
Hallo semuanya, cerita ini btw ada lanjutannya tapi versi anaknya Ayan sama Hani. kalau mau diup disini nanti aku up deh. Jujur kaget karna pas liat cerita MON tiba2 meledak banyak yang baca karena kemarin pas udah tamatin cerita ini sempet dihapus apknya selama setahun😚 uh terharu pas login lagi rame.
kalau misal ada aja ni yang komen mau aku up deh🤤
****
1 tahun sejak pernikahan kedua Hani dan Ayan. Dan seperti yang kalian tebak, gadis tomboi yang dulunya sangat membenci pernikahannya. Kini gadis itu akan menjadi seorang ibu dari bayi yang bejenis kelamin perempuan.
Tidak bisa dibayangkan, sebahagia apa Ayan? Pria itu yang sudah genap berkepala empat. Akhirnya dia menjadi seorang Ayah. Peristiwa ini adalah moment paling meneggangkan sekaligus membahagiakan baginya.
Sebentar lagi Ayan akan menjadi seorang ayah. Apalagi yang pria itu harapkan? Kini keluarganya telah sempurna dengan hadirnya Liyuna. Nama bayi perempuannya.
Sebulan sebelum melahirkan, Ayan dan Hani memutuskan akan memberi nama anak mereka dengan nama Liyuna Anna.
Tidak ada arti khusus, hanya mereka menyukai nama itu.
Dan kini, ketika pemilik nama itu lahir.
Sungguh betapa bahagianya Ayan dan Hani. Untungnya saat kejadian itu Ayan berada dirumah. Jadi Ayan bisa melihat langsung proses lahiran Hani. Alhamdulillah wanita itu normal saat melahirkan. Hanya membutuhkan waktu hampir 3 jam untuk lahiran.
"Bayinya perempuan Bu," Hani yang masih dalam keadaan lemas menatap nanar wajah mungil putrinya.
"Kenapa bayi saya tidak menangis sus?"
Benar juga, waktu proses lahiran anaknya itu tidak menangis.
kenapa?
Memikirkan itu Hani buru-buru bangkit, walaupun tubuhnya terlihat sangat lemah.
"Bayi anda sehat, tidak perlu khawatir ... Tidak semua bayi menangis ketika lahir," jelas Dokter yang menangani proses lahiran Hani.
Menatap wajah anaknya yang masih belumuran darah dengan intens. Hani menghembuskan napas lega saat mulut anaknya itu bergerak.
Tapi kenapa anaknya tidak menangis ketika lahir?
"Apakah bayi saya baik-baik saja?" tanya Hani memastikan.
Dokter tersebut mengangguk,"Saya sudah memeriksanya ... Bayi anda sehat."
"Bisakah saya menggendongnya?"
"Maaf, tapi kami akan membersihkan bayi anda dulu." jelas dokter tersebut.
"Baiklah, tapi saya boleh minta tolong?" Dokter itu mengangguk."panggilkan suami saya,"
"Jangan terlalu khawatir, saya akan menjaga putri anda."
Hani menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih banyak Dok," ujar Hani.
Setelah itu dokter dan juga suster yang sedang menggedong bayinya pergi.
Usai kepergian mereka, tak lama Ayan masuk ke dalam ruangannya.
Tentunya dengan wajah sedih bercampur senang.
Pria itu juga bingung harus bereaksi seperti apa.
Satu sisi dia senang Hani melahirkan dalam keadaan sehat. Tapi disisi lain, Ayan merasa sedih melihat Hani yang berjuang demi melahirkan anak mereka.
"Kenapa diam di depan pintu Ayan?" tanya Hani.
Pria itu tersentak, sambil menepis airmatanya. dia berjalan mendekati istrinya yang sedang berbaring diatas bad hospital, wajah istrinya begitu pucat.
Apakah Hani benar baik-baik saja?
"Maafkan aku Hani, dan terima kasih karena memberikan hadiah dengan gelar Papa. Aku sangat bahagia ...." Ayan duduk dikursi yang ada disamping bad hospital Hani. Tangannya mengenggam tangan istrinya, dan bibirnya tak henti mengecupi punggung tangan Hani hingga berulang-ulang.
"Liyu sudah hadir Ayan," kata Hani sambil meneteskan airmatanya.
Sama seperti Ayan yang bahagia atas kelahiran anak mereka. Hani juga begitu, selama sembilan bulan dia selalu menunggu putrinya itu datang ke dunia. Kemudian memanggilnya Mama.
__ADS_1
Saling tatap mata, keduanya tersenyum sumringah.
Mulai sekarang mereka resmi menjadi orangtua.
Brak!
"Kak Ayan!"
"Komandan!"
Hani dan Ayan terbelalak kaget. Melihat Bara dan Keno yang tiba-tiba datang dengan membanting pintu segalah.
"Bayinya gimana?" tanya Keno. Pria itu masuk ke dalam kemudian menatap Hani.
"Lu gak papa kan Hany?"
"Gue gak papa."
"Lah bayinya dimana?" tanya Bara.
Ayan baru sadar Bara ikut bersama dengan Keno.
"Kamu kenapa datang ke sini?" tanya Ayan.
Bara berdehem sekali.
"Mau mastiin calon istri gue baik-baik aja,"
Ayan melototkan kedua bola matanya.
"Bercanda pak komandan." Bara mengangkat kedua tanganmu ke atas.
"Gak usah panggil saya komandan, lagian saya sudah tidak memiliki gelar itu," ujar Ayan.
"Dan tarik kata-kata kamu itu, calon istri? Jangan bercanda!"
Bara terkekeh,"Seneng banget bikin lo marah Yan,"
"Tidak ada kerjaan lain? selalu saja bikin saya marah. Makanya cepat nikah sana!"
Jika kalian ingat, Bara adalah teman Ayan waktu dia masih jadi tentara.
Dan karakter Bara ini selalu bikin Ayan marah. Dan tak hentinya membuat Ayan berdosa karena selalu saja emosi dibuatnya.
Dibandingkan dengan Ayan. Bara lebih muda, tapi kenapa bicara kasar? Ya memang seperti itu ... apalagi sama Ayan tidak ada hormatnya.
Seharusnya dia memanggil Ayan itu kakak. Atau Abang. Karena perbedaan umur mereka berjarak 12 tahun. Ayan 40 tahun dan Bara 28 tahun.
Lalu kenapa kita membicarakan Bara sekarang?
Bara kan tidak penting karakternya?
Ya karakternya mulai penting saat pria itu mengatakan ...
"Yan, anak lu kalau udah gede jadi bini gue dah. Ucul banget!" kata Bara sambil menggendong Liyuna yang masih bayi. Tadinya sih gak mau nangis tapi pas didalam gendongan Bara. Bayi itu tiba-tiba menangis.
"Udah gak waras lo?!"
Itu saat Liyuna baru lahir.
Saat itu juga Bara yang dulunya jarang main ke rumah Ayan. Seketika rajin datang dengan alasan silaturahmi semata.
Bara hanya menyukai Liyuna.
Niatnya cuma main-main saja. Tidak berharap kalau Liyuna itu beneran akan jadi istrinya. Tidak, Bara cukup tau diri aja.
Mungkin saat Liyuna besar, Bara sudah bau tanah. Alias sudah tua. Mana mungkin lah Liyuna mau dengannya yang sudah tua.
Tidak-tidak.
"Yuna, kalau udah gede jadi bini Om Bara ya ...." bisik Bara.
Liyuna yang berumur 5 tahun hanya menganggukan kepalanya. Anak kecil itu senang, setiap Bara datang pasti dia selalu diberi mainan yang mahal-mahal.
__ADS_1
"Iya Om."
Dengan senyuman sumringahnya pria itu mengelus puncak kepala Liyuna.
"Hempas tangan kamu dari kepala anak saya!"
"Anjir! Dedemit!" keget Bara spontan melepaskan tangannya.
"Papa ... papa ...." melihat papanya, Liyuna segera berlari kearah Ayan.
"Hehe ...." Bara menggaruk alisnya.
Suasana jadi canggung.
Bara mengumpat.
Sialan.
"Bara kamu tau, Liyuna masih sangat kecil. Cukup saya saja merusak ibunya karena menikahinya diusianya yang masih muda. Jangan ulangi dan segera buang jauh-jauh pemikiran kamu."
Bara menyentuh pinggiran keningnya. Senyumnya terlihat sedih.
"Ayan gue cuma suka sama anak lo. Bukan berarti gue mau nikahi ... nggak, gue juga sadar diri lah."
"Bagus lah, saya pegang kata-kata kamu barusan."
Bara menganggukan kepalanya.
"Gue boleh gendong Liyuna gak?"
"Buat apa?"
"Gue mau pergi tugas untuk beberapa tahun ...."
"Lo kan tau gue tentara,"
"Baiklah,"
Mendengar itu Bara segera menggendong Liyuna.
Menatap kemudian tersenyum ke arah Liyuna.
"Yuna kalau udah besar jangan bandel ya, harus setia orangnya. Walau nanti waktu om Bara pulang kamu udah gak inget lagi. Tapi jangan lupain kalau om Bara selalu ada buat Liyuna." bisik Bara. Sepelan mungkin agar Ayan nantinya tidak akan mendengarnya."jangan lupa Yuna calon istri om Bara. Udah ditempa waktu didalam perut,"
Setelah mengatakan itu, Bara memutuskan kembali memberikan Yuna. Tapi anehnya, Yuna tidak mau turun dari gendongannya.
"Yuna, ayo sama papa!"
"Mamau!" (gak mau)
Mendengar itu, Bara tertawa.
Sepertinya Takdir berkata kalau Yuna adalah calon pendamping yang telah disiapkan oleh Tuhan untuknya.
Menurut kalian gimana? Akankah Bara dan Yuna bersatu walau perbedaan umur mereka?
......
Part nantinya.
"Om, ayo kita nikah!"
"Siapa?"
"Aku Liyu. Om kan yang udah tempa aku waktu masih didalam kandungan? Ayo kita nikah!"
"Eh????"
"Dia siapa Bar?" (Tunangannya Bara)
"Kenalin aku Liyu, istrinya om Bara!"
"Siapa?!"
__ADS_1
"Istrinya Om Bara!"