MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 27 - BERKUNJUNG


__ADS_3

"Lala!" ucap Mama saat melihat Lala masuk bersama putranya. Hatinya senang sekali melihat mereka kembali.


"Mama apa kabar?" tanya Lala sambil memeluk wanita paruh baya itu.


"Mama sehat. Kamu gimana sama Andra? Andra baik kan sama kamu?" tanya Mama melirik putranya.


"Mas Andra baik banget sama Lala, Ma." Ucap Lala dengan gembira.


"Mas?" tanya Mama tidak yakin dengan panggilan itu.


'Mas apaan?!' Andra mengusap telinganya yang sedikit geli.


"Iya, Ma. Mas Andra sangat baik dan perhatian sekali sama Lala!" seru Lala. Bagaimana pun ia tidak boleh menjelekkan suaminya.


"Syukurlah. Mama jadi tenang!"


Lala tersenyum pada Mama lalu pada Andra.


"Lala, ayo kita makan! Mama sudah masak banyak untuk kalian!" ajak Mama. Ia sudah mempersiapkan semua.


"Wah, terima kasih Ma. Jadi ngerepoti nih." Lala jadi merasa segan.


"Ngerepoti apaan sih?! Lala sekarang sudah menjadi istrinya Andra yang berarti putri Mama juga!"


"Mama..." Lala jadi terharu. Mama memang sangat welcome sekali padanya.


Masih jadi anak angkatnya saja, Mama sangat menyayangi Lala. Dan saat sudah menjadi menantu, Andra merasa Mama makin menyayangi Lala. Kini ia yang dianggap seperti orang asing di rumahnya sendiri.


"Ma, biar Lala ambilkan saja!" Lala mengambilkan piring untuk Mama, lalu untuk Andra juga.


Setelah selesai makan, Andra masuk kamar. Ia membiarkan Lala mengobrol dengan Mamanya.


"Ma, Lala kan nggak bisa masak. Mama ajarin Lala masak ya. Lala mau masak untuk Mas Andra." Pinta Lala dengan muka memelas.


Mama mengangguk. "Pasti akan Mama ajarin kamu memasak."


"Terima kasih, Ma..."


Sementara Andra di kamar mencoba menelepon Ana. Tapi, nomornya malah diblokir.


Pria itu tidak mengerti. Seharusnya ia yang marah dengan kejadian ini. Ia berencana menemui Ana untuk meminta penjelasan. Tapi, susah sekali menghubunginya.


Andra menebak, mungkin Ferdi sudah berbuat sesuatu pada Ana. Atau selama ini Ana dan Ferdi sudah bermain di belakangnya?


Pria itu tidak tahu kejelasannya, hanya bisa menerka-nerka saja. Beberapa hari sebelum menikah, saat mereka dipingit. Ana terus-terusan bersama Ferdi.


'Apa yang terjadi?!' Andra sangat penasaran.


"Mas Andra!!!"


"Astaga, Lala!!!" Andra terkejut batin, Lala masuk begitu saja. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Mas, ke rumahku yuk! Aku mau ketemu nenek." Ucap Lala. Karena mereka sudah menikah, mana mungkin Lala datang sendiri.


"Pergi saja sendiri!" usir Andra sambil menggerakkan tangannya.

__ADS_1


"Mas, ayo!" Lala menarik Andra yang sedang berbaring.


Andra menolak dan menarik tangannya yang dipegang Lala. Karena tenaga Andra cukup besar, membuat Lala jadi ketarik dan menimpa tubuhnya.


"Om Andra, kok nggak berdebar-debar sih?" Lala jatuh tepat di atas tubuh pria itu. Ia kecewa tidak mendengar debaran hati Andra yang seperti debaran hatinya.


Dug dag dug dag


Begitulah bunyi debaran hati Lala saat ini.


"Awas!" Andra menggeser tubuh Lala dan segera bangkit. Wanita itu seperti sengaja selalu melakukan kontak fisik dengannya.


"Om, aku mau ketemu nenek. Kalau aku pergi sendiri, terus nenek tanya mana suami tampanku. Lala mau jawab apa?" tanya Lala dan lagi membawa status mereka sekarang.


Nafas Andra berhembus kasar. Pria itu pun berjalan keluar kamar dan segera diikuti Lala.


"Nenek!!!" Lala langsung memeluk wanita yang rambutnya makin memutih itu. Ia sangat senang bertemu kembali.


"Lala, nenek kangen sama kamu!" nenek makin memeluk Lala. Cucu kesayangan satu-satunya, akhirnya datang juga.


"Lala juga kangen sama nenek. Mas Andra juga, nek." Lala tidak lupa menyertakan suaminya.


"Apa kabar nek?" Andra pun menyalami nenek sambil tersenyum.


"Baik! Kalian berdua baik kan?" tanya nenek memastikan.


"Baik dong, nek! Mas Andra sangat baik sama Lala, nek!"


Nenek tersenyum. Lala tampak bahagia dengan pernikahannya. Mungkin cucunya sudah menaklukkan hati Andra.


"Papa, mana nek?" Lala sangat merindukan paruh baya itu.


"Iya, nek! Lala ingin bertemu papanya." kini Andra yang menjawab. Pasti Lala ingin bertemu dengan papanya, jadi sekalian saja. Ia tidak mau besok-besok kemari lagi. Besok ia mau menemui Ana.


'Om Andra... perhatian!' Lala malah berpikiran lain. Ia merasa Andra sedikit mengalah padanya.


Nenek dan Lala mengobrol. Dan Andra mengangguk sambil menjawab seadanya. Mau ditinggal itu tidak mungkin.


"... kasihan papamu uring-uringan nggak jelas. Tiap malam pasti singgah ke kamarmu." Cerita nenek akan putranya tersebut.


"Papa..." Lala jadi berwajah mewek. Papanya pasti sangat merindukan dirinya.


"Mas Andra, boleh Lala menginap?" tanya Lala sambil memegang tangan Andra. Ia akan meminta izin suaminya.


Jujur Andra ingin menepis tangan Lala, tapi tidak mungkin. Ada nenek di sini.


Andra pun mengangguk. Terserah Lala sajalah.


"Terima kasih, suamiku!!!" Lala sangat senang, Andra yang pengertian. Ia pun memeluknya erat.


"Lala, sudahlah!" Andra mendorong pelan tubuh Lala. Ia benar-benar risih.


"Nek, malam ini Lala menginap di rumah Mas Andra dulu. Besok malam baru di sini." Ucap Lala. Ia harus mengambil kesempatan ini. Dengan begitu, mereka 2 hari akan sekamar.


Andra tidak mungkin diam-diam tidur di sofa.

__ADS_1


"Benarkan, Mas?" tanya Lala.


'Kasih hati minta jantung nih bocah!!!' Andra mendumel kesal.


"Terserah kamu saja!" Andra tersenyum sambil mengelus kepala Lala.


Deg


Hati Lala berdebar saat tangan itu menyentuh kepalanya. Perasaannya jadi menghangat.


"Lala!!!" ucap Ayaz begitu masuk rumah.


"Papa!!!" Lala segera menghampiri dan memeluk pria paruh baya itu. Memeluk dengan sangat erat.


"Papa, rindu sama kamu!" Ayaz tidak dapat menahan air matanya. Ia sangat bahagia bertemu dengan putrinya.


"Lala juga, Papa!!!" Lala jadi ikut mewek.


"Kamu sama siapa?"


"Mas Andra!"


"Mas?" Ayaz memastikan. Biasanya Lala memanggil Andra dengan sebutan Om.


Andra pun bangkit dan menghampiri. Ia pun menyalami Ayaz sebagai tanda kesopanan.


Andra tersenyum tapi dibalas Ayaz dengan sorot mata tajam.


Tak lama.


"Mas Andra sangat baik dan perhatian, Pa!"


Itu lagi yang dikatakan Lala.


Ayaz melihat Andra, seperti tidak percaya. Mana mungkin dalam sekejap perasaan berubah.


Andra mengerti tatapan mata papanya Lala, tahu bahwa Lala sedang bicara omong kosong. Untuk membuat Andra terlihat baik. Tapikan ia juga tidak minta seperti itu. Lala yang pandai-pandaian.


"Lala sayang, sana bantui nenek masak makan malam." Pinta Papa. Ia ingin bicara empat mata dengan pria ini.


"Siap, Pa!" Lala mengangguk. Ia bisa sekalian belajar memasak juga.


Setelah Lala pergi. Hanya tinggal Ayaz dan Andra di ruang tamu.


Tatapan pria paruh baya itu sangat tajam. Seolah dan seakan mengkuliti Andra hidup-hidup.


"Andra..." panggil Ayaz.


"Iya, Om... I-iya, Pa!" Andra bingung mau memanggil apa jadinya.


Mendengar itu Ayaz jadi tersenyum tipis.


"Kapan kamu akan menceraikan Lala?"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2