
"Tolong! Selamatkan aku!" teriak seseorang.
"Apakah di sini ada orang? Tolong aku!" teriakan panik minta tolong bergema tidak terlalu jauh. Suara itu terdengar sangat ketakutan.
Lin Feili langsung membuka mata dan melihat ke arah suara. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia langsung berjalan ke arah sumber suara.
Si hitam dan si emas saling pandang. Tuan mereka tidak pernah mau rugi. Ia tidak pernah menolong orang tanpa alasan.
Saat Lin Feili semakin dekat, ia melihat api unggun yang masih hidup.
"Benar dugaanku," gumam Lin Feili. Ia sangat yakin jika masalah ini pasti karena binatang iblis tertarik dengan api yang mereka buat.
Lin Feili melihat pria dan wanita yang dikepung oleh 5 tupai api.
Tupai api sangat sensitif terhadap api. Selama ada api di tempat terbuka, mereka akan langsung mendekat. Namun, Lin Feili tidak menyangka akan ada begitu banyak tupai api di Gunung Hong.
Pria dan wanita itu sama-sama berada di tahap menengah, tingkat udara, sama seperti tupai api. Namun, jumlah tupai api lebih banyak daripada mereka. Apalagi mereka dalam keadaan panik saat ini.
Jika mereka bertarung, maka dapat dipastikan mereka akan kalah dalam waktu singkat. Sekarang saja sudah terlihat banyak luka di tubuh mereka.
Pong Wenbin dan Ru Wanjing sudah ketakutan setengah mati. Mereka tidak pernah menyangka akan ada banyak tupai api muncul.
Mereka berdua bukanlah lawan tupai api.
Saat mereka sudah berteriak untuk meminta tolong, tapi kelihatannya tidak ada yang datang, mereka berdua langsung kehilangan harapan.
Beberapa tahun terakhir tidak ada yang mati dalam acara panahan kekaisaran. Sepertinya mereka berdua akan menjadi bagian yang mati tahun ini.
Namun, Pong Wenbin tiba-tiba merasakan pergerakan di depan mereka. Sosok putih muncul di depan mereka.
"Nona, tolong bantu kami. Kami tidak akan melupakan jasamu," ucap Pong Wenbin dengan raut gembira. Jika ada satu orang lagi yang bergabung dengan mereka, masih ada kemungkinan mereka akan menang.
__ADS_1
Namun, Lin Feili bahkan tidak melirik mereka.
Lin Feili beranjak kembali dengan wajah kecewa. Ia pikir yang muncul adalah harimau sinar bintang. Ternyata hanya 5 tupai api.
Melihat wajah Lin Feili sekilas, Ru Wanjing langsung mengenalinya. Harapan di hatinya pun semakin pupus.
Mereka bisa menang jika ada satu orang yang bergabung, tapi itu pengecualian untuk Lin Feili. Siapa yang tidak tahu jika Lin Feili adalah sampah yang tidak bisa berkultivasi. Ia datang ke sini hanya untuk mencari mati.
"Nona!" teriak Pong Wenbin lagi.
Namun, Ru Wanjing menahan teriakannya, "Wenbin, jangan berteriak lagi, tidak ada gunanya meminta tolong pada dia. Dia adalah Lin Feili, seorang sampah yang tidak bisa menolong kita."
Mengetahui itu adalah Lin Feili, wajah Pong Wenbin sedikit berubah. Ia akhirnya melihat secercah harapan, tapi tak menyangka yang datang adalah Lin Feili.
Namun, salah satu tupai api tiba-tiba menargetkan Lin Feili dan langsung menyerangnya.
"Putri Wu, hati-hati!" teriak Pong Wenbin. Walau ia tidak dekat dengan Lin Feili, tapi ia tidak ingin melihat Lin Feili mati karena dia.
Hanya ada kilatan perak yang terlihat.
Sedetik kemudian, tupai api sudah terbaring di tanah.
Melihat apa yang baru saja terjadi, Pong Wenbin dan Ru Wanjing saling tatap kaget. Itu adalah tupai api level menengah tingkat udara.
Apakah Lin Feili benar-benar bisa membunuhnya hanya dengan satu tebasan?
Melihat rekannya dibunuh oleh Lin Feili, tupai api lainnya segera menyerbu bersamaan menuju Lin Feili.
Wajah Lin Feili begitu santai saat ia mengayunkan pedangnya, menebas seluruh tupai api yang menerjang ke arahnya.
Tas! Tas! Tas! Tas!
__ADS_1
Empat tupai api lainnya langsung terjatuh ke tanah tanpa sempat melakukan serangan.
Dengan mengayunkan pedang yang sekali lagi, Lin Feili mengeluarkan kristal-kristal roh dari tubuh tupai api. Benda ini memiliki banyak manfaat.
Pong Wenbin dan Ru Wanjing berjalan menghampiri Lin Feili.
"Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Putri Wu karena telah membunuh binatang iblis dan membantu kami," ucap Pong Wenbin menangkapkan tangannya sebagai tanda terima kasih.
Lin Feili memandang datar dua orang di depannya. Ia tak memiliki pendapat tentang siapa mereka berdua. Ia juga tidak ingat apapun tentang mereka di dalam novel.
"Jangan berterima kasih padaku, berterima kasihlah pada dirimu sendiri," ucap Lin Feili langsung bergegas kembali untuk beristirahat.
Awalnya Lin Feili tidak berniat untuk membantu mereka. Namun, ketika mendengar teriakan Pong Wenbin padanya untuk berhati-hati, Lin Feili mengubah niatnya.
Setidaknya, Pong Wenbin masih baik hati.
Melihat ketidakpedulian Lin Feili, Pong Wenbin kembali berteriak, "Terima kasih banyak Putri Wu karena telah menyelamatkan kami!"
"Jangan menyalakan api di malam hari," ucap Lin Feili sebelum ia benar-benar lenyap di dalam hutan.
Pong Wenbin tersenyum tipis. Ia tidak mengenal Lin Feili sama sekali. Tapi setelah bertemu dengannya, ia merasa Lin Feili adalah orang yang sangat baik.
"Aku tidak menyangka ternyata ia begitu kuat. Hanya dengan satu tebasan, ia bisa membunuh semua tupai api. Bagaimana ia bisa begitu kuat?" tanya Ru Wanjing dengan bingung.
Pong Wenbin menggeleng. Yang ia tahu Lin Feili lebih kuat daripada mereka, tapi tidak tahu ia sekuat apa.
"Sepertinya penilaian orang-orang padanya salah. Putri Wu bukanlah sampah," ucap Pong Wenbin.
Ru Wanjing menghela napas lega, "Setidaknya kita sudah lolos dari ancaman binatang iblis. Kita berhutang budi pada Lin Feili."
Pong Wenbin tersenyum dan mematikan api. Ia mengingat kata-kata terakhir Lin Feili.
__ADS_1