
Lin Feili berjalan menuju air terjun dengan mata berbinar cerah. Saat ini, tubuhnya terlalu lemah. Latihan di bawah air terjun akan sedikit sulit.
"Tuan, air terjun ini terlalu besar untukmu sekarang. Kekuatanmu sekarang hampir tidak bisa menampungnya," ucap si hitam mengingatkan.
Lin Feili berpikir sejenak. Berdasarkan pengalamannya, walau bahaya di sini cukup besar, tapi itu tidak akan membunuhnya. Jika pun ia akan terluka, itu biasa terjadi saat latihan.
Lin Feili berjalan di bawah air terjun setelah keputusannya mantap. Suara deras air memenuhi telinganya dan pakaiannya langsung basah kuyup.
Namun, air itu ternyata sedingin es dan wajah Lin Feili menjadi agak pucat karena kedinginan.
"Tuan, kami tidak bisa masuk ke dalam Cincin Horacio!" teriak si hitam saat berjuang di bawah derasnya air.
Lin Feili menggeleng, "Kalian harus meningkatkan kekuatan kalian. Kalian harus berlatih bersamaku."
"Tidak mau Tuan ...," si emas berteriak putus asa. Ia memikirkan bulunya yang sebelumnya cantik dan halus, sekarang lepek dan basah kuyup.
Batuan yang terkikis karena air terjun ikut jatuh dan menekan Lin Feili. Ia hampir tak bisa menahan tekanan air. Batu yang mengenai kepalanya menimbulkan sakit yang luar biasa.
Namun, Lin Feili terus berjuang di bawah air terjun.
Sayangnya, hasilnya tetap sama. Bahkan sebelum Lin Feili bisa berdiri dengan sempurna, tubuhnya langsung dihempaskan oleh tekanan air terjun.
Ia tak menyerah dan bangkit lagi setiap kali jatuh.
Si hitam dan si emas yang awalnya mengeluh karena latihan sulit ini, mereka merasa takjub karena tekad kuat Lin Feili. Ia bahkan tak mengeluarkan sepatah kata pun saat gagal.
Sedangkan mereka hanya bisa mengeluh.
Bibir Lin Feili sudah biru keunguan. Namun, matanya bersinar cerah. Ia tetap menopang tubuhnya dengan tekad kuat. Ia harus menjadi lebih kuat.
Ia tahu jalan cerita novel. Ia tak ingin menjadi tokoh yang mati sia-sia dan tidak dicintai suaminya. Ia tak ingin terus-terusan menjadi sampah yang selalu diinjak-injak.
Demi harga diri dan kemuliaannya, ia harus mengubah takdir!
Berkali-kali jatuh, tapi Lin Feili juga berkali-kali bangkit. Semangatnya tak pudar walau ia belum berhasil sekalipun.
__ADS_1
Ma Zheng yang melihat Lin Feili seperti itu merasa bangga, "Putri benar-benar bertekad. Dia dan Pangeran sangat mirip."
Ma Zheng telah mengikuti Wu Yanshi sejak kecil. Ia yang paling tahu tentang penderitaan yang dialami Wu Yanshi untuk mencapai tahap ini. Ia yang paling tahu Wu Yanshi adalah orang yang begitu bersungguh-sungguh dalam kultivasinya.
Namun, orang-orang hanya melihat betapa hebatnya dia dan tidak tahu betapa sulitnya dia mencapai tahap ini.
Wu Yanshi juga kagum melihat kegigihan Lin Feili. Mereka telah bertemu banyak orang yang latihan kultivasi, tapi tidak ada yang sekeras dia saat berlatih.
Ia teringat dirinya saat melihat Lin Feili. Tekadnya yang tak goyah persis seperti dirinya dahulu.
Mungkin inilah alasan Wu Yanshi tak menyukai wanita lain, tapi malah langsung jatuh cinta pada Lin Feili.
"Pangeran, cedera Putri sudah cukup banyak. Apakah kita akan membantu?" tanya Ma Zheng sedikit khawatir.
"Kalaupun kau membantunya, apa yang bisa kau lakukan?" jawab Wu Yanshi.
Setelah memikirkannya, Ma Zheng juga merasa ucapan itu benar.
"Latihan kultivasi harus mengandalkan diri sendiri. Jika ada yang membantu pun, pada akhirnya tetap diri sendirilah yang harus diandalkan. Apalagi Lin Feili memang ingin berkultivasi sendiri," ucap Wu Yanshi lagi.
Lin Feili belum juga berhenti hingga malam. Tubuhnya sudah terasa kaku. Rasa sakit yang luar biasa mengalir ke seluruh tubuhnya.
Tidak jauh dari air terjun, ada sebuah gua kecil. Sepertinya itu adalah bekas sarang binatang iblis. Sekarang gua itu akan menjadi tempat istirahat yang cocok untuk Lin Feili.
Setelah memasuki gua, Lin Feili memeriksa luka-lukanya.
Kedua bahunya benar-benar pucat karena hantaman air terjun. Tangan dan kakinya biru keunguan karena benturan batu. Darah juga mengalir dari luka-lukanya di beberapa bagian tubuh.
Baru satu hari, tapi luka dan memarnya benar-benar parah.
"Cih, kualitas fisik tubuh ini benar-benar sampah," ucap Lin Feili menghela napas. Butuh waktu lama untuk berkultivasi dengan tubuh seperti ini.
"Istriku," terdengar suara Wu Yanshi dari luar gua.
Lin Feili berjalan menghampirinya. Saat ini tak ada Ma Zheng di sisi Wu Yanshi, "Ada apa?"
__ADS_1
"Ini untukmu. Tubuhmu akan berpuluh kali lipat lebih kuat setelah memakan pil yang ada di dalam sini. Pil ini juga bisa menambah kecepatan kultivasi," ucap Wu Yanshi menyodorkan botol porselen putih.
"Terima kasih banyak," ucap Lin Feili menyembunyikan kebahagiaannya saat menerima botol itu.
"Kalau begitu istirahatlah dengan baik. Jangan terlalu memaksakan diri," imbuh Wu Yanshi. Ia langsung pergi ke gua yang telah ditemukan Ma Zheng tak jauh dari gua Lin Feili.
Jika sesuatu terjadi pada Lin Feili, mereka bisa langsung tahu.
Setelah Wu Yanshi pergi, hati Lin Feili menghangat. Saat ini, hanya Wu Yanshi yang benar-benar peduli padanya. Ia rela datang ke hutan hanya untuk melindunginya. Padahal tinggal di istana jauh lebih nyaman.
Lin Feili pun masuk kembali ke dalam dan membuka botol itu. Ia langsung mengenali pil itu dengan sekali lihat, "Pil Hadiah Langit!"
Walau ini dunia novel, ternyata ada beberapa hal yang mirip dengan dunia nyata. Misalnya cara pengobatan dan pil yang ia pegang sekarang.
Itu adalah pil yang sangat cocok untuk kultivator level rendah. Dibandingkan pil roh, pil ini jauh lebih baik karena bahan yang digunakan juga lebih langka.
Tadinya Lin Feili juga ingin membuat pil itu sendiri.
Namun, Lin Feili kekurangan bahan saat sudah mencarinya di Toko Roh. Akhirnya, ia hanya membuat pil roh.
Ternyata, Wu Yanshi memiliki banyak pil ini!
Lin Feili pun langsung menelan pil itu dan menutup mata untuk konsentrasi. Ia memasuki kondisi kultivasi untuk menyerap khasiat pil itu. Hanya sedikit kultivator yang bisa menyerap khasiat pil secara maksimal.
*
Keesokan harinya.
Lin Feili meninggalkan gua saat matahari belum terbit sempurna. Tubuhnya sudah tidak sesakit sebelumnya. Setelah meminum Pil Hadiah Langit, ia bisa merasakan fisiknya lebih kuat dari sebelumnya.
Matanya menyapu wilayah sekeliling air terjun. Ia tak dapat menemukan jejak Wu Yanshi dan Ma Zheng. Tanpa terus mencari, Lin Feili langsung latihan di bawah air terjun.
Ada dua alasan mengapa ia harus meningkatkan kekuatannya dengan cepat. Pertama, untuk menghapus julukan sampah. Kedua, untuk memenangkan acara panahan kekaisaran karena hadiahnya sangat besar.
Dengan pengalamannya kemarin, akhirnya Lin Feili bisa berdiri di bawah air terjun walau hanya beberapa detik.
__ADS_1
Ia sudah merasa sangat senang karena setidaknya ada kemajuan.