
Bel pulang sekolah berdering. Tentu saja bersamaan dengan suara bel, semua murid langsung heboh mau pulang.
Sama seperti Roby yang langsung berlari keluar padahal biasanya minimal cowok itu selalu nunggu Liyuna selesai kemas peralatan sekolah. Terus nantinya mereka bakal pergi ke kelas Dimas untuk nongkrong sebelum akhirnya mereka pulang bersama.
tapi kali ini?
Liyuna yang melihat itu langsung geleng kepala.
sempat manggil juga gak kedengaran, Roby udah jauh aja.
Dan ternyata Roby langsung pergi ke tempat Lesnya.
untuk bertemu dengan Yuri, eh ralat. Maksudnya belajar.
Roby yang biasanya harus dikawal sama mamanya dulu hanya untuk Les.
eh sekarang tanpa diperintah anak itu dengan semangat pergi ke tempat lesnya.
ya walau sebenernya bukan untuk belajar juga. Tapi untuk menggoda Yuri.
"Masih sepi njir, kayaknya gue gercep banget dah. Sialan! Tau tadi boker dulu disekolah."
Roby menggaruk tenguk lehernya yang tiba-tiba gatal.
Sambil meringis.
Roby yang dari tadi nahan sesuatu didalam perutnya, langsung otw ke toilet.
15 menit kemudian setelah siap boker, eh kalian tau boker kan? Gak tau? Bab tau kan? Gak tau juga? Kalau Buang air besar tau kan?
anggap aja kalian tau.
lupakan, setelah boker.
Roby pun keluar dengan perasaan lega.
mau balik ke kelas.
eh dia denger suara tangisan.
gak mbak kunti kan?
Sudah lah, ini hanya perasaan Roby aja. Mungkin karena ia penakut.
takut sama hal yang berbau mistik, eh maksudnya mistis.
Jadi cowok itu merasa kalau dirinya mendengar suara seperti orang menangis.
Sekali, Roby abaikan. Tapi pas Roby bener-bener mau keluar, suaranya makin jelas.
Roby jadi merinding dan langsung liat kanan kiri sebelum pergi.
Awalnya Roby cuma jalan pelan, tapi karena suaranya semakin jelas cowok itu pun langsung lari terbirit-birit.
sambil ngumpat.
"Njir! Demi Alex Gue gak ngapa-ngapa tapi mikir mbak kun kalau suka, jangan sama gue yang gantengnya udah ngelewati Raja kingkong arab, please jangan jatuhkan martabat gue sebagai cowok jantan, gue gak takut. Cuma takut doang,"
Sambil terus mengumpat Roby yang sangat ketakutan berlari menuju kelasnya.
kalau ditanya apakah Roby masih menggunakan seragam sekolahnya? Jawabannya tidak.
sebelum pergi ke tempat lesnya.
Roby berganti pakaian dulu, ditoilet sekolah.
mau boker disana, tapi takut kalau ketinggalan kelas. Alhasil Roby nahan sampai tiba ditempat les.
Dan sekarang, sehabis boker Roby mendengar suara tangisan.
Yang dimana Roby langsung berpikir kalau suara itu berasal dari mbak kunti.
untung udah siap boker kan, kalau gak? Apa gak boker dicelana si Roby?
Dan sesampainya dikelas.
lumayan kelasnya udah mulai penuh.
Tapi disana masih belum ada Yuri.
untung lah, Roby yang tadinya memasang ekspresi ketakutan.
Dengan cepat ekspresinya berubah.
Kemejanya ia perbaiki biar lebih rapi.
rambutnya ia miringkan biar terlihat seperti anak yang rajin.
Setelah merasa percaya diri.
Roby dengan perlahan masuk ke dalam kelas.
Bersamaan dengan itu, semua orang yang ada dikelas langsung melirik Roby.
"Pip, pip buaya masuk ... pip buaya masuk!"
Roby yang mendengar itu langsung melirik tajam ke sumber suara.
yang dilirik sadar diri dan langsung mematikan sound musik yang ada ditiktok.
__ADS_1
"Maaf, cuma sound."
Roby memutar bola matanya malas kemudian masuk ke dalam kelas dengan cepat.
Walaupun dirinya memang buaya, tapi Roby gak terima aja gitu ada orang yang manggil dia itu ...
"Buaya,"
"Gue pites mulut lu ngatain gue buaya!" ancam Roby kepada Danis, cowok yang baru aja nyapa dia.
Gak cuma disekolah, Roby juga terkenal fakboi ditempat lesnya.
mantan dan pacarnya aja berteman.
kadang Roby suka lupa ngenalin mana mantan mana pacar.
Semunya sama aja.
Danis yang mendengar ancaman Roby angkat tangan.
"Sans broo, tapi lo kan emang buaya. Target lo kali ini Yuri? Bener kan?"
"Gak usah nanya, kalau ujung-ujungnya lo mintak ditabok."
"Haha ... seperti biasa selerah lo tinggi. Sinta gimana?"
"Sinta siape?"
"Pacar lo bego, anak sebelah."
"Emang ada cewek gue namanya Santa?"
"Sinta, banggong!"
"Nah iya, Santi. Emang gue ada pacaran sama dia?"
"Sinta Rob, buka Santi!"
"Terserah lah, mulut gue juga. Lupain! Jawab pertanyaan gue tadi!"
"Baru kemarin lo jadian sama si Sinta, masak lo lupa?"
Sambil nyengir kuda Roby berkata.
"Cewek gue banyak, mungkin karena itu."
"Cih, gitu dipanggil buaya gak terima?"
"Ya kan gue manusia, ganteng gini disamain sama buaya."
"Terserah,"
"Eh tapi Yuri kok gak keliatan ya?"
"Serius?" tanya Roby nyolot.
"Yoi, tadi pas gue tanya katanya mau ke toilet."
Toilet?
Jangan bilang yang nangis tadi itu?
"Gue duluan yak!" izin Roby.
"Kemana?" tanya Danis.
"Kebelet!" balas Roby lalu berlari keluar pintu kelas.
kemudian ia pun masuk ke dalam toilet cewek untuk mencari Yuri.
dan benar saja ia menukan Yuri sedang menangis.
"Lo gak papa?"
Yuri yang melihat itu langsung mengencangkan suara tangisnya.
"Hiks ... kuku palsu Yuri copot, terus sekarang rusak ...." kata Yuri sambil terisak-isak.
"Pasal kuku lo nangis?"
"Ih kamu mah, ini kuku palsu kesayangan Yuri ... hiks,"
sambil geleng kepala, Roby masuk ke dalam toilet lalu jongkok didepan Yuri.
"Nanti diperbaiki kuku palsunya, jangan nangis ya, kan sayang air mata kamu terbuang sia-sia."
Si buaya mulai ambil kesempatan.
dengan gercep cowok itu menyentuh pipi Yuri kemudian tersenyum.
Yes, omi roiko impleset yes! kayaknya Yuri udah masuk ke dalam sarang.
"Udah ya jangan nangis lagi, " lanjutnya kemudian memeluk Yuri.
Yuri pun berhenti menangis.
...****...
"Sialan si Roby, biasanya dia ikut nongkrong dikamar lu terus kita main Pubg. Eh tuh anak malah?"
__ADS_1
Liyuna melirik Dimas yang asik membaca buku.
sejak tadi dirinya bicara sendiri. Dan Dimas malah asik sama bukunya.
tanpa perduliin dirinya yang sejak tadi cerita panjang kali lebar.
Payah emang kalau ngomong sama tembok.
"Dim lo dengerin gue gak?"
Sambil membalik lembaran halaman dibukunya.
Dimas berkata,"Denger."
"Emang gue ngomong apa dari tadi?"
"Om Bara ...." Dimas kembali membalik lembar halaman bukunya,"Roby."
"Itu doang?"
Dimas menganggukan kepalanya.
Liyuna mengeraskan rahangnya, bantal guling yang ada dipelukannya itu langsung ia lempar ke arah Dimas yang sedang duduk dikursi belajar.
Tapi karena kekencangan, bantal guling itu terlempar ke arah pintu kamar yang secara kebetulan terbuka.
bersamaan dengan pintu yang dibuka.
bantal itu pun terlempar dan berhasil menghantam wajah Keno yang masih guanteng walau udah tua.
Dimas sedikit tersenyum.
Liyuna langsung memasang ekspresi kaget.
"Kalian lagi asik ya berdua? Om ganggu?" tanya Keno sembari memungut bantal guling yang ada di lantai.
pria itu pun masuk ke dalam.
Liyuna langsung menyambut kedatangan Keno.
"Gak kok om, dari tadi Dimas yang asik sendiri sama bukunya. Sampe Liyuna dicuekin!"
"Sabar ya Liyu, dia emang gak asik. Heran padahal om dulu gak segitu cintanya sama buku."
"Om memang paling the best!" sahut Liyu sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Keno tersenyum.
kemudian ia ingat pasal kenapa dirinya ada disini.
"Dimas, kamu lagi gak ada kerjaan kan?"
Dimas menghela napas.
"Bisa anter jam tangan om Bara gak?"
Dimas langsung menutup bukunya.
"Pa, ada Liyuna!" kata Dimas berbisik.
Keno yang tadinya lupa seketika melirik Liyuna.
benar saja. Liyuna kini menatapnya dengan mata berbinar.
"Om Liyu jual jasa gratis mulai sekarang, Dimas sibuk hari ini, kalau om mau Liyu bisa bantu anter kok. Tenang barangnya akan cepat melesat ke om Bara. Ya om?"
Dimas dan Keno saling tukar pandang.
sekarang bagaimana?
"Gak usah, lo dirumah aja. Gue yang anter!" kilah Dimas sekalian memberi perintah agar Liyuna dirumah saja.
tapi bukan Liyuna namanya kalau langsung menyerah.
gadis itu pun memohon kepada Keno.
"Yaudah, tapi Dimas ikut sama kamu."
"Iya om, makasih."
"Papa!" sela Dimas yang tidak suka dengan keputusan papanya.
"Jaga Liyuna ya, papa masih ada kerjaan." pamit Keno kemudian pergi.
"Yey ketemu om Bara!" jerit Liyuna kesenengan.
"Lo dirumah aja!" tegas Dimas.
"Gamao!" sahut Liyuna sewot.
"Dirumah!" tegas Dimas lagi.
"Gak mao!" sahut Liyuna sambil mencibirkan bibirnya ke samping.
"Awas lo bikin masalah disana!" kata Dimas memperingati.
"Lo bisa percaya sama gue kok," balas Liyuna sembari tersenyum lebar.
"Perasan gue mendadak jadi gak tenang, awas aja kalau sampe tuh anak bikin masalah!"
__ADS_1
"Awas lo kalau sampe bikin masalah!"
"Iya Dimas."