
Lin Xue menonton adegan ini dengan santai. Ia ingin tahu bagaimana Lin Feili akan menghadapi situasi ini.
Namun, Lin Feili menjawab dengan tenang, "Izin menjawab Kaisar. Sebenarnya, Jenderal Lin telah memilih untuk memutuskan semua hubungan keluarga beberapa hari yang lalu. Jika tidak begitu, saya tidak mungkin menikah di tempat lain hari ini."
Sebenarnya, Lin Feili tidak tahu jika Wu Yanshi akan menyelesaikan masalah dengan cara ini. Bahkan melewatkan tahap memberi hormat pada orang tua.
Namun, ini akan tetap menguntungkan untuknya. Ia bisa mengakhiri hubungan keluarga dengan Kediaman Jenderal.
Jawaban Lin Feili membuat wajah Lin Changkong berubah. Para tamu yang menyaksikan juga tercengang.
Ternyata mereka tak memiliki hubungan ayah anak lagi. Jika begini, Lin Feili tidak bersalah. Ia memang seharusnya menikah di Kediaman Feili.
Wajah Lin Changkong memerah karena marah. Berani sekali Lin Feili mengatakan ini di depan Kaisar. Ia menumpahkan semua kesalahan pada Kediaman Jenderal.
Ye Qin Mo yang tidak menduga jawaban Lin Feili akan seperti itu, ia menatap Lin Changkong, "Jenderal Lin, apakah benar yang dikatakan Putri Wu?"
Lin Changkong begitu malu hingga ia tidak bisa menjawab. Ye Qin Mo yang melihat sikap Lin Changkong, ia mengerti bahwa apa yang dikatakan Lin Feili benar.
"Pada hari itu, Pangeran ini melihat sendiri calon putrinya diusir dengan paksa dari Kediaman Jenderal. Jadi, Pangeran ini memberikan Kediaman Feili sebagai hadiah pertunangan," ucap Wu Yanshi tiba-tiba angkat bicara.
Kemudian, ia melanjutkan dengan nada sedikit menghina, "Jenderal Lin, apakah secara tidak langsung Anda mengatakan bahwa Anda tidak puas dengan Pangeran ini karena menjadi menantumu?"
Lin Feili tertawa terbahak-bahak dalam hati. Kemampuan Wu Yanshi memang sangat hebat dalam memutar balikkan fakta, melimpahkan kesalahan pada korban, mencuci bersih tangannya dari tanggung jawab apapun.
Semua orang gempar. Sekarang mereka bisa paham mengapa Wu Yanshi melakukan upacara pernikahan sendiri dan mengabaikan orang-orang di Kediaman Jenderal.
Ye Qin Mo juga merasa tidak senang. Jika Lin Changkong tidak puas dengan Wu Yanshi, artinya ia juga tidak puas dengan Kaisar, karena Kaisar lah yang menganugerahkan pernikahan itu, kan?
Lin Changkong buru-buru membantah pertanyaan Wu Yanshi, "Kaisar, saya hanya mengatakan itu saat marah. Bukan berarti saya tidak puas dengan pernikahan ini."
Ia tak ingin citranya di depan Kaisar menjadi buruk.
Walau Lin Changkong sudah menjelaskan, wajah Kaisar masih datar. Ia melambaikan tangan, "Lanjutkan pernikahan!"
Ritual pernikahan pun dilanjutkan.
*
Setelah acara pernikahan selesai, Lin Feili kembali ke kamar dengan bantuan salah satu pelayan. Setelah pelayan itu mengatakan beberapa hal, ia keluar dari kamar dan meninggalkan Lin Feili sendiri.
__ADS_1
Lin Feili meregangkan tubuhnya dengan santai. Menikah benar-benar sangat melelahkan.
Sedangkan Wu Yanshi masih harus menjamu para tamu di luar. Ia pasti lebih lelah.
"Tuan, Lin Changkong sangat sial hari ini!" ucap si emas sambil tertawa.
"Setidaknya sikap Kaisar akan sedikit berubah pada Lin Changkong karena masalah ini. Pasti Lin Changkong tak akan bergerak sekarang," ucap si hitam tersenyum. Ia selalu khawatir Lin Changkong akan membalas dendam pada Lin Feili.
"Hahaha mulai sekarang kita tidak perlu lagi melihat wajah menjijikkan pria tua itu!" wajah si hitam dan si emas terlihat begitu gembira.
Walau ini hanyalah pernikahan pura-pura, setidaknya Lin Changkong tidak berhak lagi berbicara dengan Lin Feili. Telinga mereka akhirnya tidak akan kepanasan lagi.
Lin Feili tersenyum tipis. Walau ia sudah tahu bahwa dia bukan putri Lin Changkong, ia masih menginginkan keadilan untuk tokoh asli Lin Feili.
"Tuan, begitu banyak makanan enak di atas meja!" ucap si emas. Aroma makanan lezat itu seolah memanggil mereka.
"Makanlah," ucap Lin Feili. Ia dalam suasana hati yang baik saat ini. Lin Feili pengikut makan bersama mereka.
*
Bulan mulai menampakkan dirinya.
Bagaimanapun, yang dia nikahi adalah Lin Feili. Ia pasangan berbeda dari gadis biasa. Ini adalah pesona dari Lin Feili.
Sekarang, Lin Feili bukan lagi calon istrinya, tapi istri sahnya.
"Istriku, aku sudah kembali," ucap Wu Yanshi sambil menghampiri Lin Feili dengan senyum di wajahnya.
Wu Yanshi sepertinya telah banyak minum alkohol. Wajahnya yang tampan memerah seperti sedang mabuk.
Melihat Wu Yanshi yang tetap ingat untuk berpura-pura lumpuh bahkan saat mabuk, Lin Feili begitu kagum. Pria ini memang tidak sederhana.
"Kau pasti lelah," ucap Lin Feili santai.
Wu Yanshi mengerutkan kening, "Hanya itu yang dikatakan istriku?"
"Lalu apa lagi?" tanya Lin Feili menaikkan alis.
Wu Yanshi tersenyum ambigu. Ia menuangkan anggur ke dalam dua gelas dan menyerahkan salah satunya pada Lin Feili, "Semoga kita hidup bahagia bersama sampai rambut kita memutih di usia tua."
__ADS_1
Lin Feili terkejut. Ia tak tahu Wu Yanshi sedang serius atau bercanda.
"Pernikahan ini hanya kerjasama di antara kita. Kau tidak perlu serius tentang hal itu," ucap Lin Feili.
"Istriku, jangan merusak kebahagiaan. Di hari pernikahan pun kamu masih mengatakan hal itu," Wu Yanshi berpura-pura tidak senang.
Lin Feili terlalu malas untuk menghadapi drama Wu Yanshi. Ia mendentingkan gelasnya dan berkata, "Selamat bekerja sama!"
Wu Yanshi tersenyum lebar dan menghabiskan anggurnya dalam satu tegukan, "Dengan gadis cantik yang menemaniku, anggur ini menjadi lebih enak."
"Lin Changkong sudah pergi?" tanya Lin Feili santai.
"Untuk apalagi ia berada di sini setelah kamu menghinanya? Ia beralasan tidak enak badan dan pulang. Cih, aku khawatir sekarang dia benar-benar membenciku," jawab Wu Yanshi.
Lin Feili tertawa kecil, "Kau lah yang memprovokasinya."
"Istriku, jangan mengatakan hal seperti itu. Aku melakukan ini semua untukmu," ucap Wu Yanshi lagi.
Lin Feili mengangkat bahu, tapi dalam hatinya ia tersentuh. Wu Yanshi melakukannya di depan Kaisar. Ia tahu resikonya begitu berat.
Namun, Wu Yanshi masih melakukannya.
Setelah diam beberapa saat, Lin Feili berkata, "Terima kasih."
"Istriku, sekarang kamu adalah Putriku. Jangan bicara begitu formal," ucap Wu Yanshi.
Lalu, ia melanjutkan, "Malam ini rasanya begitu singkat dan akan terlalu sia-sia jika kita hanya bicara. Bukankah lebih baik melakukan sesuatu?"
Suara Wu Yanshi terdengar ambigu.
Wajah Lin Feili memerah. Ia sebenarnya mengerti apa yang harus dilakukan suami istri setelah menikah. Namun, ia buru-buru menjawab, "Ya, sudah malam. Waktunya tidur."
Lin Feili melemparkan dua selimut ke Wu Yanshi, "Karena kau pasti kelelahan, tidurlah di lantai dan istirahatlah dengan baik."
Lin Feili langsung berbalik dan berbaring. Wu Yanshi tak berdaya menatap dua selimut di tangannya. Namun, meskipun begitu, matanya masih memancarkan kebahagiaan.
Melihat Wu Yanshi tak melakukan apa-apa, Lin Feili bisa bernapas lega. Bahkan di kehidupan nyata, ia tak memiliki pengalaman.
Saat ini ia berbaring di ranjang empuk, ia agak sulit tidur. Mungkin karena biasanya ia tidur di ranjang keras di Kediaman Jenderal.
__ADS_1
Atau mungkin karena ada pria di kamarnya.