
Melihat apa yang baru saja dia dapatkan dari kultivator lain, Lin Feili tahu belum ada yang menemukan harimau sinar bintang.
Sudah dua hari berlalu. Sisa satu hari lagi sebelum acara panahan kekaisaran berakhir. Semua orang sudah sibuk mencari harimau sinar bintang.
Saat ini, Lin Feili mencari tempat yang lebih tenang. Kemudian, ia mulai berkultivasi.
Tenaganya sudah hampir habis karena sejak tadi ia sibuk membunuh binatang iblis. Ia harus segera memulihkan dan meningkatkan kekuatannya.
Sementara Lin Feili berkultivasi, kultivator lain sibuk membicarakan kematian Wu Jiang dan Jia Nan.
"Aku sudah melihat jenazah Wu Jiang dan Jia Nan. Hanya ada luka di tenggorokannya. Yang membunuhnya pasti seorang kultivator juga," ucap seseorang berpendapat.
Kultivator lain yang mendengarnya merasa sangat terkejut. Mereka tahu kekuatan Wu Jiang dan Jia Nan berada di level menengah tingkat udara. Mereka sangat kuat dibandingkan kebanyakan kultivator lain yang ikut dalam kompetisi.
Jika ada orang yang bisa membunuh mereka hanya dengan satu luka di tenggorokan, seberapa kuat orang itu?
"Wu Jiang adalah orang yang sangat sombong dan arogan. Tidak heran jika ia terbunuh karena menyinggung seseorang," ucap salah satu orang.
"Kita harus berhati-hati. Mungkin yang membunuh mereka berdua tidak hanya satu orang. Pasti mereka berkelompok," imbuh yang lainnya.
Mendengar percakapan itu, Pong Wenbin dan Ru Wanjing saling pandang. Pikiran mereka langsung tertuju ke Lin Feili.
Membunuh dengan satu tebasan pedang di bagian tenggorokan, itu adalah cara Lin Feili menghabisi tupai api.
Namun, mereka berdua diam saja. Siapa pun pembunuh itu, itu tidak ada hubungannya dengan mereka. Lagipula Lin Feili menyelamatkan hidup mereka.
Lin Xue yang mendengar berita ini juga sangat terkejut. Ia kenal dengan Wu Jiang dan tahu dengan pasti kekuatannya. Selain ia dan Ye Xuan, bisa dibilang Wu Jiang dan Jia Nan adalah yang terkuat diantara yang lain.
__ADS_1
Apakah mereka mati di tangan Ye Xuan? Atau ada orang lain yang lebih kuat di sini?
*
Walaupun Lin Feili sedang berkultivasi dengan tenang, tapi kesadaran jiwanya tetap utuh. Ia bisa merasakan keadaan hutan malam ini sedikit kacau.
Sepertinya ada yang sudah terjadi.
Raungan dan lolongan binatang iblis malam ini lebih keras dan ramai, seolah-olah ada yang memancing mereka.
Tiba-tiba si emas berbicara, "Tuan, binatang iblis sudah mengepung kita di segala arah. Target mereka adalah kita."
Lin Feili membuka matanya. Ia menyipit dan merasakan sekitarnya. Benar saja, ada bau darah yang pekat di sekelilingnya.
"Serigala petir!" seru Lin Feili.
Lin Feili mengerutkan kening. Ia tak menyangka ada serigala petir di Gunung Hong. Namun, ia bingung. Padahal ia tak pernah memprovokasi mereka. Lalu, mengapa mereka menargetkannya?
Jika para kultivator ditanya binatang iblis apa yang paling ingin mereka hindari, pasti mereka semua akan menjawab serigala petir tanpa ragu.
Kekuatan satu serigala petir saja sudah menakutkan. Apalagi jika mereka sudah membentuk kelompok. Mereka semakin tak terkalahkan.
Jika seorang kultivator bertemu dengan mereka, sudah dipastikan mereka akan mati. Karena itu, tidak mungkin ada yang berani mengganggu serigala petir.
Lin Feili bangkit dari duduknya. Pedang sudah siap di tangannya. Ia memiliki firasat bahwa seseorang sengaja menjebaknya.
"Tuan, terlalu banyak serigala petir yang harus kau lawan. Sebaiknya serahkan saja masalah ini padaku dan si emas," ucap si hitam memberi saran.
__ADS_1
Lin Feili memang lebih kuat dari serigala petir, tapi jumlah mereka terlalu banyak. Jika mereka menyerang sekaligus, Lin Feili tidak bisa bertahan lama.
"Benar, Tuan. Lihat bagaimana aku akan menghabisi binatang-binatang ini," ucap si hitam mengangguk antusias.
"Tidak. Itu tidak akan berhasil. Kalian tidak akan bisa mengalahkan mereka," ucap Lin Feili. Si hitam dan si emas paling pandang. Namun, mereka segera mengerti maksud Lin Feili.
"Ada yang mengawasi kita. Jadi, lebih baik kita tidak mengambil resiko. Aku akan menangani serigala petir sendiri," ucap Lin Feili bertekad.
Jika perhitungannya benar, maka sekelompok serigala petir ini sudah disiapkan sejak lama. Walau ia tidak tahu apa rencana sebenarnya dari pihak lain, tapi ia tidak bisa mengambil resiko untuk keselamatan si hitam dan si emas.
Melihat Lin Feili yang sangat percaya diri, si hitam dan si emas hanya bisa diam, tapi mereka semakin merasa khawatir.
"Auuuuuuu!" serigala petir mulai melolong. Mereka sudah muncul di depan Lin Feili. Mata mereka berkilat tajam melihat Lin Feili.
Lin Feili sudah mereka anggap sebagai makanan. Karena itu, hanya dengan membunuhnya tidak akan menghilangkan rasa lapar mereka.
Namun sebenarnya, Lin Feili sangat tenang saat ini.
Serigala petir bukanlah lawannya. Ia hanya perlu menahan kekuatannya dan jangan sampai membuat kesalahan.
Mata Lin Feili bersinar dingin, terkunci pada serigala petir yang sudah siap untuk menerkamnya. Aura membunuh yang kental memenuhi udara.
"Auuuuuuu!" raja dari serigala petir melolong keras, seolah memberi perintah pada serigala lainnya. Detik berikutnya, semua serigala menyerang Lin Feili.
Kaki Lin Feili melangkah maju, aura misterius menguar dari tubuhnya. Sedangkan serigala petir sudah membuka mulut dan memperlihatkan gigi mereka yang tajam.
Jika Lin Feili jatuh, ia pasti akan langsung digigit.
__ADS_1
Namun, Lin Feili menghindari serangan-serangan serigala itu dengan cepat. Pada saat yang sama, ia mengalirkan energi kultivasi ke pedangnya, langsung menusuk ke bagian vital serigala neraka, yaitu perut.
Lin Feili harus menghemat setiap tetes energi dan membunuh setiap serigala dengan satu serangan. Ia pasti bisa membalikkan keadaan dengan cara ini.