala malu. Mereka jadi pusat perhatian.


"Nanti kalau sudah sembuh. Mau kamu jalan bahkan berlari pun terserah." Ucap Andra.


Tak lama, dokter kini memeriksa Lala. Wajah Andra tegang, takut Lala mengidap penyakit yang serius.


"Mual dan muntah itu hal wajar di awal kehamilan. Pak Andra, selamat istri anda hamil." Ucap dokter tersenyum memberitahu hasil pemeriksaannha.


"Ha-hamil?" Lala kaget bukan main. Ia sedang hamil, ada malaikat kecil dalam perutnya.


"Lala..." Andra menggenggam tangan itu. Ia sedikit lega, ternyata istrinya tidak sakit yang bahaya. Lala sedang mengandung anaknya.


"Selamat, sayang." Andra memeluk tubuh Lala. Kini suara tangisan Lala terdengar.


"Sudah, jangan nangis lagi." Andra mengelus kepalanya.


"Ibu Lala sudah diperbolehkan pulang. Saya akan meresepkan obat untuk mengurangi mualnya..." dokter berucap panjang lebar.


Andra dan Lala mendengarkan dengan fokus. Tangan mereka saling mengeratkan.


Dalam perjalanan, Andra mengendarai mobilnya sedikit lambat. Kata dokter, awal kehamilan sangat rentan. Tidak boleh melakukan kegiatan yang melelahkan.


"Mas, Lala mau menelepon Mama Leni, lalu Papa Ayaz!" Lala ingin memberitahu kabar gembira ini.


"Nanti, sayang. Setelah kita sampai rumah." Andra mengelus kepala Lala dan Lala menganggukkan kepala menurut.


"Mas, anak kita laki-laki atau perempuan?" tanya Lala. Kandungannya masih awal, jadi belum bisa dilihat jenis kelaminnya.


Andra senyum. Mau laki-laki mau perempuan anak mereka, ia tidak masalah. Yang penting Lala dan bayinya sehat.


"Mana saja, sayang. Yang penting kamu sehat, anak kita juga sehat."


Hati Lala bahagia. Ia mengelus perut yang masih rata. Andra pun ikut juga mengelusnya.


"Mas, sepertinya dia akan bicara."


"Oh ya?" Andra terlihat serius. Dan...


Kruk


"Anak kita lapar, Mas..."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2