
Andra menggenggam tangan Mamanya erat, seraya menciumi pundak tangan yang mulai berkerut itu.
Kini Mamanya sudah dipindahkan ke ruangan pasien. Tubuh Mamanya tampak sangat lemah.
Andra tadi begitu takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada Mamanya.
"Ma, maafkan aku!" Andra meminta maaf. Dengan keadaan yang telah terjadi ini. Mamanya pasti sangat shock.
"Kamu nggak salah, Dra!" Mama menggelengkan kepala. Ia melihat jelas kesedihan di wajah putranya.
"Kamu tidak apa-apa kan, nak?" tanya Mama mencoba mengerti. Saat ini pasti Andra sedang sakit hati dan kecewa.
Andra mengangguk meyakinkan, jika ia baik-baik saja. Meski hatinya berkata sebaliknya. Mana mungkin ia baik-baik saja, wanita yang akan dinikahinya malah menikah dengan pria lain.
"... sudah, batalkan pernikahan itu. Andra tidak jadi menikah." Ucap Papa yang sedang menelepon seseorang.
...
"Biarkan saja! Kami nggak sempat mengabarkan satu persatu semua orang yang sudah diundang!" jelas Papa kembali. Andra tidak jadi menikah, pernikahan putranya telah batal.
Andra hanya diam dan menundukkan kepala. Ia sudah lama menunggu hari ini tiba. Hari pernikahannya. Hari di mana menjadi hari bersejarahnya dengan Ana.
Tapi, semua sudah hancur dan berantakan.
Mama memegang da-danya yang terasa perih. Pernikahan putranya batal. Bagaimana ia akan menghadapi semua ini?
"Mama!" panggil Andra yang takut melihat Mamanya seperti itu.
"Mama nggak apa, nak!" Leni menggelengkan kepala. Ia berusaha untuk tenang. Meski hatinya terasa perih.
"Ma, sudah Papa katakan bahwa pernikahan putra kita dibatalkan." Ucap Dani memberitahu istrinya.
Leni mengangguk mengerti. Ia menghapus air matanya, merasa sedih dengan apa yang dialami putranya.
"Ma, jangan menangis!" perasaan Andra, entahlah saat melihat wanita terkasihnya menangis. Ia merasa bersalah.
"Mama sedih lihat kamu, nak. Mama hanya ingin lihat kamu bahagia." Wanita paruh baya itu makin menangis. Hatinya sedih bercampur kesal. Ana telah menyakiti putranya.
Andra diam dan masih tidak mengerti dengan keadaan saat ini. Ia seperti mimpi, tapi inilah kenyataannya.
"Andra, kamu pesan tiket dan pergilah ke manapun kamu mau." Saran Papa. Ia merasa kasihan dengan putranya tersebut. Andra harus menenangkan diri.
"Benar, nak. Kamu pergi jauh dalam beberapa bulan ini. Biar Mama dan Papa yang urus semua ini." Mama ikut menimpali ucapan suaminya.
"Kamu pergi saja. Supaya kamu tidak mendengar omongan orang-orang tentang pernikahanmu yang batal." Papa kembali membujuk. Ia kasihan dengan putranya. Biar saja rasa malu ini mereka yang menanggungnya.
"Tapi, Pa-" Andra merasa berat pergi.
"Andra, kami hanya ingin melihatmu bahagia. Apa yang terjadi hari ini biar kami yang urus."
__ADS_1
Andra mengerti arah ucapan kedua orang tuanya. Mereka ingin agar ia tidak merasa sedih dan tertekan dengan batalnya pernikahan ini.
Perginya ke tempat yang jauh, hanya untuk menenangkan diri. Tapi, bagaimana batalnya pernikahan ini? Sama saja ia menyelamatkan diri sendiri, tapi bagaimana dengan kedua orang tuanya?
Apa yang akan dilakukan orang tuanya untuk menghadapi rasa malu pastinya?
"Pa, Ma. Kita tetap lanjutkan saja pernikahanku." Ucap Andra akhirnya. Ia tidak mau membuat malu keluarga besarnya.
"Tidak, nak." Mama menggeleng. Andra tidak bisa memaksa keadaan.
"Aku tidak masalah menikah dengan siapapun." Andra akan pasrah menerima.
Andra takut Mamanya tidak sanggup menahan gunjingan serta rasa malu nantinya. Pria itu bisa merasakan Mamanya yang masih menahan rasa sesak di da-da, yang coba ditutupi Mamanya.
"Tidak, Dra. Kamu tidak boleh menikah terpaksa seperti itu. Sudah tidak perlu pedulikan semua ini. Semua akan kembali seperti semula! Semua akan baik-baik saja!" Mama menggeleng. Ia tahu putranya tidak ingin keluarga mereka mendapat malu.
"Benar, Dra. Sudah pikirkan saja dirimu. Kami tidak apa! Semua akan berlalu!" Papa juga tidak setuju Andra menikah, hanya untuk tidak membuat malu mereka. Pernikahan itu sesuatu yang sakral. Tidak boleh ada paksaan.
"Pa, Ma. Andra akan tetap menikah!" Andra tetap bersikeras. Terserahlah dia mau menikah dengan siapa hari ini.
Kedua orang tua Andra diam melihat putranya.
"Kalau menikah sama Lala, kamu mau?" tanya Mama serius. Satu-satunya orang yang ada dipikirannya hanya Lala.
"Lala?" tanya Andra memastikan kembali.
"Benar. Kalau kamu tetap menikah, Mama maunya kamu menikah sama Lala saja. Kita juga sudah tahu Lala bagaimana." Ucap Mama. Lala adalah pilihan yang tepat.
"Terserah Mama saja!" Andra pasrah saja, selama membuat Mamanya bahagia.
"Gimana menurut Papa?" tanya Mama meminta saran Papa.
Papa mengangguk. Selama ini mereka setuju saja kalau Andra sama Lala.
"Tapi kita nggak tahu, Lalanya mau atau tidak?!"
\=\=\=\=\=\=
Lala dan keluarganya sudah sampai di gedung pernikahan. Beberapa tamu juga sudah pada berdatangan memenuhi gedung tersebut.
Suasana terasa riuh. Bagaimana tidak sudah pukul 10 pagi, keluarga pengantin pria maupun keluarga pengantin wanita belum ada yang datang.
'Apa ada masalah?!' harap Lala. Ia memang berharap pernikahan Andra itu bermasalah.
"Kenapa kedua belah pihak belum ada yang datang?"
"Benar, apa pernikahannya bermasalah?"
Lala menajamkan pendengarannya pada orang-orang yang menggosip.
__ADS_1
"Mungkin ijab kabulnya di tempat lain."
"Benar-benar. Di sini tinggal resepsinya saja."
Wajah bahagia Lala berubah pudar. Ia pun menekuk wajahnya mendengar ucapan mereka.
Bisa jadi Andra dan Ana langsung melakukan ijab kabul di KUA.
Lala menghembuskan nafasnya berat. Sekarang Andra sudah jadi suami orang. Suami orang! Andra itu suami orang!!!
'Lala, tidak baik jadi pelakor!' Lala meyakinkan hatinya.
"Riri!" panggil Lala saat melihat temannya itu.
Riri pun menghampiri.
"Ri, kenapa belum dimulai?" tanya Lala ingin tahu. Mungkin saja temannya itu tahu.
"Nek Leni masuk rumah sakit, La." Ucap Riri memberitahu.
"Apa?" Lala sangat kaget. Begitupun papa dan neneknya juga terkejut mendengar kabar tersebut.
"Bagaimana keadaan nek Leni?" tanya neneknya Lala. Selama ini mereka sudah menjadi best friend. Walaupun neneknya Lala lebih tua 10 tahun dari Leni. Tapi mereka cukup dekat dan nyambung.
"Kata Mama, nek Leni baik-baik saja. Mereka juga sedang dalam perjalanan menuju kemari." Jelas Riri atas apa yang didengarnya tadi.
Nenek bernafas lega. Sohibnya tidak kenapa-kenapa. Lala juga begitu lega. Takut Mama angkatnya itu kenapa-kenapa.
Tak lama, mereka melihat Mama Leni dituntun Andra masuk gedung pernikahan.
Lala yang melihat itu langsung berlari menghampiri.
"Ma, kenapa? tadi Lala dengar Mama masuk rumah sakit? apa yang sakit?" tanya Lala dengan nada bergetar. Ia sangat khawatir hingga membuat air matanya berjatuhan.
"Mama nggak apa loh, sayang!" Leni senang melihat Lala. Lala memang begitu sangat tulus.
Leni mengusap air mata di pipi Lala. Memang wanita muda satu ini, cepat sekali meweknya.
"Lala, ada yang mau Mama bilang sama kamu." Leni akan mengatakan rencana mereka.
"A-ada apa, Ma?" tanya Lala mendadak gugup. Ia melihat Mama Leni sangat serius. Om Dani juga begitu. Dan Om Andra melihatnya sejenak lalu menghela nafas.
"Apa Lala mau menikah dengan Andra?" tanya Mama akhirnya.
"Hah?"
.
.
__ADS_1
.