MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 72 - PERLAKUAN ANDRA


__ADS_3

Lala sampai di rumah papa Ayaz dan langsung disambut hangat. Ia mendapatkan pelukan dari nenek dan mertuanya itu.


Kedua keluarga sangat senang dan gembira dengan kehamilan Lala. Sebentar lagi akan ada suara tangisan bayi di rumah mereka.


"Lala... selamat ya, nak." Mama Leni sangat senang sekali. Ia akan memiliki cucu. Ia memeluk dan menciumi pipi Lala. Kebahagiaannya berlipat ganda.


Dan lalu neneknya memeluk sang cucu sambil tersenyum sendu. Cucunya akan memiliki anak. Yang akan menjadi cicitnya. Kini ia merasa usianya sudah makin tua dan senja.


"Selama hamil, Lala akan tinggal di sini. Saya khawatir jika Lala sendirian saat Andra ke kantor." Jelas Papa Ayaz. Ia mengatakan alasannya.


"Benar, Pak. Di sini Lala akan terjaga. Kita semua ada di sisinya dan akan merawtanya." Ucap Mama dengan semangat.


Semenjak Andra dan Lala memutuskan pindah, rumahnya sangat sepi sekali.


Lala tersenyum mewek. Ternyata banyak yang menyayangi dirinya. Ia sangat beruntung, memiliki semuanya.


"Papa, Mama, nenek... Aku bawa Lala ke kamar dulu. Lala butuh istirahat." Pamit Andra pada para orang tua.


Mereka mengangguk. Lala memang tampak kelelahan, bawaan anak.


"Lala, mau makan apa?" tanya nenek.


"Benar, nanti biar kami masak." Timpal Mama kembali.


"Apa saja, nek, Ma." Jawab Lala. Ia senang, di rumah ini tidak akan kesepian lagi.


"Mas Andra..." Ucap Lala yang terkejut. Andra menggendongnya di depan mereka. Padahal ia bisa berjalan ke kamar.


"Ayo, kita ke kamar. Kamu harus istirahat!" Andra menundukkan kepala sejenak pada mereka dan berjalan menggendong sang istri ke kamar mereka.


Papa Ayaz jadi tersenyum. Andra terlihat begitu mencintai putrinya. Akhirnya ia bisa tenang dan bernafas lega. Andra akan membahagiakan putri tersayangnya.


"Mereka romantis ya." Bisik Mama Leni pada nenek.


"Iya. Senang lihat mereka." Bisik nenek ikut menimpali.


Pernikahan Andra dan Lala kini telah berubah. Saling mencintai dna menyayangi.


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Hari-hari pun berlalu...


"Sayang..." Andra memeluk Lala yang sangat lemah.


Setiap pagi istrinya dilanda mual dan muntah. Meski kata dokter itu hal wajar, tapi ia tidak tega Lala seperti itu.


Andra mengendong Lala ke tempat tidur. Wajah istrinya sangat pucat.


"Sayang, ayo minum." Andra menyodorkan air minum. Ia juga mengelap keringat yang membasahi kening sang istri.


Andra menyandarkan tubuh Lala padanya. Membiarkan Lala menenggelamkan wajah di dadanya. Tangannya terulur mengelus Lala dengan sayang.


"Mas, pergi saja ke kantor." Ucap Lala. Sudah seminggu Andra tidak ke kantor, menemaninya seharian. Padahal ia mengalami mualnya saat pagi. Begitu siang sudah tidak lagi.


"Tidurlah!" Andra masih mengelus kepala Lala. Ia tidak mau meninggalkan istrinya. Ke kantor pun sama saja, jika pikirannya tidak tenang memikirkan Lala di rumah.


Andra tidak akan fokus dan makin menghambat pekerjaannya. Selalu takut dan khawatir dengan keadaan sang istri.


"Mas..." wajah Lala jadi mewek. Jika ia terus mengalami mual seperti ini selama hamil, bisa-bisa suaminya tidak ke kantor lagi. Tanggung jawab Andra makin menumpuk.


"Sayang, aku tidak tenang meninggalkanmu!" jelas Andra kemudian. Ya, sesayang itu ia sekarang dengan Lala. Dan makin bertambah rasa sayangnya, karena ada buah cinta mereka.


Andra akan mengambil keputusan seperti itu. Jadi ia tidak perlu meninggalkan Lala. Ia dapat terus memantau keadaan istrinya itu.


"Ta-tapi, Mas-" Lala tidak setuju.


Andra menggelengkan kepala. Ia kini tidak menerima penolakan.


\=\=\=\=\=\=


Kini Andra bekerja dari rumah saja . Ia memilih ruang kerja di rumahnya menjadi kantor sementara. Jadi ia tidak terlalu jauh berpisah dari anak dan istrinya.


Setiap hari setelah menenangkan mual sang istri, Andra baru ke rumahnya untuk mengerjakan tanggung jawabnya. Saat siang, ia akan pulang dan makan bersama sang istri.


Lala kini makan siang dengan lahap. Ia tidak peduli dengan bentuk tubuhnya. Kini ia bukan hanya makan untuk dirinya, tapi untuk sang anak dalam kandungannya.


Mama dan neneknya Lala, juga selalu memasakkan makanan sehat untuk ibu hamil. Mereka sangat perhatian pada Lala dan pertumbuhan bayinya.


"Enak...?" tanya Andra. Nafsu makan Lala sangat meningkat. Ia wajar saja, selain Lala ada anaknya juga butuh asupan.

__ADS_1


"Mas, aku gendut ya sekarang?" tanya Lala. Ia merasa tubuhnya mulai berat dan melebar.


Andra malah tersenyum. Ia berpikir terlebih dahulu sebelum memberikan jawaban, salah jawab bisa berabe. Hormon istrinya tidak bisa diprediksi.


"Tidak, kamu sangat seksi." Ucap Andra seraya mengkedipkan sebelah matanya.


"Seksi dari mana?" Lala memanyunkan wajahnya. Andra mulai membohonginya.


"Di mataku kamu sangat seksi." Jawab Andra.


Lala jadi tersenyum tipis. "Mas, nanti setelah lahiran, Lala akan olah raga."


Saat kehamilan ini, Lala akan banyak makan. Agar bayi dalam kandungan cukup nutrisinya. Ia tidak boleh egois demi menjaga bentuk tubuhnya.


Dan nanti setelah melahirkan, barulah Lala akan menjaga bentuk badan. Supaya andra tidak akan berpaling darinya.


"Aku tidak peduli. Mau bentuk kamu bagaimana, karena aku yang melakukannya. Jadi aku akan bertanggung jawab selamanya." Tegas Andra.


Andra mengerti, wanita sangat menjaga bentuk badan mereka. Tapi, saat mengandung anak. Mereka akan mengesampingkan egonya. Tidak peduli bagaimana bentuk tubuhnya saat hamil, semua demi sang buah hati.


Dan setelah melahirkan, karena sibuk dengan anak. Hingga kadang tak peduli lagi pada penampilan.


Andra tidak akan peduli tubuh Lala mau berubah bagaimana nantinya. Yang terpenting Lala bahagia menjalani kehidupan berumah tangga bersamanya. Itu sudah membuatnya sangat bahagia.


"Mas..." Lala memutar-mutar telunjuknya di dada sang suami. Mereka kini telah selesai makan.


"Kenapa?" tanya Andra dengan nada lembut. Lala makin bertambah manjanya.


"Mas, sepertinya anak kita rindu dikunjungi Papanya." Bisik Lala. Sungguh ia malu mengatakan itu, tapi ini permintaan anak mereka. Ada rasa kerinduan yang mendalam pada Andra.


"Ayo, kita kunjungi anak kita." Andra pun mengandeng Lala ke kamar. Ia juga merindukan bayi mereka dan juga merindukan Lala.


"Mas, nanti pelan-pelan ya." Lala mengingatkan.


"Baiklah, sayang."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2