
"Sial! Ini tidak mungkin! Dia terbuat dari apa sehingga bisa menyerap seluruh kristal roh?" ucap si hitam sambil membelalak.
"Tidak. Seharusnya tidak seperti ini," imbuh si emas yang juga tidak percaya. Hal itu sangat jauh berbeda dengan apa yang mereka pikirkan.
Sedangkan Lin Feili tetap diam. Iris matanya membesar. Bibirnya tersenyum lebar melihat hewan berbulu putih di depannya. Dengan sekali lihat, ia bisa tahu jika Chiang memang bukan binatang iblis biasa.
Kristal roh yang baru saja dimakan Chiang berasal dari serigala petir. Tentu saja itu adalah binatang iblis yang kuat. Jika Chiang tidak lebih kuat dari binatang iblis itu, maka ia tidak akan bisa menyerah seluruh energi iblis yang ada di kristal roh.
Tapi seberapa besar kekuatan Chiang sebenarnya sehingga bisa menyerap seluruh kristal roh? Potensi Chiang pasti sangat besar. Lin Feili benar-benar mendapatkan harta karun.
Chiang sama sekali bukan binatang iblis biasa.
Memikirkan hal ini, Lin Feili menjadi bahagia. Sepertinya keputusannya untuk membesarkan tiga binatang itu tidak akan sia-sia.
*
Siang berlalu begitu cepat. Sekarang sudah sore dan pelelangan akan segera dimulai. Lin Feili langsung berkemas dan pergi ke pasar.
Saat tiba di pasar, semua orang merasa senang saat melihat Lin Feili. Saat ini, orang paling terkenal di Kekaisaran Aglea adalah Putri Wu.
Sebelumnya ada 3 jenius lain yang populer, yaitu Ye Xuan, Lin Xue, dan Wei Yue. Orang-orang berpikir diantara Lin Xue dan Wei Yue lah yang akan menjadi pasangan Ye Xuan. Namun ternyata, orang yang tidak ada dalam perhitungan mereka lah yang mampu menggeser popularitas mereka bertiga.
Lin Feili telah membuktikan bahwa sampah sekalipun akan tetap berhasil jika bekerja keras. Karena hal ini, Lin Feili mempunyai banyak penggemar.
Penggemar Lin Feili selalu ingin menjadi sepertinya. Jika Lin Feili saja yang dulu selalu dicaci dan dihina sekarang menjadi orang terpuji dan mulia, maka mereka juga bisa melakukannya.
Ketika Pong Wenbin melihat Lin Feili, ia segera menghampirinya, "Lin Feili, akhirnya kau datang."
Lin Feili mengangguk, "Ya. Apakah kalian sudah datang sejak tadi?"
Pong Wenbin menggeleng, "Tidak, kami juga baru sampai."
"Bulan depan aku akan mengikuti tes masuk ke Akademi Bintang Jatuh. Jadi, ayahku mengizinkan ku pergi ke lelang untuk melihat apakah ada barang bagus yang bisa ku bawa," jelas Pong Wenbin lagi.
Setelah memerhatikan sekitar, Lin Feili baru menyadari jika kebanyakan yang datang masih sedikit muda. Mereka pasti mengincar barang-barang bagus di pelelangan yang tidak dijual di toko.
__ADS_1
Orang-orang itu juga tidak bisa tidak melihat Lin Feili. Hari ini ia memakai gaun putih yang menunjukkan keanggunannya. Wajahnya yang mulus dan sempurna dari segala sudut, membuat orang tak dapat melupakannya jika sudah melihat.
"Lihat, ada Lin Feili di sana," ucap seseorang di kerumunan.
"Aku penasaran apakah Lin Feili tetap menolak undangan dari Akademi Bintang Jatuh. Padahal itu adalah kesempatan emas," imbuh yang lainnya.
"Harus ku akui, selera Pangeran Wu memang yang terbaik diantara yang lain. Jika aku tahu sejak awal, maka aku akan datang lebih dulu ke Kediaman Jenderal untuk menikah dengannya," seseorang membahas hal lain.
Kerumunan yang lain setuju dengan kata-katanya. Kebangkitan Lin Feili benar-benar membuktikan jika Kediaman Jenderal bodoh dan buta karena menyia-nyiakannya.
"Putra Mahkota benar-benar rugi besar. Aku dengar, ada masalah pada wajah Wei Yue," ucap seorang pria tersenyum.
"Apa? Apa yang terjadi pada wajah Wei Yue?" kerumunan lain langsung penasaran dengan ucapan pria itu.
Ketika mendengar itu, Ru Wanjing terkekeh dan berbalik badan menatap Pong Wenbin dan Lin Feili. Ia berkata, "Aku dengar wajah Wei Yue sekarang penuh bintik-bintik. Hahaha."
"Benarkah? Bagaimana mungkin wajahnya bisa bermasalah tanpa alasan?" tanya Pong Wenbin yang merasa ini tidak masuk akal.
"Dia adalah wanita sombong dan angkuh. Sebelumnya ia selalu membanggakan diri dan menghina banyak orang. Sekarang ia sudah mendapatkan balasannya. Bahkan ia tak berani keluar rumah," timpal seseorang yang membenci Wei Yue.
Ru Wanjing juga ikut tertawa senang. Akhirnya ia bisa melihat orang yang dia benci jatuh. Sedangkan Lin Feili diam-diam tersenyum tipis dan tidak mengatakan apa-apa.
"Ini adalah pertunangan keduanya. Jika ia gagal lagi ...," Pong Wenbin sedikit kasihan dengan Ye Xuan. Jika ia gagal menikah lagi pasti akan menjadi lelucon di seluruh kekaisaran.
Ia sudah bertunangan dua kali. Jika gagal, maka ia harus mencari wanita lain. Jika ini terjadi, pernikahan Putra Mahkota hanya dianggap main-main.
Mendengar ucapan Pong Wenbin, yang lain langsung melihat ke arah Lin Feili dan menghela napas, "Itu salah Putra Mahkota sendiri karena tidak memiliki mata."
Tidak lama kemudian, Ye Xuan tiba di pasar. Saat ini, ia merasa orang-orang menatapnya dengan aneh. Sebenarnya ia pun memaklumi hal ini.
Dulu ia masih bisa bersikap angkuh. Namun sekarang, ia sudah banyak membuat malu. Di kompetisi, ia tak bisa menjadi yang pertama. Lalu, tunangannya juga membuat masalah.
Ayah dan ibunya sudah berdiskusi apakah akan membatalkan pertunangan atau tidak. Ia merasa semakin tidak berdaya. Nasibnya benar-benar buruk.
Kerumunan yang awalnya berisik pun menjadi sunyi setelah kehadiran Ye Xuan.
__ADS_1
Lin Feili tak memedulikan mereka dan masuk ke aula pelelangan. Aula itu cukup besar dan bisa menampung ratusan orang. Dekorasi yang dibuat sedikit sederhana, tapi tetap menunjukkan kemewahan ruang lelang.
"Kalian tunggu di sini. Aku akan pergi ke ruangan harta," ucap Lin Feili pada Pong Wenbin.
"Untuk apa? Apa kau akan menjual sesuatu?" tanya Pong Wenbin yang agak terkejut.
"Benar," jawab Lin Feili dan tersenyum tipis.
"Walaupun kau bisa menjual benda itu di sini, tapi benda itu tidak akan dijual hari ini karena pelelangan sudah mau dimulai," Pong Wenbin memberi nasehat sesuai yang dia tahu.
"Tidak apa-apa. Aku juga ingin melihat-lihat," jawab Lin Feili santai. Orang pelelangan tidak akan menjual benda itu hari ini jika itu tidak cukup berharga. Namun, jika itu adalah benda luar biasa, maka mereka akan melakukan segala cara agar bisa menjualnya hari ini.
Pong Wenbin dan Ru Wanjing saling pandang melihat kepergian Lin Feili. Mereka mengangkat bahu, tidak mengerti dengan pemikiran Lin Feili.
Lin Feili memasuki ruangan harta dan menemui pria tua berusia 60 tahunan. Ia sedang tertidur sambil menopang dagu dengan tangannya. Kepalanya berkali-kali hampir terjatuh, tapi tidak pernah benar-benar terjatuh ke meja.
"Tuan," ucap Lin Feili sopan.
Namun, suaranya terlalu lembut dan pria tua itu masih tidur. Jadi, Lin Feili sedikit menaikkan nada suaranya, "Tuan!"
Dug!
Pria itu terkejut dan kewalahan sehingga dagunya membentur meja. Ia memegang dagunya yang sakit, "Aduh, siapa yang mengganggu tidurku ini?"
"Tuan, aku datang untuk menjual sesuatu," ucap Lin Feili tersenyum.
Pria tua itu sedikit terkejut melihat Lin Feili. Ia mengucek matanya sebentar dan mencibir, "Gadis kecil, kau begitu cantik. Tapi untuk gadis cantik sepertimu juga tidak pantas mengganggu tidurku!"
Lin Feili menjawab dengan santai, "Tapi, bukankah lebih tidak pantas jika Anda tertidur saat bekerja?"
"Siapa bilang aku tidur? Pria tua ini hanya menutup mata, tapi kau langsung menyimpulkan aku sedang tidur?" sanggah pria tua itu.
"Bukankah barusan Anda sendiri yang bilang jika sedang tidur?" Lin Feili tetap tenang menghadapinya.
Pria tua tak bisa melawan lagi.
__ADS_1