Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
S2 Part 2


__ADS_3

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ...."  kepalanya menoleh ke arah kanan, tiga detik kemudian menolah ke arah kiri sambil mengucapkan salam.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ...."


Pria itu menengadahkan tanganmu sampai batas dada.


Dan dibelakang pria itu ada dua sosok wanita dengan mukena menutupi seluruh tubuhnya juga ikut menengadahkan tangannya.


Dan mereka berdoa bersama.


Hingga akhirnya mereka bertiga selesai melaksanakan kewajiban mereka sebagai seorang muslim.


Ketiganya tersenyum.


Wanita yang berada tepat dibelakang pria itu mengulurkan tangannya, matanya dengan teduh menatap lengkungan indah yang tercetak jelas dari sudut bibir suaminya.


"Masya Allah bidadari-bidadari syurgaku ...." ucap pria itu dengan manik mulai berkaca-kaca.


Melihat istri dan anaknya selalu menaati perintah Allah.


Tersenyum wanita itu mencium punggung tangan suaminya lama.


Hingga membuat sang putri mengeluh karena terlalu lama menunggu.


"Gantian dong Ma salimnya," ujar gadis itu.


Membuat mama dan Papanya terkekeh.


Detik itu juga mereka memeluk putrinya.


"Kami bangga memiliki sosok pria seperti kamu ...." lirih wanita itu usai memeluk suaminya.


"Falia ...." panggilnya lembut.


Dan ya sosok pria itu adalah Ayan. Pria sabar yang akhirnya bisa merubah sosok Hani menjadi wanita yang baik dimatanya dan dimata Allah.


Subhanallah ....


"Aku juga bangga memiliki istri seperti kamu, terima kasih telah memberikan ku sosok putri seperti Liyuna,"


Orang yang dibicarakan itu menatap mama dan papanya sambil menopang dagunya.


Matanya bergerak ke kanan dan ke kiri.


Baper liat orang pacaran?


Liyuna menggelengkan kepalanya.


Baper liat orangtua sendiri selalu mesra?


Liyuna mengganggukan kepalanya.


"Ma, pa ...."


Hani dan Ayan menoleh ke arah putri mereka.


"Iya sayang?" sahut mereka serempak.


Liyuna mengatupkan kedua tangannya,"Tolong kasihani lah nasib kami para jomblo ini, jangan bikin aku dan pembaca baper terus."


Ayan dan Hani saling tatap. Sedetik setelahnya mereka tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


Bukannya intropeksi, eh malah tambah bikin Liyuna tercengang melihat orangtuanya pelukan.


Ya allah maapken Liyu yang juga pengen diuwuin gitu ... Tapi masih takut dosa, mau nikah muda. Calon suami masih berkelana entah kemana ... Hikss.


"Tau ah sebel!" ucap Liyuna lalu bangkit dari duduknya. Kemudian membuka mukena dan kembali memakai hijabnya.


Menatap orangtuanya sinis, Liyuna menghela napas hingga akhirnya gadis itu pergi dari ruang sholat ke ruang tamu untuk menemui seseorang.


Dan sesampainya diruang tamu.


Liyuna melihat ada Dimas. Sambil berjalan ke arah Dimas, Liyuna bertanya.


"Dimas lo udah cari informasi orang yang gue suruh kan?"


Dimas yang tadinya sedang membaca buku, sebentar dia melirik Liyuna kemudian berdehem.


"Hem ...."


Mendengar itu ekspresi Liyuna langsung ceria.


"Gimana-gimana?"


Liyuna ikut duduk disamping Dimas.


"Ya gitu," balas Dimas cuek.


Liyuna yang tadinya lagi senang, mendadak moodnya jadi buruk.


"Jelasin sedetail mungkin."


Dimas menutup bukunya. Sedetik setelahnya cowok itu menghela napas.


"Mager," katanya dengan nada malas.


Liyuna langsung memukul bahu Dimas.


"Kasih tau gak!"


Dimas menunjukan ekspresi tidak sukanya. Lalu mengelus bahunya yang terasa perih. Parah emang, gak jauh beda sama emaknya waktu masih muda.


"Kasih tau gak! Buruan!"


Dimas menghela napas berat.


"Minggu depan,"


Kening Liyuna langsung berkerut. Gadis itu gak ngerti sama yang Dimas omongi. Minggu depan apanya?


"Maksud lo?"

__ADS_1


Dimas menatap Liyuna malas.


"Balik."


"Hah?"


Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu dengan ekspresi kesal.


"Tuh orang minggu depan balik!"


"Oh minggu depan bal- Hah?!" Liyuna yang tadinya lagi ngangguk-ngangguki kepala seketika terkejut.


"Lo serius? Suami gue bakal balik minggu depan?"


Dimas menampilkan ekspresi jijik.


"Entah," Dimas kembali membaca bukunya.


Mendengar itu Liyuna langsung mengambil buku Dimas kemudian melemparkannya ke sembarang tempat.


"Yang bener mana sih? Padahal gue udah seneng banget!"


Dimas menghela napas lagi.


"Terserah lo! Gue malas ngomong ... Gak mood." usai Mengatakan itu Dimas bangkit kemudian berjalan untuk memungut bukunya.


Liyuna dengan ekspresi kesal dia melempar bantal sofa ke punggung adiknya.


"Awas lo gue Aduhi ke om Keno!" ancam Liyuna menakut-nakuti Dimas.


Usai memungut bukunya, Dimas kembali duduk disamping  Liyuna sambil bergumam.


"Menyebalkan."


"Apa lo barusan ngatain gue apaan? Gak sopan sama kakak!"


Dimas menatap dingin Liyuna.


"Inget gue lebih tua dari lo."


Liyuna langsung bungkam.


"Cuma beberapa minggu doang!" kilah Liyuna kembali berbicara.


Dimas menggelengkan kepalanya.


"Ayo dong cerita tentang suami gue, gimana tugasnya jadi tentara ... Terus, kapan dia nikahi gue?"


Dimas memutar bola matanya malas mendengar itu.


Suami? Nikah?


"Lo..."


Liyuna menghadap ke arah Dimas.


"Iya ... Iya ...." sahutnya antusias, senyumnya pun ikut mengembang.


setelah mendengar itu senyum Liyuna pun perlahan menghilang.


Digantikan oleh ekspresi Wajahnya yang terlihat sedang marah.


Benar saja, dalam hitungan detik kedua tangannya itu sudah memukul mukuli punggung Dimas.


Ayan dan Hani yang baru saja keluar dari ruang sholat. Tertawa melihat Liyuna dan Dimas.


Tak terima dipukuli, Dimas meletakan bukunya di Atas meja. Lalu mengambil bantal sofa kemudian memukulkannya ke badan Liyuna.


Begitu juga Liyuna yang ikut memukul dengan menggunakan bantal sofa.


Dan akhirnya mereka berakhir menjadi perang bantal.


Hani dan Ayan menggeleng-gelengkan kepala mereka.


Melihat tingkah Liyuna dan juga Dimas.


******


Pria berseragam loreng-loreng itu menatap layar ponselnya sambil tersenyum malu-malu.


Kedua bola matanya berbinar ketika mengamati wajah Cantik milik gadis yang dulu selalu ia inginkan sebagai istrinya kelak.


padahal dulu ia hanya bermain-main saja, eh gak sadar jadi beneran suka dan pengen jadiin gadis itu sebagai istrinya.


astaga Bara ini. Padahal umurnya sudah mau kepala empat.


pria itu juga sudah bertunangan hanya pertunangannya itu dilakukan dengan keluarga sebagai saksi.


Dipikirnya pernikahannya akan berbeda dari komandan yang selalu ia goda.


Ternyata kata perjodohan masih berlaku bagi keluarganya yang bisa dibilang cukup penting.


menghela napas panjang. Tiba-tiba perasaan rindu itu hadir, dimana kata rindu itu sangat membuatnya frustasi.


Ini karma ya? Dulu sewaktu Ayan menikah dengan Hani. Ia selalu menggoda temannya itu dengan kata istri muda.


Tapi bukan berarti ia mau nikah sama gadis yang muda juga.


dulu sih gak ada pikiran begitu. Tapi melihat wajah imut Liyu yang baru lahir, entah kenapa Bara merasa bisa melihat jodohnya telah hadir.


"Bar, kamu udah siap-siap kan?"


tersentak saat ada orang mengajaknya berbicara, Bara spontan mematikan ponselnya.


kemudian menoleh dan mendapati ada Nana dibelakangnya.


"Seharunya lo gak usah repot-repot jemput gue!" sinis Bara kepada tunangannya.


Nana menggulum bibir bawahnya.


"Tapi mama kamu yang suruh aku buat jemput,"

__ADS_1


Bara bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan mendahului Nana.


"Lain kali lo gak usah sok jadi menantu yang penurut!"  kata Bara sebelum akhirnya pergi dan menghilang dari pintu kamarnya.


Mendengar itu hati Nana menjadi sakit. Selama dua bulan sejak wanita itu mengenal Bara, awalnya Nana kira pria yang akan menikah dengannya itu memiliki sifat yang ceria dan baik tentunya.


tapi ....


Nana duduk ditempat Bara tadi. Kemudian menangis sambil menutup wajahnya.


apa yang harus Nana lakuin? Biar calon suaminya itu membalas perasaannya. Nana lelah diperlakuin seperti orang asing oleh calon suaminya sendiri.


kenapa Bara selalu bersikap dingin dan acuh hanya kepadanya?


apa karena Bara mencintai wanita lain?


"Hiks ... hiks ...." tangisnya, membuat maskara itu luntur dan membuat pinggiran kelopak matanya menghintam.


...****...


"Dim, lo gak boong kan?" tanya Liyu yang membuntuti Dimas dari belakang.


"Suami gue beneran hari ini pulang kan?"


Dimas mendengus sebal. Ini sungguh memuakkan, kenapa gadis ini konyol sekali? Suami apaan?


"Gue gak tau."


Liyu berhenti melangkah. Dengan ekspresi kesal, ia menatap punggung Dimas kemudian meleparkan tas punggung ke arah Dimas.


Dimas yang merasakan kalau ada hawa menyeramkan langsung menatap ke bawah, kebetulan tali sepatunya lepas membuat pria itu langsung jongkok.


dan membuat tas itu terus melayang kemudian berhenti saat tas itu mengenai wajah seorang pria paru baya bertubuh buntal dan juga memakai kaca mata.


"Mati," cicit Liyuna lalu segera menunjuk Dimas yang sedang berjongkok.


"Siapa yang melakukan perbuatan tidak senonoh ini?" tanya pria itu.


dan melihat ada dua murid didepannya itu.


sambil nyengir kuda Liyu menunjuk Dimas.


Pria itu menggelengkan kepalanya kemudian memungut tas milik Liyu.


berjalan santai lalu mendekat ke arah Liyu.


"Kamu kira bisa bohongi bapak? Dimas itu murid yang berprestasi, memiliki nilai yang udah di luar nalar murid-murid disekolah ini. Wajah tampan, terus anak pemilik donasi sekolah. Baik dan tidak sombong, selalu menaati peraturan sekolah dan tidak pernah bolos sekolah! Lalu murid seperti ini kamu tuduh sebagai pelaku kejahatan yang tidak bisa dimaafkan ini?"


glek ...


Liyu menelan salivanya dengan susah payah.


Dimas yang mendengar itu hanya tersenyum miring. Setelah itu berdiri saat sudah selesai memperbaiki tali sepatunya, dengan santai ia pun pergi meninggalkan Liyu yang walau ia tidak melihat bagaimana ekspresi saudaranya itu, pasti Liyu saat ini sedang menghujatnya dalam hati.


lagian itu hukuman karena udah fitnah dirinya sebagai pelaku kejahatan yang si pelempar tas.


"Adik gak ada akhlak!" maki Liyuna sambil menatap tajam punggung Dimas dari kejauhan.


"Sebagai hukumannya, kamu ikut bapak!" printah pria itu. Pria ini adalah guru Killer, sebut saja namanya Yadi.


Liyu dengan eskpresi sedih mengikuti gurunya itu dari belakang. Bersiap-siap menerima hukumannya.


Padahal masih pagi juga, hari ini juga ada ulangan harian. Eh dia malah dapat hukuman karena kesal dengan kelakuan Dimas.


bagaimana ini?


"Pak hari ini Liyu ada ulangan harian, maaf tapi apa gak bisa hukumannya dipending dulu?"


"Bisa kok," kata Yadi berhenti melangkah kemudian menatap muridnya itu yang sedang kesenangan dikira bisa terbebas dari hukuman.


"Beneran pak?" tanya Liyu kegirangan.


sambil tersenyum dipaksakan Yadi menganggukan kepala.


melihat itu Liyu segera mengambil tasnya kemudian berniat ingin pergi.


tapi Yadi menahan Liyu dengan cara menarik kera seragam sekolah muridnya itu.


"Boleh kalau kamu mau nerima hukuman itu menjadi 100 kali lipat, gimana?"


Mendengar itu Liyu membulatkan matanya.


100 kali lipat?


"Emang hukumannya apa ya pak?" cicit Liyu sambil menelan salivanya.


Yadi menyeringai mengingat hukuman apa yang akan ia berikan nanti.


"Sesuatu yang biasa kamu lakukan,"


glek ...


ini tidak bisa, Liyu pasti akan mati ditempat kalau menerima hukumannya.


"Baiklah pak,"


"Baik apa?"


"Liyu gak jadi pamit,"


"Keputusan yang bagus, ayo cepat!" kata Yadi lalu mengajak Liyu kembali.


Meringis, sambil memasang eskpresi sedih Liyu kembali membuntuti gurunya.


"Awas lo Dim. Gue bakal aduin ini ke om Keno!" teriak Liyu dalam hati.


Selesai ....


:) semoga kalian suka sama ceritanya.


yang judulnya adalah ... ada yang mau kasih saran🤧

__ADS_1


__ADS_2