Mengubah Takdir Di Novel Kuno

Mengubah Takdir Di Novel Kuno
Tidak Berprinsip


__ADS_3

"40.000 koin emas!"


Harga semakin melambung tinggi. Bahkan dalam sekejap mata, sekarang harga Pedang Bintang sudah menjadi 50.000 koin emas.


"51.000 koin emas!"


Kali ini Pong Wenbin mulai menawar. Ia tahu, jika menawar dari awal, pasti lebih sulit untuk mendapatkan pedang itu. Karena itu, ia memilih menawar ketika pesaingnya sudah lebih sedikit.


Li Mei yang sejak tadi menonton lelang dengan malas, tiba-tiba merasa bersemangat ketika mendengar tawaran dari ruangan Lin Feili.


Ia tersenyum licik, "Karena kalian berani menyinggung perasaanku, maka akan ku buat kalian membayar dengan mahal!"


"52.000 koin emas!"


Suara Li Mei bergema di aula. Lin Feili mengerutkan kening saat mendengar Li Mei menawar. Senjata Li Mei adalah cambuk, bukan pedang. Jelas sekali ia melakukan ini dengan sengaja.


"53.000 koin emas!"


"54.000 koin emas!"


Tidak peduli bagaimanapun Pong Wenbin menawar, Li Mei akan ikut menawar 1.000 koin emas lebih tinggi.


Pong Wenbin dan Li Mei tidak pernah memiliki masalah. Namun, karena Pong Wenbin berada di pihak Lin Feili, tentu saja ia akan terlibat.


Pong Wenbin mulai emosi melihat sikap Li Mei. Padahal sudah tidak ada lagi pesaing. Jika Li Mei tidak mengganggunya, seharusnya ia bisa mendapatkan pedang itu sejak tadi.


"60.000 koin emas!"


"61.000 koin emas!"


Persaingan ini dilihat oleh banyak orang. Mereka sadar jika Li Mei menaikkan harga dengan sengaja. Apalagi semua orang tahu pertikaiannya dengan Lin Feili.


Namun, cara Li Mei benar-benar keterlaluan dan menjijikkan. Ia menaikkan harga dengan sengaja karena memiliki dendam. Orang seperti itulah yang paling dibenci orang di lelang.


Sedangkan Zhen Fu memperhatikan dengan tenang. Sebagai master lelang, tugasnya memang menjaga harga barang agar tetap naik. Kepada siapapun pedang ini akan terjual nanti, mereka tetap akan untung besar.


"70.000 koin emas!"

__ADS_1


"71.000 koin emas!"


Li Mei terus menaikkan tawaran. Namun, ia sedikit terkejut karena harga pedang itu jauh melebihi harga aslinya, yaitu 50.000 koin emas. Tapi ini membuktikan jika Pong Wenbin benar-benar menginginkan pedang itu.


Mendengar tawaran Li Mei, Pong Wenbin langsung lemas. Hari ini, ia hanya mempersiapkan 70.000 koin emas dan berpikir akan cukup untuk mendapatkan senjata bagus. Namun, Li Mei menghancurkan segalanya.


"Tidak menawar lagi?" tanya Lin Feili.


Pong Wenbin menggeleng dengan lesu, "Uangku hanya 70.000 koin emas."


Wajah Ru Wanjing memerah karena marah. Ia berteriak dengan emosi, "Li Mei ini benar-benar keterlaluan! Tidak tahu malu!"


Li Mei menunggu Pong Wenbin menawar lagi, tapi tidak ada suara dari ruangan Lin Feili. Ia mulai panik. Jika sampai ia memenangkan ini, itu akan melanggar peraturan rumah lelang karena sebenarnya ia tak membutuhkan pedang itu.


"71.000 koin emas satu kali."


"71.000 koin emas dua kali."


Wajah orang-orang dipenuhi ejekan. Mereka tahu hanya Pong Wenbin yang benar-benar menginginkan pedang itu. Jika pedang itu sampai jatuh ke tangan Li Mei, maka ia akan menangisi keserakahannya sendiri."


"72.000 koin emas!" teriak Lin Feili sebelum Zhen Fu sempat menyebutkan tiga kali.


Li Mei menghela napas lega mendengar tawaran Lin Feili. Ia masih sedikit panik jika pedang itu akan benar-benar jatuh ke tangannya tadi.


"Ini ...," Pong Wenbin kebingungan.


"Li Mei menargetkanmu karena aku. Karena dia membuat masalah denganmu, maka aku akan memberikan pedang itu untukmu," ucap Lin Feili tersenyum lembut. Jika Li Mei tak mengganggu Pong Wenbin, pasti masalah pedang sudah selesai sejak tadi. Ia merasa agak bersalah pada Pong Wenbin.


"Tidak, tidak! Ini adalah senjataku. Kau tidak boleh membayarnya," ucap Pong Wenbin menolak.


"Saling memberi antar teman adalah hal yang wajar," jawab Lin Feili santai.


"Tidak! Lebih baik begini, aku meminjam 2.000 koin emas padamu dan akan menggantinya di rumah nanti," tegas Pong Wenbin.


Lin Feili sedikit tertawa melihat Pong Wenbin, "Karena kau sangat bertekad, bagaimana kalau kau hanya membayar 50.000 koin emas padaku, sesuai harga pedang aslinya?"


Pong Wenbin terlihat akan menolak lagi, tapi Lin Feili langsung bicara, "Jika kau masih menolak juga, maka aku akan merasa sangat bersalah."

__ADS_1


Mendengar itu, Pong Wenbin pun mengangguk setuju, "Kalau begitu, terima kasih."


"Itulah yang seharusnya kau bilang sejak tadi," seru Lin Feili tertawa kecil. Namun dalam sekejap, tatapannya langsung berubah dingin.


Li Mei ini memiliki banyak cara untuk menggangunya. Bahkan sekarang ia juga menargetkan teman-temannya. Setelah ini selesai, ia akan membuat Li Mei menerima ganjarannya.


Pelelangan masih berlanjut. Li Mei dan Wang Tao tidak menawar apa-apa lagi. Mereka sudah membuat Pong Wenbin membayar 20.000 koin emas lebih banyak. Jadi, mereka tak akan memberikan celah pada Lin Feili untuk balas dendam.


"Barang selanjutnya sebenarnya untuk wanita. Tameng Kulit Ular adalah rompi pelindung terbaik. Sebagai seorang kultivator, kita pasti akan selalu menghadapi bahaya. Barang ini bisa melindungimu dari keadaan hidup dan mati itu," jelas Zhen Fu.


"Harga dibuka dari 40.000 koin emas. Pelelangan dimulai!" ucap Zhen Fu.


Mata Ru Wanjing berbinar melihat warna rompi itu yang sangat cantik dan berkilau. Ia benar-benar menginginkannya dan langsung menawar, "50.000 koin emas!"


Penonton yang mendengar Ru Wanjing menaikkan harga 10.000 koin emas, langsung paham jika dia sangat menginginkan barang ini.


"51.000 koin emas!" tawar Li Mei.


Mendengar Li Mei menawar, orang-orang langsung menyerah. Mereka tidak ingin membuang-buang uang karena keserakahan Li Mei.


Ketakutan Ru Wanjing langsung terjadi. Li Mei juga akan melawannya. Namun, Ru Wanjing tetap menawar, "65.000 koin emas!"


"66.000 koin emas!" Li Mei begitu bangga bisa menindas orang yang dia inginkan.


Merasa tak tahan lagi melihat sikap menjijikkan Li Mei, Ru Wanjing langsung berteriak, "Li Mei! Kau keterlaluan!"


Li Mei tak menyangka Ru Wanjing akan menyebut namanya terang-terangan. Namun, ia semakin merasa senang dan menjawab dengan tenang, "Aku hanya menawar. Apa salahnya?"


"Jelas-jelas kau hanya ingin mengacau. Semua orang bisa melihatnya," teriak Ru Wanjing.


"Lalu kau bisa apa memangnya?" Li Mei tertawa sinis. Menghadapi Ru Wanjing saja adalah hal kecil untuknya.


Tiba-tiba terdengar perkataan yang sangat menusuk, "Seseorang yang tidak berprinsip tidak akan mau terkalahkan. Kau benar-benar membuktikan kalimat ini."


Wajah Li Mei yang tadinya gembira, langsung cemberut. Orang-orang yang mendengar ini juga tahu jika ini adalah kalimat penghinaan yang sangat cocok untuk Li Mei.


"Kau berani menyebutku tak berprinsip? Lin Feili, kau cari mati!" teriak Li Mei. Kali ini, dia yang tak bisa menahan emosinya.

__ADS_1


__ADS_2