
"Coba rasa, Mas." Ucap Lala menyendokkan sop dan memberikan pada Andra. Tak lupa ia meniupnya terlebih dahulu. Agar lidah sang suami tidak melepuh.
"Hmm... Tambah garam sedikit lagi." Ucap Andra setelah mencicipi. Sop buatan Lala terasa hambar.
Lala pun mengambil sesendok garam. "Segini, Mas?"
Andra mengangguk. Ia menatap Lala menuruti perkataannya.
"Sepertinya sudah enak, Mas." Ucap Lala. Pandangannya melihat Andra. Pria itu menatapnya dengan pandangan yang begitu dalam. Mendadak Lala baper jadinya.
"Mas Andra, co-coba rasa!" Lala menyendokkan sop dan memberikan pada sang suami.
Andra mencicipinya dan mengangguk, tanda rasanya sudah pas.
Lala kini mulai menggoreng ayam. Begitu meletakkan wajan lalu minyak. Ia pun memasukkan ayamnya.
"Lala minyaknya belum panas." Andra jadi menggeleng.
"Tadi Lala kira sudah panas." Nyengir Lala jadi malu.
Andra memberitahu Lala. Setelah menggoreng ayam lalu menirisnya. Agar ayamnya kering dan tidak berminyak.
"Ok sudah selesai masaknya. Ayo makan." Ucap Lala membawa ayamnya ke meja makan.
"Lala... ini kompornya tidak dimatikan?" tanya Andra. Istrinya meninggalkan masakannya begitu saja.
"Ah iya. Lala lupa." Lala pun akan mematikan, tapi tangan Andra yang sudah melakukannya terlebih dahulu.
"Pasti kau keseringan lupa matikan kompor kan?" tanya Andra berjalan mendekati Lala.
"I-itu... Lala sering lupa, Mas." Ucap Lala merasa bersalah. Ia sadar keseringan begitu.
Andra jadi menghela nafas. Jika keseringan begitu, istrinya dalam bahaya.
"Sayang, sudahlah kamu nggak usah masak." Andra tidak ingin Lala kenapa-kenapa. Istrinya itu sangat ceroboh.
"Ta-tapi, Mas. Lala ingin memasak untuk Mas Andra. Lala ingin Mas kenyang dengan masakan Lala." Ucap Lala dengan nada yang lirih. Hanya ingin menjadi istri seutuhnya.
Andra menatap Lala sejenak. Ada rasa takut jika tiba-tiba Lala meninggalkannya. Lantaran lupa mematikan kompor, rumah kebakaran. Dan Lala terperangkap di dalam. Lalu...
Rasanya Andra tidak sanggup memikirkan kejadian selanjutnya.
"Lala, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa. Aku nggak masalah kamu nggak bisa masak. Kita bisa makan di luar atau apalah." Jelas Andra. Dulu ia memang menyesal menikahi Lala yang tidak bisa memasak. Tapi sekarang ia tidak mempermasalahkan itu. Baginya sekarang Lala yang terpenting.
"Tapi, Mas. Lala ingin memasak-"
"Aku tahu. Tapi kamu keseringan lupa mematikan kompor. Kalau terjadi sesuatu padamu, bagaimana denganku?" tanya Andra dengan nada yang berat. Mendadak rasa tidak rela menghinggapinya.
Nyes... Nyes... Nyes...
Hati Lala mulai meleleh. Ucapan suaminya seakan takut kehilangannya.
"Mas Andra..." Lala sudah terharu. Ia memeluk tubuh sang suami. Memeluk dengan begitu erat. Cintanya perlahan terbalas.
__ADS_1
"Lala..." ucap Andra yang mendekap Lala dengan erat.
"Iya, Mas." Jawab Lala.
"Aku sayang sama kamu. Jadi aku nggak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu." Jelas Andra agar Lala mengerti.
Dalam pelukan Andra, air mata Lala jatuh berlinang. Rasanya begitu bahagia, hingga ia ingin menangis saja.
"Jadi tolong dengarkan aku ya." Andra melonggarkan pelukannya dan mengusap mata berkaca itu.
Wanita itu menganggukkan kepalanya. Ya, Lala akan menuruti suaminya. Tak akan membuat pria itu kecewa padanya.
"Istriku pintar." Andra pun mengelus kepala Lala. Senang karena Lala begitu penurut.
Andra pun mulai mendaratkan bibirnya. Mencium bibir sang istri yang kemerahan. Dan Lala membalas setiap pagutan.
"Mas Andra..." Ucap Lala jadi kegelian. Ciuman suaminya mulai menjalar ke lehernya. Hembusan nafasnya membuat tubuhnya meriang.
Ting Tong...
Andra dan Lala saling menatap. Bertanya siapa tamu yanh datang.
"Biar Lala buka pintu ya, Mas." Ucap Lala dan bergerak ke arah pintu.
Begitu Lala membuka pintu.
"Papa!!!"
\=\=\=\=\=\=
"Iya, Pa. Lala yang masak, tapi Mas Andra yang beri instruksi." Jelas Lala dengan wajah bahagia.
Lala mengambil piring dan mendadak bingung. Ia dihadapkan pada 2 pilihan. Mau menyajikan siapa?
Lala harus patuh pada suaminya. Jika ia menyajikam untuk Andra dahulu, bagaimana ekspresi papanya?
Jika menyajikan untuk papanya dahulu, nanti Andra merasa tidak dihargai sebagai suami.
'Kok jadi bingung?' Lala pusing sendiri. Ia ingin menjaga perasaan keduanya.
Andra menyadari ekspresi Lala yang malah begong. Ia memberikan isyarat agar Lala menyajikan papanya terlebih dahulu.
"Ini untuk Papa." Lala menurut menyajikan Papanya.
"Ambilkan Andra dulu." Papa merasa tidak enak. Nanti menantunya marah pula pada putrinya.
"Nggak apa, Pa. Papa saja. Lala tambahkan lagi sopnya untuk Papa." Pinta Andra. Ia akan mengalah dengan mertuanya itu. Setelah mertuanya pulang, Lala akan fokus padanya lagi.
"Sudah, sayang. Papa tadi sudah makan jangan banyak-banyak. Kamu ambilkan untu Andra." Pinta Papa. Ia tidak mau Lala terlalu manja padanya.
Kini mereka pun makan bersama-sama. Ayaz tak hentinya memuji masakan putrinya.
Sebenarnya bukan karena rasanya yang enak. Rasa masakan Lala biasa saja, tapi yang membuat Ayaz terus memuji. Karena Lala bisa membuatnya. Putrinya sudah bisa memasak.
__ADS_1
"Kamu bisa masak apa lagi, nak?" tanya Ayaz ingin tahu.
"Lala bisa masak telu ceplok, telur dadar, telur orek..." Lala mengatakan hal yang sudah bisa ia lakukan.
"Wah... Putri Papa sangat hebat." Ayaz sangat bangga.
Lala tersenyum malu.
"Tapi, Pa. Aku melarang Lala untuk memasak lagi." Sambung Andra.
"Kenapa?" tanya Ayaz jadi bingung. Seorang suami biasanya senang istrinya masak, kenapa malah dilarang.
"Aku nggak mau Lala kenapa-kenapa, Pa. Lala itu suka lupa mematikan kompor setelah masak." Andra pun memberitahu, jika Lala dalam bahaya.
"Apa?" Ayaz mengkerutkan keningnya. Apa yang dilakukan putrinya sangat berbahaya.
"Lala jangan memasak lagi. Kalian bisa pesan makanan atau rantangan saja." Saran Ayaz. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada putrinya. Bagaimana tiba-tiba dapat kabar Lala sudah tiada. Lala tidak bisa menyelamatkan diri dari dalam rumah.
Lala menundukkan kepala. Ia sadar, kedua pria itu terlalu mengkhawatirkanmya. Tapi memang benar sih, ia sering lupa mematikan kompor. Selang beberapa lama, baru ingat sama kompor.
"Aku juga tidak mau tangan istriku terluka, Pa." Andra meraih tangan Lala dan menunjukkan banyaknya goresan pisau.
"Astaga, Lala!" Papa menatap sendu sanb putri. Lala begitu sangat berusaha sekali.
Setelah selesai makan, Ayaz duduk di ruang tamu bersama sang putri dan menantunya.
Andra melihati saja, istrinya yang sedang diobati mertuanya. Ayaz sedang mengobati tangan Lala. Wajah mertuanya tampak begitu khawatir.
Wajar saja Ayaz begitu. Lala itu putri semata wayangnya. Lala yang dibesarkan bagaikan seorang putri.
"Mana lagi yang sakit, nak?" tanya Ayaz setelah mengobati tangan Lala.
"Lala nggak apa, Papa." Lala tersenyum tipis.
Pandangan Ayaz kini tertuju pada leher sang putri. Terlihat jelas tanda merah di sana. Bukan satu, ada beberapa.
Ayaz sangat tahu itu karena apa dan perbuatan siapa.
"Lala, Papa mau bicara empat mata dengan Andra." Ucap Ayaz. Ia harus memastikan.
Lala dan Andra terlihat bingung.
"Lala, buat teh sana." Pinta Andra pada istrinya dan Lala mengangguk.
Setelah Lala pergi, Ayaz menatap tajam menantunya itu.
"Andra..." Ucap Ayaz dengan nada dingin.
"I-iya, Pa." Andra jadi gugup.
"Apa kamu sudah menyentuh Lala?"
.
__ADS_1
.
.