
Setelah keluar dari ruangan VIP, Lin Feili pergi menuju ruang harta. Zhen Tian sudah menunggunya di sana. Yang lebih mengejutkan lagi, ada Zhen Nicheng juga di sana.
"Putri Wu, Anda sudah datang," ucap Zhen Tian dengan ramah.
"Tuan Zhen," jawab Lin Feili dengan hormat.
"Aku tidak menyangka ternyata pil aliran darah adalah buatan Putri Wu," ucap Zhen Nicheng sambil tersenyum.
Tadinya, Zhen Nicheng hanya mengagumi Lin Feili karena ia menikah dengan Wu Yanshi. Sekarang, mengetahui kekuatan, bakat, dan keahlian medisnya, benar-benar membuat Zhen Nicheng mengubah pikirannya tentang Lin Feili. Lin Feili sama sekali tidak sederhana.
Dulu, ia tak tahu tentang Lin Feili sama sekali. Sekarang, sepertinya ia harus lebih memperhatikannya.
"Putri, semua pendapatan penjualan hari ini sudah masuk ke kartu Anda. Anda bisa mengeceknya," ucap Zhen Tian hangat.
"Terima kasih, Tuan. Tapi aku tidak perlu mengeceknya. Aku percaya pada kalian," jawab Lin Feili.
Ia tahu, rumah lelang sebesar ini tak mungkin mau mencuri uang sekecil itu. Lagipula, jika Lin Feili memeriksanya, mungkin tak akan bagus untuk hubungan mereka kedepannya.
Senyum Zhen Tian melebar. Walau umur Lin Feili masih muda, tapi pemikirannya lebih dewasa. Ia kembali berkata, "Putri Wu, ini adalah kartu VIP rumah lelang ini. Kami harap Anda menerimanya."
Zhen Tian mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam elegan. Itu adalah kartu VIP Rumah Lelang Zhen Tian yang juga merupakan kartu koin.
Lin Feili sedikit melebarkan matanya. Jika dilihat, kartu itu tidak sederhana. Hanya dengan menjual 3 pil aliran darah tak akan mungkin membuatnya mendapat kartu VIP dengan mudah.
Dia tahu kartu VIP sangat langka. Bagaimana mereka bisa memberikan padanya begitu saja? Namun, Lin Feili menghargai kebaikan mereka dan menerimanya.
Kartu VIP sangat berharga. Selain akan mendapatkan banyak diskon, komisi yang didapat juga lebih besar.
"Kalau begitu, terima kasih, Tuan Zhen," jawab Lin Feili tersenyum. Setelah itu, ia meninggalkan ruangan.
"Mengapa kau memberikannya kartu VIP?" tanya Zhen Nicheng setelah kepergian Lin Feili. Walau mungkin mereka ingin menjalin hubungan baik dengan ahli pil, tapi menurutnya tidak harus memberikan kartu VIP yang sangat mahal itu.
Zhen Tian tersenyum dan menjawab, "Wanita muda itu tidak biasa. Bakatnya sangat luar biasa. Di masa depan, kita tidak tahu seberapa besar lagi yang akan dia ciptakan. Melihat keahlian medisnya saja sudah cukup untuk membuatnya layak mendapat kartu VIP."
Walau ada beberapa ahli pil di Kekaisaran Aglea, tapi mereka seperti tak tersentuh. Apalagi keahlian medis Lin Feili bisa dibandingkan dengan beberapa master. Hal ini membuatnya memiliki nilai tinggi.
Zhen Nicheng mengangguk setuju, "Aku juga menyukainya. Aku penasaran bagaimana dirinya nanti di masa depan."
*
Lin Feili kembali ke Istana Wu. Sedangkan berita tentang pertarungan hidup dan mati antara Lin Feili dan Li Mei sudah menyebar ke seluruh Kota Kekaisaran.
__ADS_1
"Putri Wu menantang pertarungan hidup dan mati dengan Li Mei?"
"Li Mei sudah berlatih di Akademi Bintang Jatuh selama setahun. Kekuatannya tak perlu diragukan. Apakah Putri Wu tidak berpikir dulu sebelum bicara?"
"Dia sangat sombong."
Orang-orang berdiskusi dengan panas. Pertarungan ini memiliki kesenjangan yang sangat besar. Mereka bisa melihat seberapa besar kerugian yang akan dialami Lin Feili.
Menantang orang yang lebih kuat dari kita bukanlah hal yang bagus. Terkadang kita perlu sadar dengan kekuatan sendiri.
Namun, Lin Feili tidak peduli dengan ucapan orang-orang di luar sana. Ia tetap fokus berlatih di dalam kamarnya.
Lin Feili mengambil pil aliran darah dan menelannya tanpa ragu.
Semakin cepat mengonsumsi pil, maka efeknya akan semakin bagus. Mengonsumsi pil ini tidak hanya bisa meningkatkan kekuatan kultivasi, tapi juga kecepatannya.
Si hitam dan si emas menjaga di luar ruangan ketika Lin Feili memproses pil. Proses peleburan pil di dalam tubuh sangat menyakitkan. Itu karena pil akan mengalir di seluruh darah dan membersihkan kotoran-kotoran yang bisa menghambat kultivasi.
Semakin lama pil melebur di dalam tubuh, semakin banyak kotoran yang berhasil dibuang, maka semakin baik pula kondisi tubuh setelahnya.
Lin Feili mulai merasakan sakit menggerogoti tulang-tulangnya, seolah tak melepaskan sesentipun dari tubuhnya. Wajah yang tadinya segar, sekarang memucat menahan sakit.
"Proses ini tetap saja sangat menyakitkan walaupun aku berada di dunia novel," gumam Lin Feili.
Di dunia nyata, ia pernah meminum pil aliran darah juga. Rasa sakit ini membuatnya de javu. Sensasinya tak bisa ia lupakan.
Si hitam dan si emas kagum melihat Lin Feili. Biasanya, seorang kultivator tak akan bertahan lama ketika menyerap pil aliran darah. Karena itu, jarang sekali orang mendapatkan manfaat yang maksimal dari pil aliran darah.
Mereka tahu betapa sakitnya saat menyerap pil aliran darah. Namun, Lin Feili tidak hanya menahannya, tapi juga tidak mengeluarkan rasa sakit sedikitpun.
"Cincin Horacio memilih tuan yang benar," ucap si hitam.
"Selama bertahun-tahun, cincin itu selalu menolak siapapun yang ingin menjadi tuannya. Sekarang, ia benar-benar memilih tuan yang layak. Menjadi pemilik alat roh bukanlah orang sembarangan," jawab si emas setuju.
"Aku juga berpikir tuanlah yang paling layak menjadi pemilik Cincin Horacio," imbuh si hitam.
"Aku yakin tuan akan menjadi sangat terkenal di benua ini," gumam si hitam dengan mata berbinar.
*
Keesokan harinya.
__ADS_1
Saat membuka mata, tubuh Lin Feili sudah dipenuhi dengan kotoran. Ia pun segera bangkit dan membersihkan diri. Kemudian, ia lanjut makan.
"Tuan, bagaimana hasilnya?" tanya si emas dengan sangat bersemangat.
"Tidak buruk. Aku berhasil menyerap pil itu dengan maksimal," jawab Lin Feili santai. Ia sudah pernah melakukan hal ini sebelumnya. Jadi, ia tidak bingung lagi harus melakukan apa setelahnya.
Setelah menyerap pil itu, tubuhnya terasa lebih ringan sekarang. Walau efeknya tidak terlalu terlihat sekarang, tapi pasti akan lebih bermanfaat di masa depan.
"Tuan, hari ini adalah pertarungan hidup dan mati Anda. Apakah Anda sudah siap?" tanya si hitam sedikit khawatir. Pertarungan ini memiliki resiko yang sangat besar.
Lin Feili tersenyum dan mengelus bulu lembut si hitam, "Tidak perlu khawatir. Li Mei bukan lawanku."
Chiang yang sedang makan di depan Lin Feili berkata dengan malu-malu, "Tuan, aku harap Anda akan menang."
Lin Feili tersenyum hangat. Tiga binatang roh di depannya benar-benar sangat menggemaskan.
Lin Feili memperhatikan Chiang dengan seksama. Dia tidak tahu alasan pastinya. Apakah karena ia tinggal di dalam telur terlalu lama atau dia memang rakus, tapi Chiang juga makan sangat banyak hari ini.
Ia juga melihat tubuh Chiang tumbuh lebih besar. Walau pertumbuhan setiap binatang roh berbeda-beda, tapi Lin Feili berharap Chiang akan segera tumbuh besar sehingga bisa menjadi sayap kanan dan kirinya.
*
Di waktu yang telah ditentukan.
Matahari hampir berada di atas kepala. Saat ini, pertarungan hidup dan mati akan segera dimulai. Para penonton sudah memenuhi sekitar panggung. Semua orang dari penjuru kekaisaran datang untuk meramaikan.
Restoran yang berada di sekeliling panggung juga sudah penuh. Orang-orang ingin menonton pertunjukan itu dengan nyaman sambil makan dan minum.
Ketika Lin Feili naik ke atas panggung, ia bisa merasakan betapa semaraknya pertunjukan ini. Bibirnya melengkung membentuk senyuman.
"Lin Feili, kau datang," ucap Pong Wenbin dan Ru Wanjing berlari menghampirinya. Perasaan mereka campur aduk saat hari ini benar-benar tiba.
"Ya, cepat juga kalian datang," jawab Lin Feili tersenyum.
"Lin Feili, pertarungan belum dimulai dan kau masih bisa menyerah sekarang. Jangan sampai kau mati muda hanya karena tak ingin kehilangan wajah," teriak Ru Wanjing dengan sorot penuh kekhawatiran. Baginya, lebih baik mengalah daripada kehilangan nyawa.
Melihat kekhawatiran di mata Ru Wanjing, ia menepuk bahunya lembut, "Jangan khawatir. Aku tahu batasanku."
"Apakah kau yakin?" tanya Pong Wenbin.
"Tentu saja! Aku bukanlah orang yang mudah dikalahkan!" jawab Lin Feili percaya diri. Baginya, menghadapi anak-anak seperti Li Mei tidak akan sampai membuatnya berkeringat.
__ADS_1