
Pertempuran hari ini sangat menegangkan.
Orang-orang yang menonton kembali turun ke tanah. Mendengar Lin Feili sudah meninggal, mereka tidak terlalu terkejut.
Walau kekuatan Lin Feili tidak seperti yang mereka bayangkan, tapi hasil akhirnya seperti yang mereka pikirkan.
Wajah Pong Wenbin pucat. Ia benar-benar tidak terima jika Lin Feili mati dengan cara seperti ini.
"Jangan bersedih. Kau juga tahu Lin Feili tidak mungkin bisa mengalahkan raja serigala petir," ucap Ru Wanjing mencoba menenangkan Pong Wenbin.
Baginya Lin Feili begitu naif. Sejak ia dikepung oleh kawanan serigala petir, Lin Feili sudah ditakdirkan untuk mati.
Namun, saat Ru Wanjing melihat ke tempat raja serigala petir, ia melihat sosok yang penuh darah muncul dari mayat raja serigala petir.
Ru Wanjing mengangkat jarinya ke arah tersebut, tapi tenggorokannya tercekat. Ia tak bisa mengatakan apapun.
Melihat ekspresi Ru Wanjing yang seperti melihat hantu, Pong Wenbin agak kebingungan. Matanya mengikuti jari telunjuk Ru Wanjing.
Wajah Pong Wenbin yang tadinya pucat langsung terkejut, "Lin Feili, kau tidak meninggal?"
Suaranya keras dan bersemangat, menggema di hutan yang tenang. Para kultivator yang tadi sudah berjalan pergi, mereka berhenti setelah mendengar ucapan itu.
Apa yang baru saja dikatakan? Lin Feili masih hidup?
Para kawanan serigala lain tidak ingin bertarung lagi karena melihat raja mereka sudah mati. Mereka berlari masuk ke dalam hutan.
"Apakah Lin Feili benar-benar mengalahkan raja serigala petir? Pasti aku sedang bermimpi!" seri salah satu orang.
Hal ini benar-benar berbeda jauh dari apa yang mereka pikirkan. Bahkan jika Lin Feili sudah memasuki tahap menengah, tetap saja ia bukan lawan raja serigala petir.
"Apakah kultivasi Lin Feili berada di tingkat akhir?" tanya seseorang menebak-nebak.
Kultivator lain yang mendengar ini tidak percaya. Namun melihat pertarungan tadi, mereka tidak bisa menyangkalnya.
Sosok Lin Feili yang sudah dipenuhi darah itu berjalan perlahan. Walau ia baru saja selesai melakukan pertempuran besar, tapi ia tetap tampak anggun dan wajahnya acuh tak acuh.
__ADS_1
Mata Lin Feili menyapu kerumunan yang ada di depannya. Matanya yang tajam dan sedingin es, membuat para kultivator tidak berani menghadapinya.
Inilah aura Lin Feili yang sebenarnya.
Saat ini, semua orang sadar satu hal. Lin Feili bukan lagi seorang sampah, tapi seorang jenius yang tak tertandingi.
Mereka melihat Lin Feili sudah di depan Pong Wenbin dan Ru Wanjing.
Belum sempat Lin Feili berbicara dan baru membuka mulut, Lin Feili memasukkan sebuah pil kecil ke dalam mulutnya.
"Apa yang kau berikan pada Pong Wenbin?" tanya Ru Wanjing khawatir.
"Tenang saja. Lin Feili tidak mungkin menyakitiku," jawab Pong Wenbin santai. Jika memang Lin Feili ingin membunuhnya, ia pasti sudah mati ribuan kali. Yang dia berikan pasti pil penyembuhan.
Lin Feili melirik Ru Wanjing sekilas, kemudian melihat lagi ke arah Pong Wenbin, "Kau lebih pintar daripada dia."
Ru Wanjing tidak terima dengan ucapan Lin Feili. Namun, ia tak memiliki kata-kata untuk membalasnya.
Lin Feili memberikan satu botol putih kepada Pong Wenbin, "Ambil pil ini. Pil ini kualitasnya sangat bagus."
"Terima kasih," ucap Pong Wenbin menerima botol itu sambil tersenyum.
Ia tidak peduli alasan Pong Wenbin membantunya atau Pong Wenbin hanya ingin membalas budinya kemarin.
Pong Wenbin telah membahayakan dirinya sendiri untuk membantu Lin Feili yang sedang kesulitan. Tidak banyak orang yang bisa melakukan itu.
"Aku merasa sangat terhormat," ucap Pong Wenbin, senyumnya merekah secerah matahari. Dari awal, ia memang sudah sangat ingin menjadi teman Lin Feili.
"Aku akan pergi dulu. Jika kau membutuhkan sesuatu, jangan ragu untuk mencariku," ucap Lin Feili. Ia melihat wajah Ru Wanjing yang penuh kebencian.
Lin Feili hanya tersenyum kecil padanya. Ia tak ingin berurusan dengan orang yang tidak penting.
Pong Wenbin mengerti maksud Lin Feili. Ia mengangguk dan berkata, "Ada banyak binatang iblis di hutan ini. Kau harus hati-hati."
"Jangan khawatir," ucap Lin Feili, membalikkan badan dan pergi.
__ADS_1
Ketika Lin Feili sudah pergi, orang-orang yang ada di sana bisa bernapas lega. Sebelumnya mereka sangat tegang, takut kalau Lin Feili menyerang mereka.
"Lin Xue benar-benar beruntung tidak berada di sini. Jika ia melihat kekuatan Lin Feili tadi, pasti ia sudah mati berdiri bahkan sebelum Lin Feili menyerang," ucap salah satu orang.
Mereka semua telah melihat kekuatan Lin Feili saat melawan raja serigala petir. Kekuatan Lin Xue pasti tidak bisa dibandingkan dengannya.
*
Setelah berjalan cukup jauh, Lin Feili menyadari tubuhnya sangat bau. Darah masih melekat di kulitnya.
"Apakah ada sungai di sekitar sini?" tanya Lin Feili.
"Ada, Tuan. Tidak jauh dari sini," jawab si emas.
Lin Feili pun mengangguk dan melanjutkan perjalanan. Tidak perlu waktu lama, ia sampai di sungai.
Ia segera membasuh wajah dan seluruh darah yang ada di tubuhnya. Kemudian, ia mengganti jubahnya dengan yang bersih.
Setelah semua itu, Lin Feili duduk istirahat di bawah pohon.
"Tuan, kemunculan serigala petir itu sangat mencurigakan. Sepertinya seseorang sengaja memancing mereka ke arah kita," ucap si hitam.
Lin Feili juga memahami sifat binatang iblis. Jika tidak ada yang mengganggu mereka, mereka tidak akan menyerang.
"Pasti ada orang di balik ini," ucap Lin Feili. Suaranya sedingin es.
Tidak mungkin ia membuat kesalahan kecil seperti menyinggung binatang iblis. Apalagi binatang iblisnya adalah serigala petir.
Pasti ada tangan ketiga dibalik ini.
Si emas mengerutkan kening, "Tapi, peserta dalam acara ini tidak ada yang memiliki kemampuan seperti itu, Tuan."
Rata-rata peserta tidak ingin dirugikan dalam acara ini. Apalagi kekuatan mereka di bawah serigala petir Menggunakan serigala petir sebagai pancingan, mereka hanya akan membahayakan diri sendiri.
"Bukan peserta, pasti orang lain," ucap Lin Feili menyeringai.
__ADS_1
"Apakah ...," si hitam terkejut. Ia juga curiga dengan seseorang.
"Benar," ucap Lin Feili. Si hitam dan si emas akhirnya mengerti.