
Setelah Wu Yanshi pergi dari Kediaman Mawar, si hitam dan si emas langsung melompat ke tempat tidur.
"Tuan, mengapa kau membantu Wu Yanshi?" tanya si emas bingung. Ini tidak seperti kepribadian Lin Feili yang tidak ingin patuh pada orang lain.
"Ada hal-hal yang tidak memiliki alasan," jawab Lin Feili.
Wu Yanshi adalah orang yang memiliki banyak rahasia. Identitasnya tidak jelas dan Lin Feili tidak melihat detail identitasnya di novel. Namun, sepertinya Wu Yanshi memiliki dukungan kuat di belakangnya. Apalagi ia adalah jenius di generasinya.
Beberapa hari selanjutnya, Wu Yanshi terus datang ke Kediaman Mawar. Kelumpuhannya berkurang sedikit demi sedikit. Ia hanya perlu menunggu hari ke-7 untuk sembuh total.
*
Hari ini, Lin Feili baru sempat membaca buku harian Zhao Sese. Buku ini berisi seluruh keluh kesah Zhao Sese semasa hidupnya. Lin Feili pun penasaran dengan apa yang dipikirkan Zhao Sese.
Di awal halaman, Lin Feili dapat melihat jelas perasaan cinta yang dimiliki Zhao Sese kepada Lin Changkong. Ia percaya jika ia menikahi seorang jenderal, maka hidupnya akan bahagia.
Namun, ternyata ia jatuh ke dalam jurang kehancuran.
Awalnya catatan itu berisi rasa cinta yang tulus, tapi pada akhirnya berisi kesepian yang mengerikan. Lin Feili menghela napas. Sejak awal, Zhao Sese telah mencintai orang yang salah.
Saat Lin Feili tiba di halaman terakhir, ternyata ada dua kertas yang saling menempel. Ada catatan di dalamnya. Namun, Mengapa dua kertas itu ditempelkan?
Lin Feili dengan hati-hati memisahkan dua kertas itu agar isi di dalamnya tetap utuh. Akhirnya, ia bisa membaca isinya.
Dengan sekali lihat, Lin Feili dapat menyimpulkan isinya. Semakin ia membaca dengan teliti dari awal hingga akhir, jantungnya berpacu semakin cepat. Hatinya tidak bisa merasakan tenang.
Karena, ternyata Lin Feili bukan putri kandung Zhao Sese.
Awalnya, Zhao Sese berpura-pura hamil untuk mendapatkan cinta Lin Changkong. Walau Lin Changkong tidak meragukannya, tapi Wei Luxi begitu tidak senang.
Saat tiba waktunya Zhao Sese berpura-pura akan melahirkan, untungnya Lin Changkong tidak bisa mengunjunginya. Jadi, Zhao Sese bisa melakukan rencana awalnya. Ia sudah menyuruh pelayannya untuk meminta seorang ibu hamil agar menyerahkan bayinya setelah ia lahir.
__ADS_1
Namun, ternyata wanita itu melahirkan anak laki-laki. Jadi, mereka tidak mau memberikannya pada Zhao Sese.
Saat Zhao Sese panik dan tidak tahu harus berbuat apa, pelayannya menemukan bayi di luar. Bayi itu adalah Lin Feili.
"Ternyata aku bukan anak Zhao Sese dan Lin Changkong," ucap Lin Feili terkejut.
Namun, setelah memikirkannya lagi dia sebenarnya sangat senang. Lin Changkong tak pernah menjadi sosok ayah yang memenuhi tanggung jawabnya. Sekarang ia tahu jika mereka tak memiliki ikatan darah. Jadi, ia bisa tenang.
"Namun, siapa orang tua kandungku? Mengapa mereka meninggalkanku di gerbang Kediaman Jenderal?" gumam Lin Feili.
Berdasarkan tulisan Zhao Sese, kondisi Lin Feili saat itu masih berlumuran darah. Artinya, orang tuanya terpaksa meninggalkannya di sana.
Namun, apa yang terjadi dengan mereka? Apakah mereka masih hidup?
Sambil memikirkan ini, Lin Feili memeriksa lagi sisa-sisa barang milik Zhao Sese. Ia menemukan sepotong batu giok putih.
Batu giok putih itu menjadi liontin di lehernya saat bayi. Itu adalah satu-satunya peninggalan orang tua kandungnya.
*
Wu Yanshi kembali datang ke Kediaman Mawar seperti biasa. Namun, ia melihat Lin Feili yang agak linglung. Ia bertanya dengan cemas, "Calon istriku, ada apa denganmu hari ini? Apakah ada masalah?"
Lin Feili menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak ada."
Sejak hari itu, Lin Feili terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Mencari informasi hanya dengan sepotong giok putih di dunia ini, bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami.
Apalagi, tidak pernah ada plot seperti ini di novel. Jadi, Lin Feili tidak bisa menyelesaikannya.
Wu Yanshi masih memandang Lin Feili dengan cemas, "Walau aku tidak tahu apa yang terjadi, kamu bisa mempercayaiku. Jika butuh bantuan, katakan saja padaku."
Lin Feili tahu jika Wu Yanshi serius. Jadi, ia mengangguk, "Terima kasih."
__ADS_1
Wu Yanshi tak mengatakan apa-apa lagi. Jika Lin Feili ingin memberitahunya, maka ia akan memberitahunya, dan sebaliknya.
"Kau datang untuk akupuntur. Setelah hari ini, kau akan bisa berdiri dan berjalan lagi," ucap Lin Feili tersenyum.
Wu Yanshi juga tersenyum lebar, "Kamu sudah bekerja keras."
Wu Yanshi bisa merasakan dengan jelas kelumpuhannya sembuh sampai bagian betis, tapi di bagian bawah ia masih mati rasa. Namun, setelah hari ini ia bisa berdiri lagi.
Ma Zheng menanamkan rasa terima kasih dalam hatinya, karena Lin Feili mau menyembuhkan pangerannya. Sejak kaki pangerannya lumpuh, ia belum pernah melihatnya senyum setulus itu.
Sekarang, Lin Feili berhasil mengembalikannya.
Lin Feili telah selesai dan memasukkan jarum peraknya. Wajahnya pucat, tapi ia menyeringai lebar, "Cobalah berdiri."
Wu Yanshi agak terkejut. Setelah duduk di kursi roda begitu lama, ia hampir lupa bagaimana caranya berdiri. Hatinya bergetar mendengarkan ucapan Lin Feili. Mungkin, karena ia sudah terlalu lama menantikan hari ini.
Saat harinya tiba, hatinya merasa sedikit takut. Jika ternyata ia tidak bisa berdiri, bukankah ia akan langsung depresi?
Wajah Wu Yanshi perlahan menjadi tenang kembali. Ia sudah mempersiapkan hatinya dan meletakkan tangannya di kursi roda.
Ia berdiri perlahan.
Saat kakinya menapak di tanah, Wu Yanshi tersenyum manis.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia akhirnya berdiri lagi!
Wu Yanshi mencoba berjalan beberapa langkah dengan lambat. Lama kelamaan, ia terus berjalan hingga ia bisa berlari begitu cepat mengelilingi kebun mawar. Jika orang yang tidak tahu, mereka tidak akan percaya jika Wu Yanshi pernah duduk di kursi roda begitu lama.
Lin Feili tersenyum cerah. Sebagai seorang dokter, menyaksikan seorang pasiennya sembuh adalah hal yang membahagiakan untuknya.
Ma Zheng terlalu terpana dan tidak bisa berkata-kata banyak, "Tuan ... tuan berdiri!"
__ADS_1
Ia benar-benar ingin berteriak kepada dunia sekarang.
Pangerannya yang lumpuh akhirnya berdiri.