
"Aku sudah katakan, kita jalani saja dulu." Jelas Andra yang memilih tidak menjawab Lala. Ia pun naik ke mobil.
"Tapi, Lala bingung Mas." Ucap Lala dengan wajah sendu. Ia ikut naik.
"Bingung kenapa?" tanya Andra tidak mengerti.
"Bingung saja. Kita jalani saja dulu itu gimana? Lala pakai perasaan atau bagaimana?" tanya Lala tidak mengerti.
"Lala nggak mau, jika nanti Mas Andra nggak nyaman dengan Lala." Ucap Lala yang jadi serba salah.
Andra diam menatap Lala. Mungkin karena sikapnya selama ini, Lala jadi tidak bisa menentukan sikapnya.
"Pasang sabuk pengamanmu. Kita akan pulang." Andra masih memilih tidak menjawab.
Lala diam saja. Ia menutup mata dan memilih tidur saja. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana pada Andra.
Andra menghembuskan nafas pelan. Ia melihat Lala yang mulai irit bicara, tidak seperti yang dulu yang ngoceh saja.
Setelah berada di kamar, Lala mengambil pakaian dalam lemari dan masuk ke kamar mandi. Ia akan membersihkan diri saja.
Tak berapa lama Lala keluar dan melihat sekilas Andra yang bergantian masuk.
'Dia kenapa?' batin Andra yang merasa aneh. Lala tidak bicara atau berbasa basi padanya.
Selesai menyisir rambut, Lala pun membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Ia pun memejamkan matanya.
'Kita jalani saja dulu... apaan itu?' Lala jadi kesal sendiri. Kalimat itu tidak ada kepastian.
Ser...
__ADS_1
Tubuh Lala merinding saat tangan yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Ada apa?" tanya Andra mengeratkan pelukannya.
Lala diam saja menikmati perasaan berdebarnya sendiri. Ia yakin hanya dia yang merasakan hal ini. Sementara Andra tidak.
"Lala." Andra membalikkan wajah Lala ke arahnya. Ia melihat wajah Lala yang berlinang air mata.
Lala mengusap air mata yang keluar begitu saja tanpa izinnya.
"Apa aku tidak ada di hatimu?" tanya Lala menatap sendu Andra. Ia butuh kepastian akan perasaannya.
Selama ini Lala mengangumi Andra bertahun-tahun. Walaupun tidak berbalas. Tapi sekarang ia sudah menikah dengan Andra. Saat perasaannya tidak berbalas juga, itu sangat menyakitkan.
Apa yang mau diharapkan Lala lagi?
Andra diam. Ia juga tidak tahu. "Aku sudah katakan kita jalani saja dulu."
"Kamu seharusnya mengerti, La." Ucap Andra dengan nada berat.
"Aku tidak mengatakan apapun." Jawab Lala kemudian.
"Lala, aku sedang berusaha melupakan Ana-"
"Aku ngantuk. Tolong jangan berisik!" Lala memejamkan matanya. Ternyata Andra masih memikirkan wanita lain. Memang tidak ada dirinya di dalam hati pria itu. Pantas saja... mau seperti apa dia berusaha, Andra tidak akan pernah luluh.
Andra mengusap wajahnya. Ia malah mendengar suara isakan. Meski pelan, ia mendengar dengan jelas.
Andra membalikkan kembali tubuh Lala ke arahnya. Dan menghapus air mata itu. Perasaan Andra jadi sedih melihat air mata itu.
__ADS_1
"Maaf." Ucap Andra lalu menyosor bibir Lala.
Lala kaget saat Andra mendadak menciumnya. Melu-mat dan meresap bibirnya dengan begitu lembut.
"Mas Andra!" Lala menjauhkan bibir Andra dengan tangannya.
Andra memegang tangan Lala dan mengukung tubuh Lala. Hal tersebut membuat jantung Lala jadi berdebar kencang.
Lala kini dapat melihat dengan jelas wajah pria tercintanya.
"Lala... Layani aku malam ini!" ucap Andra menatap Lala. Ia ingin memulai dengan pernikahan ini.
"A-apa?" tanya Lala gugup. Melayani bagaimana.
"Aku... aku mengizinkanmu untuk mencintaiku. Jadi tunjukkan rasa cintamu malam ini." Ucap Andra dengan sorot mata yang tajam lalu perlahan melembut.
"Jadilah istriku mulai malam ini. Layani aku sebagai suamimu!" sambung Andra kembali.
"Ta-tapi..." Lala menggelengkan kepala.
"Kenapa?" Andra jadi sedikit kecewa, Lala menolaknya.
"A-aku lagi M, Mas." Lala membuang wajahnya. Ia jadi malu setelah mengatakan itu.
"Em?"
.
.
__ADS_1
.