Mengubah Takdir Di Novel Kuno

Mengubah Takdir Di Novel Kuno
Pengagum Wu Yanshi


__ADS_3

"Walaupun kedua kaki Pangeran Wu lumpuh, tapi masih banyak wanita di kekaisaran yang menyukainya. Pria dengan ketampanan seperti Pangeran Wu sangat langka," jelas Ru Wanjing.


Kemudian, ia melanjutkan, "Dulu, Kaisar sempat menjodohkan Li Mei dan Pangeran Wu, terutama karena tahu jika Li Mei menyukai Pangeran Wu. Namun, Pangeran Wu menolak. Kaisar juga terus-menerus menjodohkan Pangeran Wu dengan wanita lain, tapi dia selalu menolak. Sampai pada akhirnya tentang perjodohan kalian diusulkan, tidak ada yang menyangka dia menerimanya."


Tidak disangka bahwa Pangeran Wu yang selama ini selalu menolak pernikahan, bahkan menolak tawaran dari Kaisar dengan bijak. Namun, hal itu berubah ketika Wu Yanshi bertemu dengan Lin Feili.


Dia bahkan berani menyinggung Kediaman Jenderal dan memberikan hadiah pertunangan untuk memastikan pernikahan mereka berjalan sempurna. Dari sini, jelas terlihat bahwa Wu Yanshi sangat mencintai Lin Feili.


Bagaimana bisa Li Mei tahan dengan hal ini?


Lin Feili merasa takjub. Ia yakin cerita Ru Wanjing benar, karena ia melihat Pong Wenbin mengangguk. Tampaknya dia dianggap sebelah mata karena popularitas Wu Yanshi. Banyak wanita di Kota Kekaisaran yang kagum padanya.


"Ternyata seperti itu," ucap Lin Feili mengangguk.


"Namun, sekarang Pangeran Wu telah membuktikan kalau pilihannya memang tidak sembarangan," imbuh Ru Wanjing. Dulu dia tidak mengerti mengapa Wu Yanshi memilih sampah seperti Lin Feili. Setelah beberapa kali bersama Lin Feili, akhirnya ia mengerti.


Lin Feili tersenyum tanpa berkata-kata. Dia tidak tahu ternyata Ru Wanjing selalu memperhatikan Wu Yanshi.


Ketika membicarakan tentang Wu Yanshi, mata Lin Feili berubah sedikit. Dia tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang.


Saat melihat katalog lelang di tangannya, Lin Feili menyadari bahwa ada beberapa harta yang menarik perhatiannya.


Ada banyak hal yang dibutuhkan oleh seorang kultivator seperti senjata, bahan obat, teknik kultivasi, dan keterampilan bela diri yang lengkap. Rumah Lelang Zhen sudah siap untuk memenuhi kebutuhan mereka.


Kali ini, Lin Feili datang untuk mencari senjata yang cocok untuk dirinya sendiri, tetapi setelah memeriksa katalog beberapa kali, dia tidak menemukan yang cocok.


Dia tidak ingin mendapatkan senjata yang biasa-biasa saja. Jika tidak ada yang cocok untuknya, maka ia hanya akan menonton hari ini.


Saat Lin Feili hampir menyerah, matanya tiba-tiba terfokus pada halaman terakhir. Di sana ada sebuah pedang dengan pegangan biru yang sangat indah.


Pedang itu dikenal sebagai Pedang Dingin Es.


Pedang itu begitu tajam dan penuh aura dingin yang akan semakin kuat jika dipakai dalam pertarungan. Lin Feili sangat senang akhirnya bisa menemukan senjata yang layak.


Sementara Lin Feili mencari senjata yang cocok, Pong Wenbin dan Ru Wanjing juga melihat-lihat katalog. Mereka berharap perjalanan mereka ke sini tidak sia-sia.


Tiba-tiba, seorang lelaki tua dengan jubah hitam bersulam muncul di atas panggung. Usia lelaki tua itu sekitar 50 tahun. Matanya bersinar dan wajahnya tersenyum ketika dia melihat orang-orang di aula.

__ADS_1


"Terima kasih kepada semua yang hadir di lelang ini meski masih memiliki banyak kesibukan lain. Saya Zhen Fu, master lelang," ucap lelaki tua itu.


Semua orang melihat ke arahnya. Jika master lelang sudah muncul, artinya pelelangan akan segera dimulai.


"Saya akan memulai lelang sekarang tanpa banyak bicara lagi," lanjut lelaki tua itu.


Tepuk tangan yang riuh bergema di ruangan. Pidato pembukaan lelaki tua itu menarik perhatian semua orang.


Ketika lelaki tua itu mengangkat tangan, wanita berbaju merah muncul dan membawa nampan dengan hati-hati ke panggung.


Wanita itu terlihat cantik dan menawan dengan lekuk tubuh yang indah. Banyak pria masih menatap ke arahnya setelah dia meninggalkan panggung.


"Ini adalah barang pertama - Pedang Darah!" ucap lelaki tua sambil mengangkat pedang, menunjukkannya dengan jelas ke para penonton.


"Pedang darah adalah pedang yang berwarna merah karena telah terkena darah. Ini adalah pilihan yang bagus untuk pemberontakan, pembunuhan, atau pertahanan diri. Selain itu, pedang ini sangat ringan, nyaman untuk dibawa, dan langka. Pedang ini merupakan pilihan yang baik," jelas Zhen Fu. Ia semakin menaikkan tangannya agar penonton bisa melihat lebih jelas.


Di bagian pedang yang putih keperakan hanya terlihat secercah merah tua yang merupakan bagian dari Pedang Darah.


Lin Feili, Pong Wenbin, dan Ru Wanjing yang duduk di ruang VIP, bisa melihat pedang tersebut dengan mudah, meskipun berjarak cukup jauh dari panggung.


"Pedang Darah ditawarkan mulai dari 4.000 koin emas. Kenaikan tawaran tidak boleh kurang dari 1.000 koin emas. Lelang dimulai!" ucap Zhen Fu yang langsung membuat ruangan riuh.


"5.000 koin emas!"


"6.000 koin emas!"


Setiap kali ada yang menawar, maka akan ada orang lain yang menawar harga lebih tinggi lagi. Suasana lelang ini benar-benar hidup.


"10.000 koin emas!"


"11.000 koin emas!"


"12.000 koin emas!"


Harga semakin tinggi, bahkan sudah mencapai 12.000 koin emas. Keadaan sudah tidak seriuh tadi.


"Apakah ada yang lebih tinggi lagi dari 12.000 koin emas?" tanya Zhen Fu. Orang di seluruh aula diam. Harga itu benar-benar tinggi. Pemilik pedang pasti untung besar.

__ADS_1


Memang berjualan di lelang adalah pilihan yang tepat karena harga yang didapat bisa lebih tinggi dari di pasaran.


"Baik. Pedang Darah terjual 12.000 koin emas. Selamat kepada pemilik baru," ucap Zhen Fu sambil mengetuk palu.


Wanita berbaju merah yang tadi kembali naik ke atas panggung dan menyerahkan pedang kepada pemenang.


Tepuk tangan kembali bergema. Pria itu menerima pedang sambil menyeringai puas.


"Pantas saja rumah lelang ini sangat terkenal. Barang pertama saja sudah sangat mewah," ucap si hitam merasa takjub dengan cara berpikir manusia.


Lin Feili mengangguk lemah, "Benar. Trik rumah lelang ini sangat bagus."


Harga Pedang Darah di pasaran tidak pernah sampai segitu. Namun, karena mereka membeli di rumah lelang, mereka tidak akan keberatan membayar lebih banyak. Hal ini pasti bisa menaikkan derajat mereka.


Lin Feili yakin, pria itu pasti akan datang lagi ke rumah lelang ini lain kali.


Pelelangan pun dilanjut. Barang demi barang terus disebutkan. Namun, Lin Feili dan teman-temannya belum ada menawar sama sekali.


"Barang selanjutnya - Pedang Bintang," ucap Zhen Fu dan menyingkirkan kain perak yang melapisi pedang itu.


"Pedang ini bisa memotong besi bagaikan memotong kue. Hempasan anginnya saja bisa melukaimu. Ayo, jangan lewatkan kesempatan emas ini!" teriak Zhen Fu heboh.


Pong Wenbin yang sejak tadi diam, tiba-tiba tergerak saat melihat barang kali ini.


Melihat perubahan Pong Wenbin, Lin Feili bertanya, "Kau menginginkan pedang itu?"


Pong Wenbin mengangguk, "Pedang Bintang ini cukup bagus. Karena sebentar lagi aku akan masuk ke Akademi Bintang Jatuh, jadi aku perlu senjata yang bagus."


"Kalau begitu kau harus mendapatkan pedang itu," ucap Ru Wanjing tersenyum.


"Pedang Bintang ditawarkan dengan harga 30.000 koin emas. Kenaikan penawaran tidak boleh kurang dari 1.000 koin emas. Pelelangan di mulai!" ucap Zhen Fu yang langsung membuat penonton heboh.


"31.000 koin emas!"


"32.000 koin emas!"


Para penonton di kursi kelas dua sudah mulai menawar. Sekarang, para penonton di kursi kelas tiga hanya bisa diam dan menonton.

__ADS_1


__ADS_2