
Walaupun banyak orang yang merasa kasihan melihat Lin Feili dikepung, tapi tak ada satupun yang berani membantunya. Mereka merasa tak cukup kuat untuk melawan geng Zhao Xiaoyao.
Lin Feili melengkungkan bibirnya menjadi senyum dingin. Ia menyeringai dan mulai menghitung mundur, "3!"
Melihat Lin Feili benar-benar menghitung mundur, wajah geng Zhao Xiaoyao menjadi jelek. Ternyata wanita itu ingin mempermalukan mereka.
"2!"
"1!"
"Enyah!" teriak Lin Feili dingin setelah hitungannya berakhir.
Entah kenapa, saat mendengar teriakan Lin Feili, tiba-tiba geng Zhao Xiaoyao merasa ketakutan dalam hati mereka. Ada sesuatu yang tidak bisa mereka jelaskan.
Zhao Xiaoyao juga menyadari hal itu. Cara wanita di depannya mendominasi agak berbeda. Namun, tetap saja Zhao Xiaoyao tak akan menyerah karena ini adalah wilayahnya.
Dengan senyum tak tahu malunya, Zhao Xiaoyao menjulurkan tangannya dan berkata, "Aku tidak akan pergi. Kenapa kau begitu keras? Apa kau ingin dipeluk?"
"Kurang ajar!" bentak Lin Feili dan langsung mencengkram tangan Zhao Xiaoyao. Dengan sedikit amarah, kekuatan rohnya pun juga ikut melonjak.
Hal yang paling dibenci Lin Feili adalah ketika orang-orang yang tidak ingin bekerja, tapi malah merampok dengan memanfaatkan kelemahan wanita dan melecehkannya. Dari wajah Zhao Xiaoyao dan gengnya, Lin Feili tahu ini bukan pertama kalinya geng mereka melakukan hal ini.
"Krak!"
Tanpa basa-basi, Lin Feili langsung mematahkan tangan Zhao Xiaoyao. Darah langsung menetes diikuti teriak keras dari Zhao Xiaoyao.
"Arrggghhh!" kesakitan yang luar biasa langsung merayap ke tubuh Zhao Xiaoyao. Selama ia menjadi perampok, ini aadalah pertama kalinya ia cedera. Ia tak menyangka Lin Feili akan berbuat sejauh ini.
"Sialan! Serang dia!" perintah Zhao Xiaoyao pada gengnya.
Keempat pria lainnya langsung bergerak menyerang. Lin Feili pun dengan cepat menendang Zhao Xiaoyao ke arah empat orang itu.
Empat orang itu juga berada di tahap awal dan itu cukup kuat untuk melawan orang biasa. Namun, di depan kultivator seperti Lin Feili itu bukanlah apa-apa.
Bugh! Brak! Bugh!
Dentuman dan hantaman terus terdengar, diikuti teriakan yang tak kalah kerasnya. Lin Feili memukul dan menendang mereka dengan keras. Kemudian, ia mencampakkan dan menyusun mereka seperti piramida.
__ADS_1
Sekarang, mereka berlima lemah tak berdaya, tak lagi menunjukkan kesombongan seperti sebelumnya.
Orang-orang yang ada di sana semuanya tercengang.
Selama ini, mereka selalu patuh dan tunduk saat geng Zhao Xiaoyao menggertak mereka. Tak ada yang bisa mereka lakukan untuk melawannya. Mereka hanya bisa menanggung penderitaan yang sangat berat itu.
Namun hari ini, tanpa disangka, seorang gadis yang terlihat cantik dan lembut malah berhasil menjatuhkan mereka dengan kejam.
"Enyah!" bentak Lin Feili sekali lagi. Ia melepaskan mereka karena membunuh mereka hanya akan mengotori tangannya.
Mendengar itu, geng Zhao Xiaoyao merasa telah selamat dan segera merangkak pergi. Mereka melihat ke belakang, memastikan Lin Feili tak mengejar mereka.
Serangan Lin Feili benar-benar mematikan.
"Kekuatan saja lemah, tapi masih berani mengganggu Tuan. Mereka sangat kurang ajar," maki si hitam.
Si emas menambahkan, "Benar. Orang-orang seperti mereka hanya berani menggertak yang lemah. Abaikan saja mereka."
Lin Feili hanya tersenyum. Orang seperti mereka tak perlu dia pedulikan.
Saat ini, tiba-tiba seorang wanita paruh baya mendekatinya dan berkata, "Nona, Zhao Xiaoyao memiliki orang yang sangat kuat di belakangnya. Sekarang, setelah kau mengalahkan dia, pasti mereka akan membalas dendam. Lebih baik kau segera pergi."
Lin Feili tak terkejut lagi mendengar hal itu.
Untuk seorang Zhao Xiaoyao yang lemah dan berani melecehkan seorang gadis di siang bolong, dia pasti memiliki latar belakang atau keluarga yang kuat di belakangnya. Jika tidak, tak mungkin ia sangat berani seperti itu.
"Terima kasih semuanya atas peringatannya. Aku akan segera pergi dari sini," jawab Lin Feili tersenyum.
Walau Zhao Xiaoyao bukan masalah untuknya, tapi jika ia tetap berada di sini akan berdampak untuk warga sekitar.
Lin Feili pun segera menaiki kudanya.
Matahari yang hampir terbenam menyinari tubuh putih Lin Feili membuatnya menjadi sedikit kemerahan. Dengan satu hentakan di kudanya, ia akan meninggalkan perbatasan.
*
Hal pertama yang dilakukan Zhao Xiaoyao setelah pulang adalah mengumpulkan sekelompok preman lainnya. Biasanya, ia lah yang menindas orang, bukan orang yang menindas dia.
__ADS_1
Jadi, ia tak akan melepaskannya begitu saja.
Namun, saat ia kembali ke tempat tadi, Lin Feili sudah pergi. Wajahnya langsung muram. Ia bertekad tak akan melepaskan Lin Feili. Ia akan menangkapnya dan menunjukkan kekuatan yang sebenarnya.
Sedangkan Lin Feili terus berjalan. Saat ini, Akademi Bintang Jatuh sudah tak jauh lagi. Jika ia tetap berjalan dengan kecepatan seperti ini, ia akan sampai 7 hari lagi.
Perlahan, malam mulai turun. Pegunungan dan hutan akan selalu menyeramkan saat malam. Apapun bisa terjadi.
Lin Feili menatap lembah besar di hadapannya. Ia sedikit mengerutkan kening dan bergumam, "Tempat ini ...."
Jalanan di depannya di apit oleh ngarai, nyaris tak ada jalan lain yang bisa dilalui. Jika seseorang sudah masuk, maka tak ada cara untuk pergi.
Tempat seperti inilah yang disukai perampok.
"Jika kita ingin melewati tempat ini, pasti tak bisa terhindar dari masalah. Akan banyak perampok di dalam sana," ucap si emas setelah menganalisis.
Lin Feili mengangguk dan menjawab, "Karena kita sudah di sini, kita harus melewatinya atau tak ada hari lain lagi."
Perjalanan di tempat ini bisa untung atau buntung. Jika mereka menemui masalah, tentu saja harus menghadapinya tak peduli apakah itu siang atau malam.
"Tuan, ada dua monster hebat di sampingmu. Jangan khawatir dengan perampok atau apapun itu. Kami pasti akan melindungimu," ucap si hitam sambil membusungkan dadanya bangga.
Lin Feili tersenyum. Walau ia belum melihat kekuatan asli mereka, tapi Lin Feili tahu kalau mereka sangat kuat.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan bergantung pada kalian," jawab Lin Feili terkekeh.
"Tidak masalah," ucap dua binatang bulat itu sambil terkekeh juga.
Tak! Tik! Tuk!
Suara hentakan kuda terdengar sangat jelas di keheningan malam. Namun tiba-tiba, di kejauhan seratus meter, Lin Feili mendengar suara berisik. Ia pun segera membawa kudanya mendekat untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Dua pria berkuda sedang menghadapi segerombolan perampok di depan mereka yang menghalangi jalan. Pemimpin perampok berteriak, "Serahkan semua uang dan harta kalian maka aku akan melepaskan kalian!"
Pemimpin perampok itu berbinar melihat dua pria di depannya memakai jubah bordir mewah. Ia tahu kalau mereka berdua pasti memiliki banyak harta.
"Kau pikir bisa merampok kami hanya karena kau membawa segerombolan itu?" ucap sebuah suara dengan tawa yang ringan. Walau ia dikelilingi perampok, tapi ia tak takut sedikitpun.
__ADS_1
Pria itu menggunakan jubah berbordir putih. Wajahnya terlihat cerdas. Matanya berkedip anggun memesona.