
"Su Yueru, kau seperti hantu yang memiliki dendam dan tak ingin menyerah," ucap Dai Jia dingin. Ia melihat Su Yueru tak lebih dari hantu karena ia selalu menemukan dia di manapun.
"Dai Jia! Kau panggil aku apa? Hantu pendendam?" tanya Su Yueru dengan suara keras. Ia dan Dai Jia selalu bertengkar sejak dulu. Namun, latar belakang Dai Jia tak dapat dibandingkan dengan Su Yueru.
Tapi, sejak mereka di Kota Bintang Jatuh, latar belakang itu tak lagi penting dan Dai Jia semakin berani padanya.
Antrian yang tadinya tenang, langsung melihat ke arah Dai Jia dan Su Yueru. Dua wanita cantik yang sedang berdebat adalah tontonan menarik.
Pong Wenbin melirik ke arah Lin Feili. Sepertinya teman yang dibawa Lin Feili memiliki dendam pribadi dengan wanita lainnya.
Lin Feili sendiri menatap Su Yueru dengan tidak senang. Ia berkata dengan dingin, "Su Yueru, lebih baik kau tidak membuat masalah lagi."
Su Yueru ketakutan mendengar suara dingin itu. Ia tak bisa melupakan apa yang terjadi di penginapan. Ini pertama kalinya ia kehilangan muka dan Lin Feili yang menyebabkan hal itu.
__ADS_1
Saat ini, Su Yueru hanya bisa menggertakkan gigi. Lin Feili bukanlah lawannya sekarang. Apalagi, ujian akan segera berlangsung. Ia tak bisa kehilangan muka lagi sebelum ujian. Ia akan membalaskan dendamnya di akademi.
Dai Jia tertawa dalam hati melihat adegan ini. Padahal, Lin Feili hanya mengatakan beberapa kata pendek, tapi Su Yueru langsung diam tak berkutik.
Lin Feili mengabaikan Su Yueru dan berbalik badan. Wajahnya yang tadi dingin berubah menjadi lebih lembut, "Semoga kalian berhasil! Aku yakin kalian bisa lulus!"
Pong Wenbin tersenyum mendengar ucapan Lin Feili, "Tentu saja. Aku akan bekerja keras!"
"Feili, ayo berbaris," ajak Dai Jia. Semakin lama, antrian semakin panjang. Jika mereka tidak segera mengantri, maka ujian mereka akan lebih lama lagi.
Su Yueru mencibir Lin Feili. Dia pikir siapa dia tidak perlu mengantri untuk ujian?
"Hahaha, kau benar-benar bodoh. Kau seharusnya tahu kapan harus berhenti menyombongkan diri. Apa kau punya surat undangan jadi tidak mau mengantri? Berpikir sebelum bertindak!" ucap Su Yueru menertawakan Lin Feili.
__ADS_1
Dai Jia balik mencibir Su Yueru, "Aku pikir kau sudah membisu. Ternyata kau masih mau berbicara."
"Lebih baik tutup mulut kotormu itu sebelum kau semakin mempermalukan diri sendiri," ejek Lin Feili. Karena Su Yueru memang ingin mencari masalah, maka ia tak perlu menahan diri.
"Apa yang kau bilang? Mulutku kotor?" bentak Su Yueru.
"Selama ini tidak ada yang berani memberitahumu. Sekarang, aku yang mengatakannya!" sinis Lin Feili.
Kemudian, ia membalikkan tubuh dan berbicara pada Dai Jia, "Jia, kau berbarislah lebih dulu. Kita akan bertemu lagi di akademi."
Dai Jia mengangguk. Walau ia tak tahu pasti mengapa Lin Feili mengatakan itu, tapi ia tahu Lin Feili memang sedikit berbeda dari mereka.
Mungkin Lin Feili memiliki identitas khusus jadi tak perlu berbaris atau dia memang memiliki surat undangan itu.
__ADS_1
"Lin Feili, kau sudah keterlaluan! Katakan, mengapa kau tidak perlu mengantri. Apakah kau memiliki surat undangan? Siapa yang akan percaya hal itu?" teriak Su Yueru agar semua orang mendengarnya karena ia ingin mempermalukan Lin Feili.