
Li Mei menarik napas dalam-dalam. Ia tak bisa memahami jalan pikiran Lin Feili. Adegan ini jauh berbeda dengan apa yang ia bayangkan.
"Berani sekali kau mengatakan kalau aku membual! Darimana keberanianmu itu? Jangan merasa sombong hanya karena Akademi Bintang Jatuh memberikan sedikit perhatian padamu. Kau pikir kau itu siapa?" bantah Li Mei.
Mata yang awalnya tenang dan bersinar seperti kolam, sekarang dipenuhi aura dingin. Lin Feili mengangkat dagunya sedikit dan tersenyum mengejek dengan sudut mulutnya.
Lin Feili tidak pernah menyukai orang yang mencoba memprovokasinya. Namun, beberapa orang tampaknya sengaja mencoba untuk bertengkar dengannya tanpa alasan yang jelas. Meskipun ia tidak banyak berbicara, bukan berarti ia mudah diintimidasi.
Pong Wenbin dan orang lain dapat merasakan perubahan aura Lin Feili dengan jelas. Dalam waktu singkat, suasana hatinya yang sebelumnya tenang langsung berubah menjadi dingin dan kejam.
"Jika kau benar-benar menjadi sombong karena Akademi Bintang Jatuh memberimu sedikit perhatian, maka jangan salahkan aku menjadi musuhmu. Dasar sampah!" bentak Li Mei tanpa ragu. Ia sudah sangat geram dengan Lin Feili. Sebagai murid Akademi Bintang Jatuh, ia merasa terhina saat ada yang menuduhnya membual.
Lin Feili mengerutkan dahi dan menjawab, "Jika kau bilang aku sampah, lalu kau apa? Sampah sepertiku bisa mendapatkan surat undangan dari Akademi Bintang Jatuh, sedangkan kau? Kau bahkan kesulitan masuk ke akademi itu."
Kemarahan Li Mei sudah diambang batas. Ia tak bisa menahannya lagi dan langsung mengeluarkan sebuah cambuk panjang. Dengan penampilannya yang membara, cambuk itu terlihat sangat serasi dengannya.
Chaks!
Dengan cambuk panjangnya, Li Mei memukul tanah dan menghasilkan suara renyah yang bergema di udara. Retakan terlihat jelas di tempat yang terkena cambuk tersebut, menunjukkan kekuatannya yang besar.
"Akan ku tunjukkan siapa diriku!" teriak Li Mei dengan lantang. Ia tidak akan menahan diri saat akan memukul wajah Lin Feili dengan cambuk.
Setelah menyaksikan adegan tersebut, wajah semua orang berubah. Tidak ada yang mengira bahwa Li Mei akan melakukan hal yang begitu kejam dengan langsung membidik wajah Lin Feili! Jika terkena cambukan tersebut, wajahnya yang cantik dan anggun akan dipenuhi dengan bekas luka yang mengerikan.
Sudut mulut Li Mei membentuk senyuman bangga. Dia ingin melihat betapa sombongnya Lin Feili setelah wajahnya hancur.
__ADS_1
Lin Feili merasa marah. Dia dan Li Mei tidak memiliki hubungan apa pun, tapi Li Mei ingin langsung menghancurkan wajahnya begitu saja! Dia tidak akan menyinggung seseorang jika tidak ada yang menyinggungnya terlebih dahulu.
Jika ada seseorang yang menyinggung perasaannya, maka Lin Feili akan membalasnya dengan 100 kali lipat rasa sakit yang dia alami!
Saat itu tiba, di bawah tatapan terkejut semua orang, Lin Feili menghadapi cambuk dengan berani tanpa menghindar atau bersembunyi. Tidak lama lagi, cambuk itu akan mendarat di wajahnya!
"Lin Feili, menghindarlah!" teriak Pong Wenbin tak bisa menahan diri.
Semuanya terjadi begitu tiba-tiba. Tidak ada yang pernah memikirkan bahwa Li Mei akan benar-benar menyerang tanpa peduli dengan kerumunan orang di sekitarnya. Sebelum mereka sadar, sudah terlambat untuk bereaksi!
Plop!
Semua orang terdiam dan hampir lupa bernapas saat mendengar suara darah menetes ke lantai yang keras dan dingin.
Lin Feili memegang cambuk panjang Li Mei dengan tangan kirinya. Meskipun darah terus mengalir dari jarinya, tapi senyuman cantik masih terpancar di wajahnya yang anggun.
"Menarik!" suara Lin Feili dipenuhi dengan pesona dan tantangan, seolah-olah semuanya hanya lelucon.
Li Mei merasa gugup ketika melihat perilaku aneh Lin Feili. Meskipun ia tidak tahu alasan pastinya, ia merasakan ketakutan yang dalam.
Li Mei tahu seberapa kuat cambuk yang baru saja dia gunakan pada Lin Feili. Namun, ia bingung bagaimana Lin Feili bisa meraih cambuk itu dengan kecepatan yang sangat cepat.
"Melihat kau sangat suka merusak wajah orang lain, mungkin aku harus menunjukkan padamu bagaimana rasanya," ucap Lin Feili menyeringai. Tangannya yang dipenuhi jarum perak langsung menampar wajah Li Mei.
Li Mei dengan cepat menyadari maksud Lin Feili dan berusaha mengayunkan kembali cambuknya untuk menyerang Lin Feili sekali lagi.
__ADS_1
Namun sayangnya, cambuk itu masih berada di tangan Lin Feili dan dicengkeram dengan erat. Lin Feili tidak memberikan kesempatan bagi Li Mei untuk merebut kembali cambuk itu.
Plak!
Suara tamparan terdengar, disertai dengan teriakan keras, membuat semua orang terkejut dan menarik napas dingin. Darah segar terus mengalir dari wajah Li Mei membuatnya terlihat mengerikan.
Tanpa disadari, Li Mei meraih wajahnya yang terluka dan merasakan sakit yang menyengat di kulitnya. Saat melihat darah menempel di tangannya, raut wajahnya berubah menjadi pucat.
"Ahh ... kau ... kau benar-benar merusak wajahku!" teriak Li Mei histeris.
"Karena kau mau menghancurkan wajahku, kenapa aku tak bisa menghancurkan wajahmu?" Lin Feili terlihat biasa saja setelah memukul Li Mei.
"Aku tak pernah mengganggu orang lain. Tapi karena kau yang memulai, jangan salahkan aku jika tidak sopan!" ucap Lin Feili lagi. Wajahnya berubah menjadi dingin dan tatapannya sangat menusuk.
Semua orang terkejut melihat perubahan wajah Lin Feili setelah dia menunjukkan kemampuan dan keberanian yang luar biasa. Meskipun sebelumnya dia dianggap sebagai sampah oleh banyak orang, sekarang mereka tahu bahwa dia adalah jenius dan tidak akan lagi meremehkannya. Bahkan, orang yang memprovokasi dia harus siap menerima kemarahannya.
Kemudian, seorang pria berjubah biru masuk ke dalam ruangan lelang. Dia tersenyum ketika melihat Li Mei. Namun ketika melihat wajahnya, ekspresinya langsung berubah, "Li Mei, apa yang terjadi padamu?"
Saat pria tersebut tiba, Li Mei terlihat lega karena akhirnya ia menemukan seseorang yang bisa menjadi pendukungnya. Dia dengan cepat mulai menangis dan meratap, "Kak Wang, cepat tolong aku!"
Wang Tao juga seorang siswa di Akademi Bintang Jatuh yang menyukai Li Mei. Ketika dia mendengar bahwa Li Mei kembali ke Kota Kekaisaran, dia memutuskan untuk mengikutinya dan kembali ke kota tersebut.
Melihat wanita yang disukai berada dalam masalah, Wang Tao tidak akan tinggal diam. Ia bertanya dengan marah, "Siapa yang menyakiti Li Mei?"
"Aku. Kenapa? Aku kau yang akan membalaskan dendamnya?" ucap Lin Feili tidak takut sedikitpun.
__ADS_1
Wang Tao merasa sangat marah dan meraih tangan Lin Feili. Namun, ketika dia melihat wajah Lin Feili, dia merasa terpesona dan tidak bisa menahan diri untuk tidak terpukau pada kecantikannya.
Dia terkejut melihat betapa cantiknya wanita itu, bahkan lebih cantik dari Li Mei yang selama ini dianggapnya sangat cantik.