MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 71 - KEMBALI PINDAH


__ADS_3

'Tampannya!' batin Riri saat Ayaz berjalan akan melewatinya.


Saat sudah semakin mendekat, Riri menormalkan kekagumannya dan menundukkan kepala. Ayaz itu atasannya.


Setelah Ayaz melewatinya, Riri kembali menatap punggung yang makin menjauh itu.


'Kenapa sulit sekali meraih dirimu?' batin Riri dalam hati.


Riri sudah menunjukkan kinerjanya di perusahaan tempat papanya Lala. Agar papa dari temannya itu melihatnya sebagai seorang wanita. Tapi, sejauh ini tidak ada yang berubah. Ia masih dianggap teman putrinya.


"Hei..." Romeo menepuk pundak sang teman. Membuat Riri tersadar.


"Lihat apa?" tanya Romeo.


"Bukan urusanmu!" jawab Riri sinis. Pasti Romeo melihatnya sedang menatap sang pujaan hati.


"Riri, lupakan papanya Lala-"


"Siapa yang mikirin dia?" sela Riri tidak terima. Romeo menuduhnya begitu.


"Kau masih mengharapkannya. Sadarlah, pak Ayaz itu begitu mencintai istrinya. Sampai sekarang ia tidak mau menikah atau dekat wanita manapun." Romeo membicarakan kenyataannya. Agar Riri tidak berharap lagi.


Riri diam mendengar ocehan sang teman.


"Dia bisa saja menikah dan mencari pengganti istrinya dengan mudah. Tapi, kau lihat selama ini." Ucap Romeo.


Dulu Lala pernah cerita. Ia mengizinkan papanya menikah lagi, agar ada yang menemaninya. Tapi papanya malah menolak. Karena terlalu mencintai mamanya Lala.


Karena rasa cintanya itu, Ayaz tidak mau jika menikahi wanita lain. Ia nanti akan menuntut wanita itu seperti mantan istrinya. Baik sikap, sifat, ucapan bahkan mungkin perlakuan.


Membuat orang lain berubah sesuai keinginanya. Makanya ia lebih memilih terus menduda, sambil membesarkan putri peninggalan sang istri.


Sementara Ayaz sambil berjalan meraih ponsel. Ada yang meneleponnya. Ia tersenyum melihat penelepon.


"Halo, sayang. Apa kabar anak Papa?" tanya Ayaz saat menjawab telepon itu. Hatinya bahagia Lala meneleponnya. Putri yang selalu dirindukannya.


"Papa..." Lala malah mewek. Ia menangis dalam telepon itu.


Dahi Ayaz berkerut. Putrinya menangis lagi. Pasti Andra menyakiti putrinya lagi. Ia benar-benar akan memberi pelajaran pada pria itu.


"Sudah jangan nangis." Bujuk Ayaz. Ia melangkah lebar menuju parkiran. Saat ini juga, ia akan pergi ke rumah Lala dan memisahkan keduanya.


"Papa, Lala-"


"Nanti papa urus dia. Kamu tenang saja!" sela Ayaz segera.


Lala merasa Papanya sudah salah paham. Mungkin karena tiba-tiba ia menelepon sambil menangis.


"Papa, Lala hamil."


"Beraninya dia menghamili kamu?!" Ayaz masih emosi hingga tidak merespon dengan sadar.


Ayaz kini masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengamannya.


"Lala, Papa akan segera ke sana. Kamu tunggu." Pinta Ayaz lalu mengakhiri panggilan tersebut. Ia harus bergerak cepat, putrinya dalam bahaya.


Ayaz melajukan mobilnya sedikit kencang, membela jalanan.

__ADS_1


'Aku akan memisahkan kalian!'


'Beraninya kau membuat putriku menangis!'


'Aku akan menjaga putriku!'


Ayaz menggerutu sambil menyetir. Ia tidak akan tinggal diam.


Tak lama, Ayaz sampai di rumah Lala. Memarkirkan mobilnya asal lalu berlari mengetuk pintu.


Pintu pun terbuka. Andra yang membukanya.


"Papa, kena-"


Bugh


Ayaz meninju wajah Andra.


"Pa, kenapa memukulku?" tanya Andra bingung. Datang-datang ia malah dipukul.


Ayaz mencekam kerah baju Andra. "Saya sudah peringatkan kamu. Jangan pernah menyakiti putriku!"


Ayaz akan kembali memukuli Andra. Dan tertahan saat Lala memanggilnya.


"Papa!" Teriak Lala. Ia menghampiri keduanya.


"Sayang, kamu tidak apa nak?" tanya Ayaz cemas sekali. Ia memeriksa tubuh putrinya, mencari kekerasan fisik yang sudah Andra lakukan.


"Papa, Lala tidak apa."


Ayaz memeluk sang putri dengan erat. Ia bernafas lega. Tak ada yang terluka.


"Pa, jangan begitu! Aku tidak menyakiti Lala, jangan pisahkan kami!" Andra akan menahan Lala. Bagaimana dirinya berpisah dari wanita itu dan anaknya.


"Papa..." Lala sepertinya mengerti. Papanya memang sudah salah paham.


"Papa sebentar lagi punya cucu. Lala hamil." Ucap Lala memberitahu. Ia memeluk lengan papanya.


"Cu-cucu?" mendadak Ayaz mulai merespon. Ia juga ingat tadi Lala mengatakan hamil. Tapi dianya saja yang sudah salah paham dan tidak berpikir jernih.


"Kamu hamil?" tanya ayaz memastikan. Putrinya akan memiliki anak dan ia akan menjadi seorang opa.


Lala mengangguk pelan. Air matanya pun terjatuh membasahi pipinya.


"Sayang, selamat ya nak." Ayaz kembali memeluk putrinya. Ia senang dengan kabar tersebut.


"Dra, berobatlah ke rumah sakit. Maaf... tadi Papa salah paham." Ucap Ayaz mengakui kesalahannya.


"Tidak, Pa. Aku tidak apa-apa."


"Jadi cucu Papa, laki-laki-laki apa perempuan?" tanya Ayaz kembali sambil membawa sang putri untuk duduk di ruang tamu. Kelamaan berdiri membuat Lala bisa kecapekan.


Andra membuang nafas pelan, ia ditinggal begitu saja. Lala dan Papanya kini saling mengobrol panjang.


\=\=\=\=\=\=


"Lala sering mual, Pa." Cerita Lala. Tadi pagi ia mengalami hal tersebut.

__ADS_1


Papa mengangguk mengerti. "Andra, bagaimana kalau kalian tinggal di rumah papa saja?"


Andra dan Lala saling melihat.


"Papa nggak mau Lala sendirian di rumah saat kamu ke kantor. Jika Lala perlu sesuatu, bagaimana? Di rumah ada nenek, juga ada Mama kamu." Jelas Papa. Wanita hamil hormonnya tidak menentu. Ayaz tidak mau terjadi sesuatu pada putrinya.


Andra mengangguk. Ia setuju. Tadi pagi saja, ia tidak mau meninggalkan Lala sendirian. Apalagi kini Lala sudah berbadan dua.


Ayaz mengangguk senang. Ia tidak akan berpisah dari putrinya lagi.


"Lala sudah memberitahu Mama Leni tentang kehamilan?" tanya Ayaz. Besannya harus tahu juga.


Lala mengangguk cepat. "Sudah, Pa. Nanti sore Mama Leni mau kemari."


"Telepon mereka, katakan tidak perlu datang sore ini." Pinta Ayaz.


"Tapi, Pa." Lala merasa tidak enak hati. Masa mertuanya mau datang tidak diperbolehkan.


"Kamu akan pulang sekarang juga. Andra, bereskan barang kalian!" pinta Ayaz segera.


Andra mengangguk patuh. Ia wajar, papanya Lala sangat menyayangi putrinya. Bagaimana pun Lala adalah peninggalan istri tercintanya.


Bagaimana pun Andra mencintai dan menyayangi Lala. Tak akan bisa dibandingkan dengan kasih sayang papa pada Lala. Kasih sayang begitu tulus seorang Ayah pada putrinya.


"Pa, Lala mau membantu Mas Andra." Lala merasa tidak enak hanya duduk menunggi.


"Tidak usah, La. Biar aku saja! Ini sebentar saja." Tolak Andra. Ia hanya perlu memasukkan pakaian ke dalam koper saja.


Lala menurut saja. Ia pun meraih ponsel dan akan menghubungi temannya.


"Riri..." ucap Lala begitu panggilan tersambung.


"Apa, La? Mau jalan-jalan lagi?"


"Tidak. Aku mau memberitahu sesuatu."


"Apa?" Riri tampak antusias.


"Sebentar lagi kau punya ponakan."


"LALA, KAU HAMIL?" ucap Riri yang tanpa sadar. Sangking senangnya mendengar berita temannya, ia melupakan sekitarnya.


Riri menundukkan kepala berkali-kali sebagai permintaan maaf. Mengganggu rekan kerjanya yang lain. Ia masih berada di kantor.


"Lala, selamat ya. Semoga lancar sampai lahiran..." Harap Riri setulus hati.


Deg


Romeo merasa hatinya seperti dicubit. Wanita yang ditaksirnya, akan memiliki anak. Lala sedang hamil. Hal wajar, Lala sudah menikah. Cepat atau lambat, akan ada anak yang makin menguatkan pernikahan itu.


Romeo menenangkan hatinya. Ia harus mengikhlaskan dan melupakan istri orang.


'Selamat, La.'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2