
Hani menggigit jari kukunya. Menghela napas berat gadis itu jongkok, sambil menatap suaminya yang saat ini tengah mengangkat kedua kopernya ke punggung.
"Lama amat si om!" pekiknya.
"Oh ya. Saya lupa, om kan udah tua."
Hani terkekeh melirik Ayan yang tetap sabar dengan hinaannya.
"Om perluh bantuan gak?" tanyanya.
Ayan mendongak. Dengan peluh yang sedari tadi membanjiri seluruh tubuhnya. Pria itu mengangkat kedua sudut bibirnya kemudian mengulas senyuman hangat.
"Tidak perluh Falia, kamu duluan saja," ujar Ayan lembut.
"Cih, mau di bantuin juga sok nolak!" sarkas Hani. Bangkit gadis itu berlari menaiki tangga.
Brak!
Ayan menjatuhkan pelan kedua koper Hani ke lantai. Merogoh kantung celanannya pria itu mengambil kartu untuk membuka pintu apartementnya.
"Om jangan kuat-kuat jatuhin koper saya. Banyak benda penting ini di dalamnya," kata Hani sambil mengelus-elus kedua kopernya.
Ayan tersenyum kecil, pandangannya fokus pada kartu yang ada di tangannya.
"Maaf," ucapnya.
Suara muncul saat Ayan menempelkan kartu berbentuk petak kecil itu ke dekat pintu.
Hani hanya terdiam saat melihatnya.
Orang kaya? Batinnya.
"Ayo masuk Falia," ujarnya mempersilahkan.
Hani yang tadinya sedang melamun. Gadis itu langsung tersentak kemudian kembali menatap Ayan yang tengah tersenyum ke arahnya.
"Bawaain koper saya ya om, jangan lupa!" tegasnya sambil melangkah masuk ke dalam apartement, tanpa mengucapkan salam.
"Assalamuallaikum," tutur Ayan.
Membuat Hani langsung menghentikan langka kakinya. Memutar tubuhnya, gadis itu nyengir."Waalaikumsallam," balasnya.
Lagi-lagi Ayan menghela napas, melangkah masuk sambil menggandeng kedua koper di tangan kanan dan kirinya.
Manik Hani membulat dengan sempurna, mulutnya terbuka sangat lebar menikmati isi rumah Ayan dengan perasaan nyaman.
Indah dan sangat bersih, semua barang tersusun dengan rapi membuat Hani gemas untuk mengotori rumah Ayan mulai dari sekarang.
"Wah ...."
"Ada apa?" tanya Ayan melihat tingkah aneh istrinya.
Hani menutup mulutnya kembali, menggeleng pelan gadis itu berlari menghampiri Ayan.
__ADS_1
Ayan menyatuhkan kedua alisnya. Menatap Hani yang saat ini menatap wajahnya dengan intens.
"Ada apa Falia?" tanyanya sambil menyerong kepalanya ke belakang.
"Apa ini alasan bokap, nyokap gue. Jodohi gue dengan om?"
"Maksud kamu?" tanya Ayan tidak mengerti.
Hani kembali menegakkan tubuhnya. Meyeringai gadis itu mulai berjalan mengelilingi Ayan.
"Wah boleh juga," ucapnya sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Boleh apa?" Ayan semakin tidak mengerti dengan pemikiran istrinya ini. Baru masuk ke dalam rumahnya sekarang langsung menilai dirinya dari atas sampai bawah.
"Ok suami om," Hani tersenyum sambil mengacungkan satu jempol tangannya, ke dekat wajah Ayan."Om lulus soal uang," ucapnya.
Hani kembali berjalan, gadis itu mengamati barang-barang di rumah Ayan. Mulai dari guci, penghargaan yang sering Ayan terima. Sampai photo-photo Ayan yang terpampang jelas di dinding.
...****...
Setelah selesai menyusun pakaian Hani, pria itu langsung turun ke bawah untuk menyiapkan makan malam.
Tersenyum lebar pria itu berjalan menghampiri Hani yang tengah menonton bola sambil memakan cemilan di atas meja.
"Bangsat! Dari tadi cuma dapat scor 2. Gimana sih?!" teriak Hani sambil melemparkan bantal sofa ke belakang.
Bhuk!
Ayan memejamkan matanya saat bantal kecil yang baru saja Hani lempar tepat mengenai wajahnya.
Meletakan bantal kecil di samping Hani, pria itu pun juga ikut duduk di sampingnya. Menatap wajah Hani yang saat ini tengah serius menatap layar Tv di depannya.
"Tau kok. Saya cantik!" sela Hani, memutar kepalanya ke arah Ayan. Gadis itu menatap Ayan yang saat ini tengah berpura-pura membaca buku.
Tersenyum miring, gadis itu mendekati Ayan. Menatap Ayan dengan kedua tangan memperbaiki buku Ayan yang tadinya terbalik.
"Kalau mau baca itu di tengok-tengok dulu om. Kan malu jadinya!" seru Hani. Gadis itu kembali menatap tv di depannya.
Ayan meringis, memukul pelan kepalanya. Pria itu merutuki dirinya sendiri.
"Om saya lapar! Masakin dong!" ucapnya memerintah.
"Jangan lupa masak yang banyak!" seru Hani melihat pria di sampingnya itu mulai beranjak pergi untuk menyiapkan sarapan untuknya.
1 jam setelahnya. Bau harum mulai menusuk indra penciuman Hani. Gadis itu yang tadinya lagi tiduran di sofa pun langsung berlari ke arah dapur. Menghampiri Ayan yang sedang memasak banyak makanan untuknya.
Ada soto, gulai ayam dan masih banyak lagi.
Dalam hati Hani bertanya, bagimana bisa ada seorang pria se-sempurna suaminya sekarang?
Selain sabar teryata Ayan juga pandai memasak.
"Om sejak kapan bisa masak?" tanya Hani yang mulai penasaran dengan pria di depannya ini.
__ADS_1
"Emm ... sejak sudah lama." jawab Ayan.
"Ya, lamanya berapa lama?!" tanya Hani yang mulai kesal.
"Sejak masa militer ... semua tentara harus bisa masak," ujarnya menjelaskan,"Falia bantu saya ambilkan mangkok di samping kamu," titah Ayan sambil menunjuk mangkok berwarna putih di samping Hani.
Hani tersentak kemudian melirik mangkok di sampingnya, meraihnya kemudian memberikannya kepada Ayan.
"Terima kasih," ucap Ayan yang di angguki Hani.
"Om, saya gak bisa masak!"
Ayan tersenyum, berjalan ke arah meja pria itu berkata,"Saya tau," ujarnya.
"Gak kecewa?" tanya Hani sambil mengikuti Ayan.
"Kenapa kecewa?" Ayan bertanya balik. Tersenyum pria itu menarik kursi mempersilahkan Hani untuk duduk,"Ayo duduk," ujarnya lembut.
"Kenapa om tetap mau nikahi saya? Walau om tau saya ini banyak sekali kekurangannya?" tanya Hani ia semakin penasaran dengan Ayan.
"Lalu. Apa gunanya saya?" Jeda.
Ayan menepuk kursi yang sudah ia persilahkan untuk Hani. Mengisyaratkan gadis di depannya itu untuk segera duduk.
Hani menghela napas cukup panjang lalu menduduk-kan bokongnya ke kursi yang sudah Ayan persilahkan untuknya.
"Om kan tau dari awal saya ini bukan gadis sempurna kayak yang lainnya," lirih Hani.
"Lalu gadis yang sempurna itu seperti apa?" tanya Ayan. Membuat Hani bingung untuk mendefenisikan jawaban yang sudah terpikir untuk dia jawab.
"Falia, kamu itu sudah sempurna dan tujuan saya menikah dengan kamu adalah. Untuk membuat kamu lebih sempurna dimata saya dan juga dimata Allah,"
"Jadi belum terlambat untuk kamu berubah," sambungnya.
Hani terdiam entah kenapa, kata-kata Ayan membuatnya merinding.
Kata berubah seolah ucapan yang sangat menyeramkan untuknya.
Bagimana bisa gadis seperti dirinya.
bisa berubah?
"Emm ... om saya laper." ucapnya untuk mengubah topik pembicaraan yang membuat dirinya canggung untuk melanjutkannya.
"Oh ya, maaf saya terlalu banyak berbicara," Ayan meraih piring di sampingnya.
Mengambil nasi berserta lauk pauknya kemudian ia berikan kepada Hani.
"Makan yang banyak," ucapnya. Yang diangguki Hani.
"Om juga makan," balas Hani.
Ayan tersenyum sambil mengelus puncak kepala Hani.
__ADS_1
"Iya terima kasih,"