
Shen Qinchang hanya melirik pemimpin perampok dan tak berbicara. Ia malah berbalik dan menatap Lin Feili.
Sejak awal, wanita itu tak pernah mencari masalah ataupun bertingkah bodoh. Sebaliknya, ia malah memanfaatkan para perampok untuk berurusan dengan orang yang mengejarnya.
Penampilannya sangat luar biasa. Walau Shen Qinchang telah melihat banyak wanita cantik sebelumnya, tapi ia tetap terpaku melihat kecantikan Lin Feili.
Wajah dan fitur di seluruh tubuhnya begitu indah, tidak terlihat cacat sedikitpun. Dari sudut bagian manapun dilihat, hanya ada kecantikan di dirinya.
Hal yang paling luar biasa adalah sikap tenangnya. Itu bukan hal yang wajar dan membuat Shen Qinchang tak melupakannya.
Untuk seorang wanita cantik yang berani keluar sendirian di malam hari, pasti kekuatannya tidak buruk. Ditambah lagi, dengan trik dan pemikirannya, ia pasti wanita yang cerdas.
"Zhang Mingxi, bukankah wanita itu menarik?" tanya Shen Qinchang pada Zhang Mingxi dengan nada sedikit menggoda.
Wajah Zhang Mingxi masih sedingin gunung es yang tak meleleh dengan pertanyaan itu. Ia melirik Lin Feili sekilas dan berbalik acuh tak acuh.
"Lalu, apa urusannya denganku?" tanya Zhang Mingxi ketus.
Shen Qinchang menggelengkan kepalanya mendengar jawaban itu, "Zhang Mingxi, kau benar-benar pria yang sangat membosankan."
"Ada banyak hal tak penting di dunia ini. Kalau kau memiliki sikap sepertiku, kekuatan kultivasimu pasti akan menjadi lebih cepat," jawab Zhang Mingxi masih dengan suara yang dingin.
Mendengar jawaban itu, Shen Qinchang tersenyum dan menjawab, "Memiliki kekuatan hanya bisa membuat hidupmu lebih baik, tapi tidak menyenangkan. Tentu saja aku tak ingin menjadi sepertimu yang hanya tahu berkultivasi."
Shen Qinchang memiliki pandangan hidup sendiri. Ia masih ingin membalas terima kasih dan dendam. Ia juga ingin hidup dengan menyenangkan.
*
Lin Feili menginjak dada Zhao Xiaoyao. Ia tersenyum memesona dan menyindir, "Jadi ... kau ingin memberiku pelajaran?"
Suara Lin Feili memang lembut. Namun, hal itu malah membuat Zhao Xiaoyao merinding dan semakin pucat.
"K-kau ...," Zhao Xiaoyao mencoba menjelaskan, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya tidak jelas. Jadi, hal itu sama sekali tidak berguna.
"Kau bilang ingin membunuhku, kan? Kalau begitu, menurutmu apa yang seharusnya ku lakukan padamu?" tanya Lin Feili dengan suara yang tak selembut tadi.
"A-apa yang akan kau lakukan?" tanya Zhao Xiaoyao panik.
__ADS_1
Lin Feili menyipitkan mata dan menjawab dengan tajam, "Jika seseorang berani menyinggungku, maka aku akan menghancurkannya!"
Tadinya, ia tak memiliki dendam dengan Zhao Xiaoyao, dan hanya sedikit membencinya. Karena itu, Lin Feili melepaskannya.
Namun, Zhao Xiaoyao tak pernah berpikir panjang dan menuntutnya untuk terus memberi pelajaran. Karena itu keinginannya, tentu saja akan dikabulkan Lin Feili.
"Kau tidak bisa membunuhku!" teriak Zhao Xiaoyao ketakutan.
"Memangnya kau siapa? Jika aku ingin membunuhmu, maka aku akan membunuhmu," jawab Lin Feili sambil tersenyum tipis. Kini, mata pedangnya sudah berada di atas perut Zhao Xiaoyao.
"Jangan! Aku mohon lepaskan aku! Aku tidak akan melakukannya lagi!" teriak Zhao Xiaoyao mencoba memohon.
Pada saat yang sama, seluruh anak buah Zhao Xiaoyao telah kalah. Para perampok telah menjarah semua harta mereka.
Sedangkan pemimpin perampok menggelengkan kepalanya tak berdaya. Padahal, situasi mereka saat ini terpuruk, tapi masih saja mereka mengambil harta orang lain.
Bagaimana bisa ia merawat orang-orang seperti itu?
Saat pemimpin perampok ingin memanggil mereka, Shen Qinchang menghentikannya, "Jangan."
Mendengar itu, pemimpin perampok langsung patuh, "Baik, seperti perintah Tuan Muda."
Pemimpin perampok itu terkejut. Pertarungan hidup dan mati mereka ternyata telah menjadi drama di mata mereka. Namun, karena dua orang itu terlalu kuat, pemimpin perampok hanya bisa patuh.
Sedangkan Lin Feili mengabaikan permohonan Zhao Xiaoyao. Kini, mata pedangnya mulai mengeluarkan darah.
"Selamatkan aku!" teriak Zhao Xiaoyao.
Para bawahannya yang terkapar langsung melihat Zhao Xiaoyao yang hampir mati. Tugas mereka adalah melindungi Zhao Xiaoyao. Jika ia mati, mustahil mereka bisa tetap hidup.
Memikirkan ini, mereka benar-benar menyesal. Sebelumnya, mereka hanya bertarung dengan pedang atau pukulan. Baru kali ini mereka benar-benar bertarung dengan saling membunuh dan menggantungkan nyawa di tangan orang lain.
Sing! Sing! Sing!
Melihat perlawanan putus asa dari para bawahan Zhao Xiaoyao, para perampok gunung malah semakin ganas. Mereka hanya ingin memperjuangkan rumah mereka.
Untuk apa takut? Tangan mereka sudah kotor!
__ADS_1
Melihat pertempuran antar nyawa ini, Lin Feili tak khawatir sedikitpun. Ia hanya terus tersenyum melihat pertempuran kedua belah pihak.
Zhao Xiaoyao masih ketakutan melihat Lin Feili. Jika ia menggerakkan pedangnya sekali lagi, ia pasti akan mati.
Sedangkan Lin Feili saat ini menatap kedua pria yang tak jauh dari sana. Sejak awal ia telah memerhatikan bahwa pemimpin perampok telah menyerah.
Melihat kekuatan Shen Qinchang dan Zhang Mingxi, tak heran dia melakukannya.
Namun, mereka malah tak menghentikan para perampok itu dan membiarkan mereka menghabisi anak buah Zhao Xiaoyao. Ini agak aneh.
Merasakan tatapan Lin Feili, Shen Qinchang tersenyum dan mengangguk pada Lin Feili. Lin Feili pun mengangguk sebagai jawaban.
Ternyata yang mereka lakukan hanyalah untuk menonton drama yang bagus. Setidaknya, mereka tak memiliki niat jahat.
Baginya itu sudah cukup.
*
Dalam sekejap, tanah telah dipenuhi banyak mayat, baik para perampok gunung, maupun anak buah Zhao Xiaoyao.
Melihat anak buah Zhao Xiaoyao membunuh saudara mereka, membuat mereka semakin ganas dan menghabisi seluruh anak buah Zhao Xiaoyao. Akhirnya, semua anak buah Zhao Xiaoyao tak ada yang tersisa, mati di tangan para perampok gunung.
Setelah itu, pemimpin perampok berteriak, "Ayo kita pergi!"
Para perampok itu akhirnya mengalihkan pandangan mereka. Sejak tadi, mereka hanya fokus ke depan dan haus darah. Mereka tak tahu apa yang terjadi dengan yang lainnya.
Namun, karena pemimpin mereka menyuruh pergi, maka mereka langsung patuh dan pergi.
"Sepertinya orang-orang yang kau sewa itu tidak berguna," cibir Lin Feili pada Zhao Xiaoyao sambil tersenyum.
Zhao Xiaoyao benar-benar menyesal sekarang. Jika saja tadi ia tak keras kepala dan hanya merajuk di rumah, mungkin ia masih bisa hidup.
"Nona, selamatkanlah aku. Aku tak akan pernah melakukannya lagi. Jika kau melepaskanku, maka aku akan memberikanmu segalanya," Zhao Xiaoyao masih mencoba memohon.
Lin Feili hanya mengangkat alis. Ia sama sekali tak tertarik dengan barang-barang Zhao Xiaoyao. Orang seperti Zhao Xiaoyao seharusnya sudah lama mati.
Namun, belum sempat Lin Feili bergerak, sebuah pisau melayang tepat di jantung Zhao Xiaoyao.
__ADS_1
Mata Zhao Xiaoyao membelalak dan tak menyangka ia akan mati hari ini, apalagi mati di tangan orang asing.